Lompat ke isi utama
Diskusi publik bersama Bilic, ICW, DPO dan Pemerintahan.

Tingkatkan Kualitas dan Akses Layanan Kesehatan Difabel, Bilic dan ICW Gelar Diskusi

Solider.id, Bandung – Bidang pelayanan publik yang masih membutuhkan sinkronisasi terhadap masyarakatnya, terutama bagi warga difabel, dibahas bersama dalam gelaran sebuah diskusi. Pada kesempatan tersebut hadir perwakilan organisasi difabel yang ada di kota Bandung, komunitas mahasiswa yang memiliki kepedulian terhadap difabel, serta jajaran aparatur pemerintahan kota Bandung, diantaranya; Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Disducapil, dan Bapedalitbang.

Mengusung tema ‘Diskusi Publik Mendorong Peningkatan Akses Dan Kualitas Layanan Kesehatan Bagi Penyandang Disabilitas,’ kegiatan ini berlangsung pada Kamis siang (29/8) di salah satu hotel kawasan jalan Cihampelas kota Bandung.

Bandung Independen Living Center (Bilic) sebagai Difable People Organization atau DPO, dan Indonesi Corruption Watch (ICW) sebagai organisasi non pemerintah atau NGO, menjadi pelopor dan fasilitator dalam diskusi. Sebagai DPO, Bilic sangat memahami alur yang mesti dipautkan antara kebijakan yang dibuat oleh jajaran dinas dalam pemerintahan khususnya untuk wilayah kota Bandung, dengan ragam kebutuhan maupun kendala yang masih dihadapi masyarakat difabel.

Pada diskusi tersebut, baik dari perwakilan masyarakat difabel maupun pemerintahan membahas ragam kebijakan, hasil kerja serta permasalahan yang masih ditemui para difabel sebagai pengguna layanan publik. Bahasan bidang kesehatan misalkan, selain mengupas sarana dan prasarana pusat kesehatan seperti aksesibiltas maupun inspratruktur bangunan puskesmas, klinik, dan rumah sakit, bentuk layanan personal yang diberikan dari pihak yang memberikan layanan tenaga kesehatan pun menjadi topik menarik.

Disampaikan direktur Bilic, Yuyun Yuningsih, S.Si, dalam bidang kesehatan masih terdapat keluhan dari masyarakat difabel terkait bentuk pelayanan yang diberikan oleh tenaga medis. Mulai dari perlakuan yang kurang menyenangkan hingga ucapan atau sebutan yang masih keliru dalam menangani pasien difabel masih ada.

“Dari hasil survey di lapangan, kami masih mendapat informasi adanya perilaku tenaga menis yang masih belum mampu memahami dalam menangani pasien difabel,” tutur Yuyun.

Terkait informasi keluhan yang didapatkannya, tim Bilic melakukan penindakan berupa pemberian sanksi kepada pihak tenaga medis yang bersangkutan.

“Kami baru sebatas mengadakan edukasi dan memberi sanksi berupa teguran lisan, belum pada tahap pelaporan,” papar Yuyun.

Menurutnya, kondisi masih terjadi disebabkan masih kurangnya pemahaman dan sensitifitas dari para tenaga medis. Bentuk ketidaktahuan ini, dikarenakan minimnya informasi atau masih sedikitnya mereka mengenal difabel secara utuh, sehingga terjadi kekeliruan yang tanpa sengaja dirasakan kurang ramah terhadap pasien difabel.   

Sementara, rasa turut keprihatian terkait isu pelayanan yang kurang ramah terhadap pasien difabel disampaikan langsung oleh pihak perwakilan Dinas Kesehatan kota Bandung, Nila.

Pihaknya akan melalukan edukasi terhadap peningkatan mutu layanan bagi difabel yang akan melibatkan difabel sebagai user. Nila juga menyampaikan, di kota Bandung sudah terdapat dua buah puskesmas yang akses dan ramah difebel. Yaitu Puskesmas Salam dan Puskesmas Pasirkaliki Bandung. Dan akan dirancang kembali Puskesmas akses lainnya, yang akan dibangun sebagai bentuk penambahan pusat layanan kesehatan masyarakat yang berada di tingkat kecamatan.  

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.