Lompat ke isi utama
	Anxiety.

Gangguan Kecemasan yang Muncul Setelah Menjadi Difabel Daksa

Solider.id, Yogyakarta  – Nur Imaniar (21) adalah seorang difabel pengguna kursi roda karena sebuah kecelakaan bermotor yang ia alami tiga tahun yang lalu. Saat itu, ia membonceng saudara lelakinya saat baru pulang sekolah. Tiba-tiba sebuah motor menabraknya dari belakang saat ia dan saudara lelakinya sedang berhenti di lampu merah. Ia mendapat cedera yang cukup parah pada bagian kaki dan membuat kaki kanannya harus diamputasi.

“Saat itu masa-masa terberat dalam hidup. Rasanya saya sudah tidak punya masa depan lagi. Saya sangat tidak percaya diri, saya sangat cemas. Saya takut apa kata orang lain tentang saya. Saya khawatir berlebihan kalau orang tua saya malu punya anak seperti saya. Bahkan saya sempat ingin bunuh diri,” ucapnya saat saya temui beberapa waktu yang lalu.

Keadaan tersebut membuat ia begitu terpukul dan mengurung diri selama dua minggu di kamar. Ia hanya keluar jika ingin ke kamar mandi dan ingin makan saja. Bahkan, ia sempat berhari-hari tidak mau makan.

“Pernah suatu saat, saya benar-benar tidak mau keluar kamar karena saya marah sama Tuhan. Bapak saya masuk lewat jendela karena khawatir dan pintu saya kunci. Bapak bilang bahwa hidup itu pilihan, apa yang Tuhan kasih ke saya pasti ada maknanya dan saya bebas memilih apa yang akan saya lakukan setelahnya. Mau berdiam diri atau mau berubah dan memperbaiki keadaan,” ceritanya.

Setelah itu, menurut Nur, pikirannya mulai membaik dan ia mulai keluar kamar untuk beraktifitas. Tapi kadang rasa khawatir masih kerap muncul dan membuatnya luar biasa cemas. Ia masih takut dengan masa depan, meski sudah tidak separah sesaat ia menjadi difabel. Kalau sedang cemas seperti itu, badannya terasa kaku dan punggung serta pinggangnya jadi sakit. Ia juga mengalami keputihan, padahal ia merasa sudah menjaga kebersihan organ vital perempuannya.

Ia memberanikan diri bercerita dengan kedua orang tuanya tentang kecemasan tersebut. Ia bersyukur karena orang tuanya begitu mendukung dan menjadi pendengar yang baik serta bukan orang tua yang gemar menyalahkan keadaan orang. Orang tuanya kemudian membawanya ke rumah sakit dan pihak rumah sakit menganjurkan agar Nur bertemu dengan seorang psikolog.

“Setelah bertemu dengan psikolog, saya diduga punya anxiety disorder, sebuah gangguan kecemasan. Saya diminta banyak bercerita tentang pengalaman menyedihkan di masa lalu termasuk keadaan yang membuat kaki saya diamputasi,” lanjutnya.

Ia juga menjadi sadar bahwa gangguan kecemasan yang ia alami tidak hanya berasal dari kecelakaan yang membuatnya menjadi difabel, namun juga dari memori-memori masa kecilnya tentang perasaan negatif yang ia rasakan dan tidak bisa ia ungkapkan atau ekspresikan.

Ia mengaku tidak diberikan obat. Ia hanya diajari untuk membuat dan menulis sebuah jurnal perasaan karena ia hobi menulis. Ketika gangguan kecemasannya kumat, ia akan membaca kembali tulisannya dan ingat bahwa ia pernah merasakan masa-masa yang lebih buruk dan bisa melewatinya.  

Mengutip dari laman resmi Australia National University, gangguan kecemasan berlebih termasuk jenis dalam jenis difabel. Gangguan ini menjadi satu dari bagian penyakit mental (mental illness) bersama gangguan lain seperti gangguan bipolar, skizofrenia, dan gangguan lain yang mempengaruhi cara orang berpikir, merasakan perasaan dan bertindak.

Menurut laman anxiety.org, gangguan kecemasan adalah reaksi tubuh dan pikiran atas keadaan stres, bahaya, dan situasi lain yang tidak familiar. Biasanya gangguan kecemasan akan memberikan perasaan tidak nyaman dan tertekan akan hal-hal yang bahkan belum terjadi. Bahkan, gangguan kecemasan yang sangat berlebih bisa memicu orang untuk bunuh diri. Gangguan kecemasan sebenarnya adalah keadaan yang normal jika masih dalam level yang ringan dan justru membuat orang untuk tidak lengah dan terus termotivasi untuk bertumbuh. Namun, jika gangguan kecemasan sudah mempengaruhi aktifitas sehari-hari secara signifikan, gangguan ini akan sangat berbahaya.

Gangguan kecemasan berlebih bisa membuat orang tidak bisa tidur, tidak bisa berkonsentrasi atau bahkan kabur dari rumah. Gangguan kecemasan berlebih bisa membuat penyintasnya tidak bisa mengontrol perasaannya dan berimplikasi pada gejala kesehatan fisik seperti sakit kepala, mual dan gemetar.

Kasus yang terjadi pada Nur membuat dirinya mengalami dua jenis difabiltias, daksa dan mental. Apa yang ia rasakan sudah termasuk dalam gangguan kecemasan berlebih karena membuatnya mengurung diri dan membuat fisiknya melemah dan menderita beberapa macam sakit.

Ada beberapa terapi yang bisa digunakan untuk menurunkan tingkat kecemasan menjadi level yang normal dan tidak berbahaya. Salah satunya adalah dengan terapi kognitif dan perilaku (CBT/Cognitive Behavioral Therapy). Mengutip laman Pijar Psikologi, CBT berfokus pada upaya untuk memahami pola pikir seseorang serta mengubahnya menjadi lebih baik. Melalui terapi ini, seseorang dapat belajar mengenali serta mengendalikan gejala-gejala psikologis yang mungkin muncul, misalnya gangguan kecemasan berlebih serta gangguan depresi.

Selain itu, ada juga konsep baru dalam melatih pikiran orang dari gejala psikologis bernama mindsight yang dikenalkan oleh Daniel Siegel, seorang praktisi psikiatri dari University of California Los Angeles (UCLA).  Mindsight adalah kemampuan untuk memahami pikiran kita sendiri sekaligus memahami pikiran orang lain.

Menggambarkan konsep mindsight bisa dilakukan dengan cara membedakan ucapan “Saya sedih” dan “Saya sedang merasakan perasaan sedih.” Dua ucapan tadi berbeda dalam konsep kognitif. Ucapan pertama sangat terbatas pada konsep perasaan diri, sedang ucapan kedua menandakan bahwa kita sedang mengenali perasaan sedih tanpa kita terlalu tenggelam di dalamnya. Kita merasakannya, menerimanya dan membiarkannya pergi untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Cara pandang ini yang termasuk dalam mindsight.

Kabar baiknya adalah konsep mindsight bisa dilatih sejak organ otak baru berkembang di anak balita sampai orang menjadi dewasa. Dengan melatih konsep ini, seseorang akan melihat tantangan yang dihadapinya dengan kerangka gambar besar (big picture) dan melihat masalah dari berbagai macam sisi, sehingga bisa mengurangi resiko orang terkena gangguan kecemasan atau gangguan psikologis lainnya. []

 

Penulis: Yuhda

Editor  : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.