Lompat ke isi utama
peluncuran aplikasi enabling di UB

Bangun Sistem Pendampingan Difabel yang Lebih Integratif, PSLD Brawijaya Luncurkan Enabling

Solider.id, Malang - Universitas Brawijaya Malang telah menjadi salah satu pioner kampus inklusi di Indonesia. Selain membuka jalan lebar bagi difabel untuk berkuliah melalui kebijakan avirmatif Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD), Universitas Brawijaya (UB) juga menyediakan program pendampingan bagi mahasiswa difabel yang sedang melakukan proses perkuliahan di kampus. Pendampingan ini dapat terimplementasi dalam bentuk asistensi secara akademik maupun nonakademik  saat mengikuti perkuliahan di ruang kelas, ataupun ketika mencoba melakukan mobilitas di lingkungan kampus. Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) UB  sebagai lembaga yang menaungi mahasiswa difabel senantiasa berusaha memunculkan terobosan baru dalam memenuhi kebutuhan pendampingan mahasiswa difabel ini.

Salah satu upaya untuk terus meningkatkan pelayanan pendampingan tersebut terwujud dari diluncurkannya aplikasi layanan Enabling oleh PSLD UB pada Sabtu 30/7 di Lobi Gedung Rektorat UB.

Aplikasi ini  memiliki fungsi utama untuk memudahkan proses penjadwalan pendamping bagi mahasiswa difabel di kampus Brawijaya. Sebelumnya, proses penjadwalan pendampingan  dilakukan secara manual oleh PSLD. Mahasiswa yang membutuhkan jasa pendampingan akan menghubungi PSLD untuk meminta pendamping pada jam tertentu, sedangkan PSLD kemudian mencarikan pendamping yang tersedia pada jam terkait sesuai dengan ketersedian relawan.

Situasi ini  secara produktivitas menguras banyak waktu dan tidak efisien, karena koordinasi dan operasinalisasi penjadwalan pendampingan difabel masih dikerjakan oleh tangan manusia, sehingga rentan terjadi kekeliruan dan kesalahan ketika dijalankan.

  Oleh karenanya, aplikasi Enabling ini akan memudahkan PSLD dalam mengatur, menjadwal, dan mengevaluasi pelayanan pendampingan bagi mahasiswa difabel di UB secara lebih efektif, real time, dan integratif.

 “pengguna layanan PSLD sekarang semakin banyak, baik difabel maupun pendamping. Ini akan dapat menjadi solusi supaya penjadwalan dan pelaksanaan pendampingan di PSLD dapat berjalan secara lebih otomatis.” Ujar Alies Poetri Lintangsari, pengurus PSLD sekaligus Dosen di Fakultas Ilmu Budaya UB saat sesi sosialisasi.

Ia juga menambahkan bahwa selama ini kendala utama dalam memberikan layanan pendampingan ke difabel sebagian besar masih bersifat teknis. Mulai dari ketidakcocokan jadwal relawan pendamping dengan difabel, hingga seringnya pendamping berhalangan hadir pada saat hari H pendampingan. Sehingga hal-hal ini coba untuk dieliminasi PSLD melalui program Enabling. Sekedar catatan, ketidaksesuaian jadwal ini kerap terjadi mengingat relawan pendamping sendiri juga merupakan mahasiswa kampus Brawijaya yang direkrut secara berkala oleh PSLD, lalu diberikan pelatihan dan materi menyangkut teknik pendampingan, seperti pelatihan bahasa isyarat, tata cara pendampingan difabel netra atau daksa, dan bentuk asistensi lainnya bagi mahasiswa difabel. Sehingga acapkali menjadi pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran untuk mengelola penjadwalan tersebut secara konvensional.

Aplikasi Enabling  mmerupakan pengembangan selama kurang lebih setahun dari PSLD bekerjasama dengan mahasiswa alumni Fakultas Ilmu Komputer UB. Rencananya, program Enabling akan segera tersedia di Playstore bagi pengguna perangkat Android, dan bagi mahasiswa difabel UB yang tidak memiliki Android dapat mengakses layanan Enabling PSLD melalui website Enabling secara online. Nantinya, mahasiswa difabel yang telah terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Brawijaya dapat mengakses kebutuhan relawan pendamping melalui enabling, dan sebaliknya, relawan PSLD juga akan dapat melihat jadwal pendampingan atas difabel terkait secara lebih instan dan terkini. Uniknya, Enabling  juga dilengkapi dengan fitur Rating layaknya pemberian nilai atas performa relawan saat proses pendampingan oleh difabel sebagai bahan evaluasi bagi PSLD dalam memberikan pelayanan yang optimal kedepannya.

Harapan Jangka Panjang

Ditemui terpisah selepas acara, Alies Poetri LintangSari juga berharap aplikasi Enabling ini dapat menjadi percontohan bagi perguruan-perguruan tinggi di Indonesia untuk dapat mengimplementasikan program pendampingan bagi mahasiswa difabel yang berbasis aplikasi “secara pribadi saya ingin Enabling ini tidak hanya dipakai di UB, tapi juga universitas lainnya diluar sana.” Ujarnya.

Inkorporasi bantuan pendampingan difabel dalam platform Enabling ini menjadi salah satu kewajiban perguruan tinggi menghadirkan sistem akademik yang menunjang segala jenis kebutuhan mahasiswa, termasuk mahasiswa difabel secara lebih efektif melalui media aplikasi.   

Senada dengan motivasi ini, Muhammad Syahfudin Abdulah selaku salah satu pengembang aplikasi menginginkan layanan Enabling tidak hanya terbatas pada ruang lingkup kampus Brawijaya.

“Harapannya yang jelas aplikasi Enabling ini nantinya tidak hanya melayani pendampingan difabel di kampus, tapi juga merambah keluar kampus.” Ucap alumni Jurusan Informatika UB tersebut.

Ia menambahkan lagi, apabila Enabling dapat menjadi layanan yang mampu mengintegrasikan kebutuhan difabel atas asistensi pendampingan diluar area kampus, maka prospek tersebut akan membantu kehidupan para difabel secara signifikan dalam meraih cita-citanya di masyarakat.[]

 

Reporter: Made Wikandana

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.