Lompat ke isi utama
Azka sedang bercerita di depan kawan-kawannya tentang Pohon Keluarga

Kelas Inspirasi Rambah SLB, Buka Wawasan Siswa Ditengah Minimnya Pengenalan Karir Difabel

Solider.id, Surakarta - Rasyid, siswa difabel daksa yang sering saya lihat suka menyanyi dan tergabung di YPAC Music Solo Percussion tampak antusias saat mengetahui bahwa siang itu adalah sesi Kelas Inspirasi. Begitu juga Azka, cerebral palsy dan berkursi roda sama dengan Rasyid, suka menyanyi gembira pula. Bersama Hafid, Rizky dan lebih dari 40 siswa SD LB YPAC mereka berkumpul di Aula YPAC Prof. Dr. Soeharso, setelah sebelumnya Nikmah, kepala sekolah, waktu upacara bendera juga mengumumkan bahwa semua anak SD LB akan berkumpul di aula.

Beberapa anak tampak mengenakan seragam abu-abu putih, yakni bersekolah di SMA LB salah satunya bernama Ivan. Ivan dan dua teman perempuannya turut bergabung dalam kelas. Ivan ketua bengkel dan cuci motor. Dialah yang bertanggung jawab terkait pelayanan terhadap customer. Dua teman perempuannya adalah atlet yang menjuarai olah olah raga futsal tingkat provinsi. Beberapa guru ikut duduk di deretan para orangtua murid. Terlihat dari seragam dinas yang mereka kenakan.  Demikian yang dijelaskan oleh Nikmah setelah saya dan kawan-kawan mahasiswa relawan Kelas Inspirasi mengenalkan diri, Senin (2/9).

Persiapan saya untuk mengajar di SLB YPAC sudah direncanakan sebulan sebelumnya setelah Mahendra Ma’arif, pengurus Kelas Inspirasi menghubungi . Bahwa Kelas Inspirasi yang pada tahun ini menapak di angka tujuh tahun ingin pula mengajar ke sekolah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan mereka memilih SLB YPAC. Beberapa persiapan dilakukan dan mereka menjatuhkan pilihan bahwa yang akan mengisi kelas nanti dua orang, saya sebagai jurnalis dan penulis sastra serta Kevin Fabiano, seorang pelatih atlet difabel. “Kami hari ini ada 10 Kelas Inspirasi di Sekolah Dasar (SD) yang berada di Kecamatan Laweyan, Jebres, Banjarsari dan Pasar Kliwon. Dan di SLB YPAC ini adalah untuk pertama kali,” tutur Mahendra Ma’arif kepada wartawan yang mewawancarai.

Azka Yang Bercerita tentang Pohon Keluarga, Rena yang Berpraktik Wawancara Bak Reporter Televisi

Yang menarik dari Kelas Inspirasi ini adalah tatkala menjelaskan bagaimana profesi wartawan kepada anak-anak difabel tersebut. Karena selain daksa yang tidak memiliki hambatan intelektual, dan hanya hambatan mobilitas saja, kelas juga diikuti oleh anak-anak difabel mental intelektual. Sedangkan seorang anak dengan cerebral palsy, dengan berani menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan terkait hobi yang dilakoninya,”Suka nulis nggak, Kak?” tanya saya dan dilangsung dijawab,”Suka menggambar. Gambar alam,” jawabnya.

Saya mencoba memberi contoh bagaimana seorang wartawan bekerja dengan meminta mereka untuk melihat dan memperhatikan kepada beberapa wartawan yang saat itu tengah meliput kegiatan Kelas Inspirasi. “Bahwa siapa pun saat ini bisa menjadi wartawan, termasuk difabel karena teman-teman wartawan saya banyak yang difabel. Jadi tidak ada alasan untuk menekuni bidang ini, tulis-menulis dan tentu banyak membaca,” saya menerangkan, dan Rizky tampak mencatat dengan dengan notes kecilnya.

“Coba kasih jawab dong, apa sih senangnya jadi wartawan?” satu-persatu mereka menjawab,”bisa bertemu artis,”jawabnya. Seorang anak lagi menjawab,”bisa wawancara presiden,”katanya sambil tersenyum. “Tapi jadi wartawan itu capek, aku nggak mau jadi wartawan,” seru yang lain. Lalu saya memberi contoh gambaran sosok difabel jurnalis solider.id, Fira Fitria yang selain jurnalis juga aktivis dan saat ini sedang menempuh beasiswa pendidikan S2. “Kak Fira pernah bersekolah di sini lho, dan kalian pasti bangga karena kakak kelas ada yang jadi wartawan dan bisa berkuliah S2,”terang saya. 

Saya lebih suka berinteraksi dengan berposisi lebih mendekat serta berbicara dengan kontak mata. Tak terkecuali dengan Azka. Azka yang sejak awal antusias mengikuti kelas kemudian atas petunjuk guru saya persilakan untuk bercerita di depan kelas. Lalu dengan lancar serta runtut mengalir tanpa hambatan, Azka bercerita tentang pohon keluarga. Yang dia ceritakan adalah keluarga inti (ayah, adik, kakak, dan ibu) dan juga kakek serta neneknya beserta para paman. Azka sangat hafal dengan nama-nama mereka. Saat Azka bercerita di depan kelas, teman-temannya memperhatikan dengan takjub. “Azka ini juara provinsi juga, Bu, dalam lomba bercerita,” terang seorang guru.

Lalu saya mengajak kepada anak-anak lainnya untuk bertepuk tangan memberi penghargaan dan apresiasi kepada Azka. Setelah sesi bercerita Azka, kemudian kelas saya giring untuk mempraktikkan bagaimana seorang reporter televisi sedang bekerja untuk mewawancarai seorang narasumber. Dua pasang anak menyediakan diri bersiap praktik wawancara. Mereka tidak lagi canggung untuk memegang pengeras suara dan bertanya kepada temannya.

Selain menerangkan dan memberi gambaran tentang pekerjaan sebagai wartawan, saya juga menjelaskan tentang hobi menulis yang selain bisa membuat hati senang juga bisa mendatangkan uang. “Coba deh, kalau ada yang suka menulis puisi, coba-coba aja dulu kalian kirimkan ke media, siapa tahu media itu berminat dan memuatnya, kan lumayan tuh nanti honornya bisa ditabung bisa untuk beli sepatu baru,” kelakar saya. Saya juga memperkenalkan sebuah situs sastra audio difalitera.org yang bisa diakses oleh anak-anak karena di situ ada konten tentang belajar berbahasa Inggris dan juga dongeng anak. Meski tidak ada murid difabel netra, tetapi setelah tanya jawab interaktif, ada beberapa anak yang suka mendengarkan radio.

Dari seorang guru, saya mendapat informasi bahwa beberapa anak memang memiliki minat menulis puisi, dan sekolah memfasilitasi adanya majalah dinding. Lalu saya menitipkan nomor telepon kepada sang guru tersebut bahwa saya siap untuk membantu mendampingi dan mengajar lagi terkhusus kepada anak-anak yang berminat di bidang penulisan kepenulisan.

Anak-anak difabel memang   membutuhkan figur nyata untuk menjadi inspirasi mereka dalam menentukan masa depan. Hal yang sering terjadi dari dahulu, bahkan hinigga detik ini adalah ketiadaan ruang bagi anak-anak difabel, khususnya bagi mereka yang menempuh pendidikan di sekolah khusus untuk bertemu dengan orang-orang dewasa yang telah sukses dengan bidang dan pekerjaan masing-masing. Akibatnya, banyak anak difabel yang tidak tahu cita-cita mereka jika dewasa nanti akan jadi apa. Atau yang sering terjadi, mereka bercita-cita seperti kawan atau senior mereka yang mungkin telah lulus dari sekolah tersebut. Kawan-kawan difabel netra misalnya hanya bercita-cita sebagai pemijat atau kawan difabel lain hanya bercita-cita sebagai penjahit. Dua pekerjaan tersebut memang bukan pekerjaan yang hina, Namun sudah berpuluh tahun lamanya kawan-kawan difabel seolah “terjebak” dengan cita-cita dan bahkan pekerjaan yang monoton. Keberadaan kelas inspirasi yang sudah mulai merambah ke sekolah-sekolah khusus patut diapresiasi. Anak-anak difabel butuh ditunjukkan betapa beragamnya pekerjaan dan jalan kesuksesan di dunia ini.

 

Reporter: Puji Astuti

Editor:   Ajiwan Arief

The subscriber's email address.