Lompat ke isi utama
SSEAC saat berkunjung ke Sigab

Peran Kajian SSEAC dalam Isu Difabel, Mahasiswa Lokal Terpapar Virus Inklusi

Solider.id, Yogyakarta - Sydney South East Asia Center (SSEAC) merupakan lembaga dibawah  University of Sydney yang mengkaji ihwal Asia Tenggara. Kajian mereka terutama dari aspek sosial kemasyarakatan. Lembaga ini terus menerus melakukan sejumlah kajian dan penelitian terkati isu sosial. Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi tujuan program, termasuk untuk isu difabel dan inklusi sosial.  Lembaga ini juga kerap melibatkan mahasiswa Universitas setempat untuk mempersiapkan  rangkaian penelitian dari berbagai disiplin ilmu.

Sebagai salah satu kota dengan gerakan difabel yang massif, Yogyakarta menjadi tujuan dalam pelaksanaan program tersebut. Hal ini karena banyak organisasi dan NGO yang memperjuangkan hak-hak difabel. Selain itu, dari segi pendidikan, tidak sedikit perguruan tinggi di Yogyakarta sudah menerima mahasiswa difabel sebagai anak didiknya.

Program kunjungan ke Yogyakarta dikuti oleh 17 mahasiswa dari Universitas Sydney dengan latar belakang keilmuwan yang berbeda, 2 dosen pendamping, dan 7 relawan mahasiswa dari Yogyakarta yang berasal dari berbagai universitas. Relawan mahasiswa tersebut berperan  sebagai pendamping penelitian. Keberadaan mahasiswa lokal dalam terlaksananya program ini menjadi salah satu kunci suksesnya kegiatan studi lapangan tersebut. Relawan mahasiswa tidak hanya berperan sebagai translator dan atau interpreter tetapi juga sebagai bagian dari peneliti dalam program ini.

Program yang dilaksanakan selama kurang lebih 10 hari (3-12 Juli 2019) ini diisi dengan beberapa kegiatan. Salah satunya adalah kunjungan ke beberapa NGO, organisasi, komunitas, dan institusi pendidikan di Yogyakarta. Kegiatan ini juga diisi dengan mini workshop tentang hasil penelitian mereka selama berada dilapangan dan melihat berbagai fakta ihwal peregerakan difabel di Yogyakarta.  

Kegiatan ini menghasilkan 5 topik penelitian lapangan. Topik-topik tersebut adalah pemahaman mahasiswa di Yogyakarta tentang gangguan jiwa dan gangguan mental, pemahaman mahasiswa tentang kesehatan reproduksi dan difabel, pendidikan bagi difabel, fasilitas tempat ibadah (masjid) bagi difabel, serta hubungan advokasi terhadap komunitas Tuli. Mereka mengambil data lapangan dalam bantuk wawancara dan survey dengan responden dari berbagai latar belakang, serta obeservasi ke beberapa tempat yang berbeda.  

Beberapa tanggapan positif tentang kegiatan ini seperti yang diungkapkan Stephanie Paska, salah satu relawan dari USD (Universitas Sanata Dharma, dia mengatakan tertarik menjadi relawan dalam kegiatan ini untuk mengetahui lebih jauh tentang isu-isu difabel dan inklusi di Yogyakarta karena di Indonesia masih jarang kegiatan yang berfokus pada masalah ini.

Hal senada juga dirasakan oleh Irsalina Fathimah, relawan dari UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Ia  mengungkapakan  sangat terkesan dengan program ini. Dia yang awalnya masih awam dengan dunia dan komunitas difabel menjadi tau dan menyadari bahwa masyarakat difabel itu ada di sekitarnya. Mereka membutuhkan  kesempatan dan fasilitas untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri. Sudah seharusnya kampus-kampus di Yogyakarta mengangkat isu-isu difabel untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut.

Dengan demikian, program SSEAC ini tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa Universitas Syndey tetapi juga memberikan pengalaman dan pemahaman baru tentang isu-isu sosial dan inklusi bagi mahasiswa di Yogyakarta. Dalam hal ini, peran aktif universitas dan sekolah tinggi di Indonesia, khususnya di Yogyakarta untuk meniliti dan mengkaji isu-isu difabel sangat dibutuhkan sebagai referensi untuk mewujudkan masyarakat dan lingkungan yang inklusif.

 

Reporter: Rahmiatun Nur Khasanah

 Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.