Lompat ke isi utama
 Difabel dan peserta yang hadir tengah menyimak sambutan-sambutan

Berulang Tahun, Karya Mandiri Ingatkan Pentingnya Berorganisasi

Solider.id, Boyolali – Pada tahun ini kelompok Difabel Karya Mandiri telah memasuki usia dua tahun. Dalam peringatan ulang tahun yang dipusatkan di Aula Kecamatan Kemusu, Selasa (3/9), Dono Krismanto, kembali menyerukan pentingnya berorganisasi bagi Difabel.

“Kami mengundang teman-teman Difabel agar lebih mengenal Karya Mandiri, dan mengajak Difabel yang selama ini masih di rumah aja untuk ikut aktif di sini. Karena bersama-sama akan membuka kesempatan,” ungkap Koordinator Kecamatan Kemusu dalam pidato sambutannya.

Karya Mandiri adalah kelompok Difabel yang berdiri pada Agustus 2017. Kelompok ini berada di bawah payung organisasi di Kabupaten Boyolali yaitu Forum Komunikasi Difabel Boyolali (FKDB). Oleh karena itu kelompok ini juga dikenal sebagai FKDB Karya Mandiri.

Lebih lanjut, pria yang sekaligus menjabat sebagai ketua kelompok ini menyatakan bahwa selama ini Difabel di Kemusu  masih belum banyak tergarap. Karena letak Kecamatan Kemusu yang berada di utara, jauh dari pusat pemerintahan menjadi salah satu faktor masih minimnya akses Difabel ke program-program pemerintah Kabupaten.

Sementara itu, Agus Supriyadi memberikan apresiasi terhadap Difabel yang tergabung di kelompok ini. Dia lebih menyoroti kehadiran Difabel yang ikut serta dalam upacara bendera Peringatan Ulang Tahun RI pada 17 Agustus lalu. Keberadaan Difabel bersama dengan masyarakat Kecamatan Kemusu di lapangan membuktikan Difabel sama dengan masyarakat lainnya.

Diskusi peringatan ulang tahun kelompok Difabel ini diikuti oleh sekitar 150 orang dari unsur masyarakat, Difabel dan keluarganya, pemerintah Desa, pemerintah Kecamatan dan juga dihadiri oleh beberapa perwakilan Dinas di Kabupaten Boyolali. Selain potong tumpeng, acara juga diisi dengan kilas perjalanan kelompok ini sejak terbentuk, apa saja yang sudah dicapai dan proyeksi fokus kerja yang ingin dilakukan di masa mendatang.

Dalam kesempatan ini, Khusnul Hadi dari Badan Penelitian, Perencanaan dan Pengembangan (BP3D) Kabupaten Boyolali mengusulkan adanya program Deteksi Dini dan Intervensi Dini (DDID).

“Saya sudah berdiskusi dengan Mbak Sri (Sri Setyaningsih, Ketua FKDB-red) akan sangat bagus kalau bisa berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan. Dia menyatakan bahwa di sini ditemukan beberapa kasus anak-anak Difabel yang masih belum tertangani dengan baik,” ungkapnya.

 

Reporter: Ida Putri

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.