Lompat ke isi utama
ilustrasi agama islam

Peran agama dalam isu difabel psikososial

Solider.id, Banjarnegara – Seorang eks difabel psikososial anggota Forum Komunikasi Difabel Banjarnegara, Hartini, pernah bercerita bahwa sedikit banyak ia membaik dari kondisi difabilitas psikososial karena peran agama.

“Saya bukan diruwat atau dirukyah loh ya. Karena dulu ada kasus seseorang yang diduga mengalami difabel psikososial bipolar disorder malah oleh keluarga dan beberapa pemuka agama dirukyah, dikira ada jinnya,” cerita Hartini.

Konteks agama dalam penanganan difabel memang seringkali masih terjebak dalam paradigma medis dan bahkan magis. Beberapa kasus menunjukkan bahwa kealpaan informasi dalam masyarakat beragama, seperti Islam misalnya, membuat penanganan terhadap difabel, terutama difabel psikososial menjadi salah kaprah. Berbagai gejala difabel psikososial seperti bipolar disorder, gangguan kecemasan, depresi dan gangguan lainnya dianggap sebagai gejala kurang iman atau kurang kedekatan dengan Tuhan. Hasilnya, selain didoakan, kerap pula anggapan adanya jin maupun makhluk halus yang merasuki tubuh menjadi kerangka kacamata dalam melihat gejala difabel psikososial.

Padahal hubungan agama, dalam kasus ini Islam, dengan realitas difabel secara umum sudah terbentuk sudah lama dan menempatkannya pada proporsi yang afirmatif. Dalam buku Fiqh Disabilitas karya PBNU dan PSLD Universitas Brawijaya, Islam sebagai agama samawi tidak terlepas dari empat tujuan berikut: Pertama, untuk mengenal Allah Swt (ma’rifatullah) dan mengesakan-Nya (tauhid); kedua, menjalankan segenap ritual dan ibadah kepada Allah Swt sebagai manifestasi rasa syukur kepada-Nya; ketiga, untuk mendorong amar ma’ruf nahi munkar (menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran), serta menghasilkan hidup manusia dengan etika dan akhlak mulia (tasawuf); dan, keempat, untuk menetapkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan sosial (mu’amalah) di antara sesama manusia. Keempat poin inilah yang disebut oleh Syaikh Ali Ahmad Al-Jurjawi sebagai maksud dan hikmah diturunkannya hukum Islam (hikmatut tasyri’). Dan salah satu aspek kehidupan manusia yang sangat diperhatikan oleh Islam sejak diturunkannya adalah masalah pemenuhan hak-hak dasar manusia, terutama bagi penyandang disabilitas.

Lantas, apakah Islam, begitu juga konsep agama secara umum, bisa memiliki peran yang penting dalam upaya menangani gajala difabel psikososial? Sebuah tulisan dalam laman Greatmind sedikit banyak memberi jawaban. Tulisan ini berjudul Segala Alasan untuk Percaya dengan Agama. Tulisan ini ingin memberi tahu bahwa agama adalah produk kemanusiaan yang bekerja dalam otak dan hati kita. Agama selalu mengajarkan pada kepercayaan akan suatu hal yang besar. Tulisan ini ingin menunjukkan bahwa agama bisa berperan untuk memberikan sugesti pada orang yang mempercayainya, sebuah sugesti bahwa dalam kehidupan semua akan baik-baik saja. Percaya pada hal besar yang akan terjadi pada hidup akan melindungi orang yang percaya dengan agama akan terhindar dari kesulitan dan mara bahaya. 

Secara praktikal, menurut tulisan ini, kepercayaan yang dibentuk oleh agama berbentuk afirmasi positif yang sangat banyak muncul dalam ritual keagamaan. Misal, dalam Islam kita sering mambaca doa tentang kebaikan diri dan harapan akan kehidupan. Doa berbentuk afirmasi positif itu mengalir ke dalam alam bawah sadar dan membentuk struktur otak yang mengarah pada kebahagiaan dan keringanan dalam melihat berbagai macam permasalahan hidup. Selain itu, tulisan ini juga memberi contoh afirmasi positif dalam bentuk pesan-pesan positif yang ada di kitab suci. Orang membaca kitab suci dengan segala macam pesan positifnya berulang kali seumur hidup dan pesan itu menyuntikkan kalimat yang sama. Repetisi yang terbaca akan masuk ke dalam otak, menyimpan memori yang kuat dan nantinya akan muncul sebagai pereda ketika orang merasakan kesedihan. Ketika berdoa, kita akan memusatkan pikiran kepada sang pencipta, khusyuk dan mengeluarkan segala harapan yang terafirmasi secara positif.

Tulisan ini juga menunjukkan bahwa ada kesadaran bahwa ketika orang sedang berkomunikasi dengan Tuhannya, ada situasi kontemplatif yang menyentuj dunia spiritual otak yang akhirnya membuat kita fokus pada solusi permasalahan hidup ketimbang pada situasi masalah itu sendiri.  Berdoa pun menjadi medium untuk memberikan sugesti pada diri untuk percaya harapan yang diucapkan itulah yang akan terjadi.

Dalam agama, khususnya Islam, beberapa ritual utama, seperti sholat, berdoa dan dzikir, secara tidak langsung menandakan karakteristik yang sama dengan konsep meditasi dalam dunia universal. Keduanya sama karena sama-sama memusatkan pikiran pada hal-hal yang positif dan meminta otak untuk meresapi nilai-nilai afirmatif yang menenangkan jiwa dari gejala problematika kehidupan manusia.

Itu juga yang sejalan dengan apa yang diceritakan oleh Hartini, bahwa ketika ia diduga mengalami gejala difabel psikososial, ia dibawa kesebuah pesantren di utara Banjarnegara dan ia diajari untuk melakukan iktikaf atau berdiam diri, mengulang doa-doa yang baik dan mempelajari nilai-nilai kebaikan dalam Islam yang berhubungan dengan diri.

“Saya diajari berdoa dan memusatkan perhatian dan harapan saya pada Gusti Allah, setelah itu, saya yang tadinya gampang stres, hampir depresi jadi lebih tenang dan melihat pengalaman traumatis terduhulu adalah kejadian yang penuh hikmah,” ungkap Hartini.

Dalam ilmu psikologi, afirmasi positif dalam ritual keagamaan maupun dalam meditasi, memang menjadi salah satu cara untuk menanggulangi penyakit mental. Dalam laman true-connection.org Otak berkomunikasi malalui zat kimia. Setiap pengalaman yang ada di hidup kita membentuk zat kita baru. Otak kita merespon hal tersebut dengan membentuk koneksi neural baru sepanjang hidup kita. Oleh karena itu, repetisi dari hal-hal baik yang diucapkan bisa menguatkan konektifitas ini. Fenomena ini disebut neuroplasticity. Setiap waktu orang mengulangi suatu nilai, suatu tindakan, atau suatu afirmasi, orang tersebut sedang menguatkan pengulangan itu ke dalam otaknya.  Para ahli memperkirakan bahwa sebagian besar orang berpikir 60.000 hal setiap harinya. Yang menarik, sebagian besar apa yang orang pikirkan berdasarkan pada kecenderungan alami otak dalam menangkap pengalaman negatif, kepercayaan dan kebiasaan. Dengan memilih kalimat yang positif, orang akan meminta pikiran bawah sadar mereka untuk membentuk proses kebiasaan.

Itulah peran penting dari afirmasi positif dari agama yang bisa memberikan efek besar dalam penanganan gejala difabilitas psikososial. Dengan perannya yang seperti ini, seharusnya Indonesia yang mayoritas penduduknya percaya pada agama bisa menggunakan medium agama sebagai cara untuk berhubungan secara positif dan afirmatif dengan realitas difabel, bukan justru mengeksklusinya. []

 

Penulis: Yuhda

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.