Lompat ke isi utama

Website dan Aplikasi Aksesibel, Tuntutan Difabel kepada Developer Teknologi

Solider.id, Malang - Difabel pada era sekarang telah banyak dibekali dengan kecanggihan teknologi yang mempermudah aktivitas  dalam kehidupan sehari-hari. kemudahan yang dirasakan hari ini merupakan sebuah loncatan keberhasilan teknologi dalam rangka mempermudah kehidupan manusia.

 Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat terus secara konsisten menyediakan tempat bagi inovasi serta terobosan inovatif yang nantinya mampu meningkatkan produktivitas warganya, baik itu teknologi digital yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri.

Selayaknya manfaat bagi individu kebanyakan, kelompok difabel sebagai lapisan minoritas di masyarakat juga ikut mendapatkan cipratan keuntungan dari semakin praktis dan instan segala sesuatu di era global ini. Ketika akan melakukan mobilitas keluar, difabel dapat dengan mudah memesan transportasi berbasis aplikasi seperti layanan Grab, Gojek, ataupun Uber. Ingin melaksanakan aktivitas perbankan, difabel dapat dengan mudah mengaksesnya melalui aplikasi resmi dari bank yang ada di Indonesia seperti aplikasi banking BCA, BRI, BNI, dan lainnya. ingin memesan barang atau kamar hotel juga dapat difabel lakukan melalui aplikasi seperti Tokopedia dan Traveloka. atau ketika difabel perlu meningkatkan produktivitas via konsumsi berita dapat mengakses layanan berita berbasis online dari Detik.com, Kompas, BBC, dan masih banyak lainnya corong berita dalam bentuk digital. intinya, segala jenis kegiatan yang dulunya dilakukan secara konvensional oleh difabel kini dapat dilakukan secara instan, independen, dan dengan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan fase sebelum internet menjadi begitu masif.

 Implikasi ini tidak serta merta membuat seluruh jenis teknologi digital mampu secara penuh dinikmati oleh kaum difabel. Akses difabel terhadap layanan yang ditawarkan suatu perangkat lunak dalam sebuah perangkat gadget sangatlah tergantung dari seberapa besar aplikasi tersebut menganut nilai-nilai aksesibelitas dalam kerangka aplikasi.

 Perhatian developer aplikasi yang maksimal akan aspek-aspek aksesibelitas dalam proses perancangan dan pengembangan aplikasi akan dapat menciptakan layanan digital yang mampu digunakan oleh semua pihak tanpa terkecuali. Fundamental inilah kemudian yang dikenal dengan Iistilah Universal Design.

Interpretasi lebih lanjut dari konsep ini terjawantahkan ke dalam bentuk App Accessibility dan Web Accessibility pada suatu laman website atau perangkat lunak dalam rangka menghadirkan tampilan antar muka aplikasi yang mampu diakses oleh kelompok difabel. Penerapan prinsip aksesibilitas apliksi dan website ini masih sanat minim dilapangan.

Rendahnya pengaplikasian prinsip aksesibilitas ini berpotensi besar menghambat produktivitas dan kemandirian difabel mengoperasikan aplikasi tersebut secara penuh. Hasilnya kemudian apa? difabel tidak dapat menikmati fitur integral dari sebuah aplikasi, perangkat lunak, serta laman web hanya karena pihak developer tidak mengetahui cara mengintegrasikan kebutuhan spesifik difabel pada layanan yang mereka berikan. Ambil contoh difabel netra, dalam kesehariannya, yang membutuhkan program pembaca layar (Screen Reader) untuk membantu mereka mengoperasikan perangkat komputer maupun smartphone. Screen reader ini nantinya berfungsi mengkonversi segala jenis perintah di layar gadget ke dalam output suara. sehingga individu dengan gangguan penglihatan dapat memanfaatkan output suara tersebut untuk mengakses segala jenis fitur di sebuah perangkat gadget.

Permasalahan utama yang muncul kemudian adalah masih banyaknya antar muka aplikasi smartphone maupun komputer sekarang ini tidak mengimplementasikan prinsip aksesibilitas. Mulai dari antar muka yang tidak dapat terbaca oleh screen reader, sebagian atau keseluruhan fitur aplikasi yang belum ramah screen reader, hingga banyaknya konten aplikasi berbentuk visual tanpa adanya deskripsi  kerap menjadi hambatan utama bagi difabel  netra dalam mengakses suatu aplikasi secara optimal. Lihat saja jasa transportasi berbasis aplikasi macam Gojek dan Grab yang tersedia di Indonesia. saat tulisan ini dibuat, pengguna screen reader di perangkat IOS masih kesulitan dalam bernavigasi di antar muka aplikasi Gojek, baik dalam menggunakan jasa antar jemput, pengiriman makanan, dan beberapa fitur lainnya. sebaliknya, meskipun pengguna screen reader di perangkat Android masih dapat mengakses konten utama aplikasi Grab dan Gojek secara lancar, masih terdapat kemudian fitur dan menu lainnya dari aplikasi tersebut yang belum dapat terjamah oleh program screen reader secara menyeluruh.

Tidak hanya bagi kelompok difabel netra, kurangnya implementasi Web Accessibility dan App Accessibility Ini juga berdampak bagi difabel lainnya. individu dengan gangguan motorik misalnya akan sering menemui kesulitan untuk mengeksekusi perintah dalam suatu aplikasi atau laman situs internet secara manual, sehingga aksesibilitas berupa perintah suara seyogyanya juga disediakan dalam rangka mengakomodir kebutuhan mereka. Sama halnya dengan menghadirkan penyesuaian bagi pelanggan yang berbeda-beda untuk tujuan komersial, melakukan modifikasi tertentu sesuai dengan asas aksesibilitas juga diperlukan untuk menunjang kebutuhan difabel yang beragam ini.

Aktualisasi aksesibilitas teknologi yang lemah di lapangan ini bersifat sangat multidimensional bagi difabel. Ketidakmampuan difabel dalam memanfaatkan penuh suatu layanan aplikasi akan berimplikasi pada rendahnya produktivitas difabel tersebut secara multi sektoral. Peluang dan kesempatan potensial kerap kali bertebaran memanfaatkan perantara aplikasi internet, sehingga acapkali dampaknya bisa secara ekonomi, sosial, bahkan budaya.    

Developer aplikasi tentunya memegang peranan vital dalam ekosistem ini. advokasi harus terus digalakkan dalam menyadarkan moralitas para developer untuk mulai menerapkan unsur aksesibilitas dalam antar muka aplikasi. Bahwa hanya dengan inilah kesetaraan akses teknologi informasi dapat ditegakkan bagi semua pihak, termasuk kelompok difabel di dalamnya.

Selain itu pemerintah sebagai pusat regulator kebijakan juga tidak boleh tinggal diam. Usaha untuk menjamin hak akses yang setara dan proporsional merupakan kewajiban negara sebagai pelaksana pemerintahan. Begitu juga halnya dengan penerapan regulasi yang dapat mendorong komunitas developer aplikasi Android, IOS, Windows, serta mungkin platform lainnya untuk mulai menanamkan prinsip aksesibilitas pada tubuh aplikasi buatan mereka. Dalam kasus Indonesia, ini telah termuat dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Salah satu hak mendasar tersebut adalah hak untuk berekspresi, berkomunikasi, dan mendapatkan informasi. Sehingga penyedian atas aplikasi yang ramah difabel, antar muka layanan digital yang inklusif, laman web yang sesuai dengan semangat dari konsep Universal Design adalah harus menjadi intrepretasi kongkret hukum tersebut di lapangan.

Terlepas dari kemudian adanya eksistensi hukum negara, yang mana sebetulnya belum spesifik mengatur berkenaan dengan implementasi Web Accessibility dan App Accessibility bagi kelompok difabel, sudah menjadi kewajiban sepatutnya bagi difabel di era milenial ini untuk selalu konsisten mengadvokasi isu aksesibilitas dalam area web maupun ranah aplikasi digital.

Upaya mainstreaming Isu ini  secara konstan serta berkelanjutan ke publik dan komunitas developer akan lambat laun menyadarkan para pengembang aplikasi smartphone ataupun komputer dalam segala jenis platform yang tersedia saat ini, bahwa sebenarnya terdapat segmentasi masyarakat yang harus diakomodasi kebutuhan dan kepentingannya dalam memberikan pelayanan berbasis teknologi kepada masyarakat luas.[]

 

Penulis: Made Wikandana

Editor   : Ajiwan Arief    

The subscriber's email address.