Lompat ke isi utama
sesi belajar interaksi dengan difabel pada kegiatan peduli goes to campus

Membumikan Inklusi Sosial lewat Program Peduli Goes to Campus

Solider.id, Malang - Perguruan tinggi memegang peranan krusial dalam pembangunan manusia menuju ke arah kesejahteraan di Indonesia. Tri Dharma perguruan tinggi yakni pembangunan, pengabdian, dan penelitian merupakan fondasi fundamental bagi negara dalam mencetak bibit mahasiswa yang berkualitas, kompeten, dan mampu menjadi Agent of change ditengah-tengah masyarakat. serta   mampu menjadi pabrik ide dan aksi solutif demi terciptanya pembangunan negara yang berasaskan keadilan, kemakmuran, pemberdayaan, dan inklusi sosial pada segala jenis lapisan masyarakat.

Salah satu upaya melibatkan elemen perguruan tinggi dalam proses pembangunan bangsa tersebut terimplementasi  adalah diadakannya acara Peduli Goes to Campus pada hari Selasa 27/8 di kampus Universitas Brawijaya Malang. Kegiatan kuliah tamu serta dialog terbuka Peduli Goes to Campus bertujuan untuk membangun gerakan inklusi sosial masyarakat marjinal di Indonesia, melalui pengenalan isu inklusi sosial kaum marjinal dengan berbagai praktik. Baik program peduli lintas pilar, terutama yang ada di kawasan Jawa timur kepada civitas Universitas Brawijaya Malang. “Diharapkan kemudian kegiatan ini dapat menggali potensi untuk memperkuat dan memperluas gerakan inklusi sosial yang melibatkan civitas akademik, terutama di Universitas Brawijaya.” Ungkap Anwar Sholikin dalam pembukaan acara.

Kegiatan yang dinisiasi oleh Lembaga Pengkaji Kemasyarakatan dan Pembangunan (LPKP) bersama dengan program Peduli dari Asia Foundation ini mengajak para peserta kuliah tamu untuk mulai menanamkan benih-benih kesadaran atas inklusi sosial di lingkungan masyarakat. Salah satu tempat yang paling potensial memulai misi tersebut adalah di area perguruan tinggi. banyaknya  isu inklusi sosial kerap luput dari pantauan orang kebanyakan, padahal permasalahan ini begitu relevan dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Diskriminasi terhadap kelompok difabel merupakan salah satu bentuk dari gagalnya konsep inklusi sosial itu diterapkan. Apa yang sering kita jumpai adalah bentuk eksklusi sosial terhadap kelompok difabel dalam beragam aspek, mulai dari pekerjaan, pendidikan, kesehatan, perlindungan hukum hingga akses terhadap fasilitas publik.

Maka dengan inilah, penyebaran isu-isu inklusi sosial harus benar-benar diaktualisasikan ke dalam berbagai sendi-sendi masyarakat, termasuk mahasiswa kampus Brawijaya sebagai duta muda pembangunan bangsa. Kapasitas mahasiswa sebagai civitas akademik dapat menjadi pemantik untuk memfasilitasi pembangunan bangsa yang berasaskan inklusi sosial yang bermartabat dan sejajar. Dengan ini kelompok mahasiswa Universitas Brawijaya yang didominasi oleh kaum milenial dapat ikut bergerak dalam kerangka pembangunan yang menghargai perbedaan dari setiap individu. “pembangunan yang tidak menghargai perbedaan dan tidak melibatkan semua orang hanya akan menjadi sia-sia, dan tidak sesuai dengan prinsip utama SDGs!” terang Slamet Tohari, aktivis difabel sekaligus dosen Universitas Brawijaya dalam sambutan acara.

Abdi Suryaningati selaku perwakilan dari Asia Foundation dan team leader dari program Peduli juga mengatakan bahwa sebelumnya, pembangunan yang terjadi cenderung memarjinalisasi kelompok-kelompok minoritas, dan difabel merupakan salah satu dari sekian kelompok marjinal tersebut. Oleh sebab itulah, inklusi sosial perlu ditanamkan dalam kerangka pembangunan negara, untuk nantinya dapat menjangkau komunitas kelompok difabel, dan kelompok-kelompok marjinal lainnya yang selama ini terpinggirkan.

 senada dengan prinsip ini, Walikota Malang Sutiaji yang menyempatkan hadir juga menyerukan untuk terus berupaya menginterpretasikan inklusi sosial dalam tata pelaksanaan pemerintahan di Kota Malang. Mengawali dengan menghargai perbedaan, maka pembangunan yang berjiwa inklusif dapat secara kolektif diraih oleh seluruh masyarakat, baik di Kota Malang ataupun daerah Indonesia lainnya.

kegiatan yang bertempat di gedung Widya Loka Universitas Brawijaya ini juga dihadiri oleh Deputi Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Kawasan, perwakilan dari Wakil Gubernur Jawa Timur, Kemenko PMK, serta dosen-dosen Universitas Brawijaya. Selain tema difabel, juga dilaksanakan kelas-kelas pararel dengan isu seputar kelompok-kelompok marjinal lainnya, meliputi kelas tematik anak pekerja migran, anak yang dilacurkan, anak terpidana penjara, agama minoritas, serta tentunya, kelas  difabel. Keseluruhan kelas paralel ini diharapkan dapat menstimulasi peran aktif civitas akademik kampus Brawijaya untuk peduli dan membangun masyarakat berperspektif inklusi sosial di Indonesia.

kegiatan Peduli Goes to Campus serupa sebelumnya pernah diadakan di Universitas Gadjah Mada serta Universitas Airlangga. Dan kini kegiatan tersebut juga menghampiri Universitas Brawijaya, sebagai pelopor kampus inklusi di Indonesia.[]

 

reporter: Made Wikandana

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.