Lompat ke isi utama
	First-1000-days-of-life-nutrition-

Difabel dan Isu Malnutrisi di 1000 Hari Pertama Kehidupan

Solider.id, Yogyakarta – Pendekatan siklus kehidupan menjadi satu bagian penting dalam upaya pemerintah Indonesia dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Indonesia diperkirakan akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2030 – 2040. Bonus demografi adalah jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) yang lebih besar jika dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Seperti yang termaktub dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020 – 2024 Revisi 28 Juni 2019, jumlah penduduk usia produktif yang besar tersebut harus dimanfaatkan agar Indonesia dapat memaksimalkan bonus demografi. Apabila tidak dikelola dengan baik, bonus demografi dapat menyebabkan tingginya tingkat pengangguran, konflik sosial, serta tekanan pada pangan dan lingkungan. Selain itu, perubahan struktur umur penduduk yang cepat juga membawa implikasi terhadap penduduk yang menua (ageing population) yang tidak produktif. Perubahan struktur umur penduduk tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia dengan memberikan perhatian pada pembangunan manusia berdasarkan siklus hidup.

Pendekatan siklus kehidupan juga penting dalam melihat isu difabel karena sumber daya manusia difabel perlu didukung dan difasilitasi secara setara dan berkelanjutan dalam kerangka pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Jika dielaborasi lebih dalam lagi, pendekatan siklus hidup mencakup 1000 Hari Pertama Kehidupan, pendidikan usia dini, pola asuh dan pembentukan karakter anak dalam keluarga, remaja, transisi dari sekolah menuju dunia kerja, serta penyiapan kehidupan berkeluarga dan lansia.

Salah satu fase penting dalam pendekatan siklus kehidupan dalam pembangunan sumber daya manusia adalah 1000 hari pertama kehidupan menjadi pondasi penting bagi pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas sekaligus bisa menjadi cara pengurangan angka resiko difabilitas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan kausalitas atau sebab-akibat dari angka malnutrisi pada balita dengan angka difabilitas di negara berkembang. Begitu pula sebaliknya, ada hubungan antara tingkat difabilitas dengan pertumbuhan angka malnutrisi di negara berkembang. 

1000 hari pertama kehidupan dihitung mulai dari hari pertama konsepsi lalu terbentuk embrio hingga anak berusia 2 tahun. Kecukupan gizi selama hamil hingga tahun-tahun pertama kehidupan anak berperan dalam membentuk fungsi otak hingga membantu memperkuat sistem imun. 1000 hari pertama menjadi periode unik dan kesempatan untuk membentuk pondasi kesehatan dan perkembangan yang optimal. Di negara-negara berkembang, kemiskinan dan malnutrisi terbukti bisa mengancam pondasi perkembangan ini yang berujung pada kelahiran prematur dan kesehatan fisik yang lemah.

1000 hari pertama kehidupan pada anak juga disebut sebagai window of opportunity karena fase ini dipercaya sebagai masa emas pertumbuhannya. Pemenuhan gizi yang baik selama 1000 hari pertama kehidupan akan membuat kemampuan anak untuk tumbuh dan belajar menjadi lebih baik. Saking pentingnya periode emas ini, ada sebuah gerakan bernama scaling up nutrition yang dilakukan oleh 57 negara di dunia termasuk Indonesia sebagai upaya untuk menghilangkan berbagai jenis malnutrisi, berdasarkan pada prinsip bahwa semua orang layak mendapatkan makanan yang baik dan gizi yang baik pula.

1000 hari pertama anak dengan nutrisi yang tidak maksimal rentan berujung pada kondisi malnutrisi. Sebuah literatur berjudul Malnutrition and disability: unexplored opportunities for collaboration menunjukkan hubungan dekat antara angka difabel dengan kondisi malnutrisi. Dalam temuannya, penelitian ini menunjukkan bahwa level malnutrisi yang tinggi dan kekurangan nutrisi sering menimbulkan angka difabilitas yang tinggi dan penundaan pembangunan. Dalam pembahasannya, penelitian ini melihat beberapa area yang saling berhubungan: malnutrisi dapat menyebabkan berbagai jenis difabilitas; difabilitas bisa menyebabkan malnutrisi. Penelitian ini mencoba menganalisa lebih jauh dua hubungan tersebut dengan tetap memperhatikan faktor kelebihan nutrisi (overnutrition) yang memicu kondisi kesehatan yang menurun karena penyakit stroke dan diabetes yang juga memicu kondisi difabilitas, terutama di usia lansia. 

Malnutrisi menyebabkan difabilitas bisa ditunjukkan pada kondisi malnutrisi yang dialami oleh ibu hamil yang membuat perkembangan janin menjadi tidak maksimal sehingga menyebabkan kondisi kedifabelan pada anak. Kondisi malnutrisi ini juga disebabkan oleh kurangnya makro nutrisi dan mikro nutrisi yang menjadi penyebab utama dari kondisi cerebral palsy, yang juga menjadi fenomena tinggi pada negara-negara miskin.

Malnutrisi pada anak dengan usia di bawah dua tahun bisa menyebabkan anak kekurangan berat badan atau stunting, yang juga bisa menjadi salah satu penyebab anak-anak menjadi difabel. Mikro nutrisi dan makro nutrisi yang kurang adalah salah satu faktor penyebab kedifabelan fisik, sensorik dan kognitif. Sebagai contoh, menurut WHO, setiap tahunnya, sekitar 250.000 sampai 500.000 anak di seluruh dunia menjadi difabel netra karena kekurangan vitamin A. Lalu kekurangan vitamin B6 (pyridoxine), meskipun jarang, rentan membuat anak mengidap epilepsi. Zat bes yang kurang pada anak biasanya dihubungkan pada perkembangan kognitif yang lambat serta menyebabkan kedifabelan pada kemampuan belajar dan perilaku. Kehilangan kemampuan pendengaran juga bisa disebabkan oleh malnutrisi. Bayi dan anak dengan kebutuhan nutrisi yang tidak tercukupi lebih rentan kehilangan kemampuan pendengaran daripada bayi dan anak yang tercukupi nutrisinya.

Menjadi difabel, menurut penelitian ini, juga bisa menjadi penyebab malnutrisi pada anak.  Dari sudut pandang medis, anak yang terlahir difabel kerap mengalami masalah yang berkaitan dengan nutrisi. Jenis difabilitas yang mengalami masalah ini adalah cerebral palsy, down syndrome yang biasanya mengalami tantangan pada motorik mulut dan kemampuan mengunyah. Pada beberapa bayi difabel yang baru lahir, kondisi motorik atau mekanik dari indera pengecapan berpengaruh pada nutrisi yang masuk dan terserap lewat mulut. Menurut penelitian ini, 90% anak dengan cerebral palsy memiliki kesulitan dalam mengunyah.

Dari sudut pandang yang lebih sosial, kemiskinan yang dialami oleh difabel di negara berkembang menyebabkan difabel berpotensi kesulitan dalam memberikan nutrisi yang maksimal kepada anaknya sehingga menyebabkan malnutrisi pada anak.

Fakta medis dari penelitian ini menjadi penting katika digabungkan dengan perspektif sosial tentang langkah afirmatif terhadap difabel di negara berkembang. Tanpa bisa dipungkiri, kemiskinan dan kesenjangan pendapatan juga menjadi sumber dari angka malnutrisi yang tinggi yang menyebabkan difabilitas sekaligus menjadi efek dari tingginya angka difabilitas di negara berkembang. Langkah yang bisa diambil oleh pemangku kebijakan kemudian dengan memastikan bahwa pelayanan kesehatan bisa menjangkau setiap kalangan untuk memutus siklus malnutrisi ini. Akses dan fasilitas yang mengakomodasi kebutuhan difabel menjadi kunci dalam pengurangan resiko malnutrisi ini, termasuk memastikan akses terbaik terhadap pelayanan nutrisi bagi orang hami dan ibu menyusui, baik difabel maupun non difabel.

Dalam lingkup pemangku kebijakan, semua pihak harus memastikan komitmen politik untuk menghasilkan regulasi dalam memutus siklus malnutrisi dan angka difabilitas ini. Pada akhirnya, dibutuhkan data yang lengkap dan terpilah agar menjadi gambaran perbandingan difabel dan non difabel untuk menyediakan kebijakan yang afirmatif dalam sektor kesehatan, terutama untuk difabel, di 1000 hari pertama kehidupan mereka.[]

 

Penulis: Yuhda

editor  : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.