Lompat ke isi utama
Rini Winarni sedang duduk diantara produk-produk kerajinannya

Rini Winarni dan Usaha Daur Ulang Sampah Menjadi Kerajinan

Solider.id, Semarang- “Tuhan itu maha baik untuk orang-orang seperti saya. Dengan kondisi yang berbeda, saya justru bisa pergi kemana-mana dan bertemu banyak orang.”

Kalimat itu diucapkan Rini Winarni, ketua Himpunan Wanita Difabel Indonesia Kota Semarang. Ia menerka jika lahir dengan kondisi yang sama dengan orang lain, belum tentu ia bisa berkenalan dengan banyak orang. Menjadi disabilitas karena polio tak menyurutkan niatnya untuk selalu bersyukur dalam segala hal yang selama ini sudah didapatkannya.

Dijumpai di sanggar Shaloom handycraft, Jalan Wonodri Sendang, Kusumawardani, Semarang, perempuan yang hobi membaca ini baru saja pulang kerja sebagai staff administrasi YPAC Kota Semarang. Rini Winarni asik menyelesaikan rajutan yang sedang dipegangnya. Stick rajut di tangannya meliuk dengan terampil. Bagi perempuan yang pernah menjadi ketua Komunitas Motor Roda Tiga Kota Semarang, merajut sudah menjadi rutinitas.

Rini, perempuan kelahiran Semarang, 22 April 1965 lalu ini, merajut aneka tas dan dompet dengan warna-warni meriah. Rutinitas itu menjadi hobi yang menjanjikan dengan harga yang cukup lumayan. Ia juga memenuhi pesanan dengan membuat sandal rajut, sepatu rajut, pernik perhiasan dari bando, jepit rambut maupun bros aneka bentuk, serta beragam gantungan kunci untuk pelanggan.

“Dari kecil waktu sekolah di YPAC sudah diajari belajar rajut. Jadi sejak itu pula saya sudah menyukai rajut,” kata Rini di awal perbincangan.

Sesekali dalam kegiatan  tertentu di gereja, atau di kampung yang butuh ketrampilan tangannya, Rini tak segan membantu merangkai bunga segar dan bunga kering untuk hiasan. Keahlian merangkai bunga sudah dipelajarinya saat masih kecil.

Rini masih ingat waktu duduk di bangku sekolah dasar YPAC Kota Semarang. Berulangkali terpilih mewakili YPAC Kota Semarang untuk ikut menjadi peserta Jambore. Ia meraih juara utama berkat piawai merangkai bunga. Tahun 1981, 1982 dan 1983, menjadi tahun-tahun berharga yang membuatnya tak bisa lupa atas prestasi yang diraihnya.

Rini tak keberatan berbagi ilmu pada siapa saja yang berniat belajar ketrampilan. Ia siap menjadikan sanggarnya untuk tempat belajar, secara gratis. Di sanggar itu, ia dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul dengan teman. Rambutnya yang pendek kemerahan, makin memperlihatkan wajahnya yang sumringah dengan senyuman. Ia juga pernah membuka usaha salon kecantikan yang melayani banyak pelanggan.

“Ceritanya sama tetangga saya ditawari belajar di usaha salonnya. Setelah bisa, saya malah diajak bekerja di salon itu sampai 12 tahun,” kisah Rini.

Selama bekerja di salon, ia belajar banyak hal. Diantaranya bisa membuat sendiri macam-macam bedak untuk perawatan wajah dan kecantikan. Sampai ia akhirnya bisa membuka usaha salon sendiri meski hanya bertahan tiga tahun. “Salon tutup karena saya jadi karyawan YPAC,” lanjutnya. Meski begitu, ia tak segan melayani konsultasi kecantikan bagi siapa saja.

Sambil menyelesaikan rajutan, di samping Rini nampak aneka bekas bungkus minuman instan yang sudah dibersihkan. Ada juga yang dijemur berjejeran, tergantung rapi di teras sanggar-nya yang lengang. Tak ingin waktu luangnya terbuang, ia dan suami, Tejo Sunarko, juga terampil mengolah aneka bekas bungkus minuman instan.

Dari sampah-sampah bungkus bekas minuman instan inilah, Rini bersama sang Suami mendaur ulang menjadi tas dan dompet hingga bisa memberikan penghasilan tambahan. Usaha tambahan tersebut sudah dilakukannya sejak 2014.

“Awalnya tetangga sekitar tertawa dan heran waktu melihat saya menjemur bungkus-bungkus ini. Lalu setelah tahu saya gunakan untuk apa, mereka malah dengan sukarela memberi,” tutur Rini, anak ke tiga dari tujuh bersaudara pasangan Harjowikromo dan almarhumah Sudarmi ini.

Rini dan suaminya tinggal di Jalan Depoksari Wetan V Rt 07 Rw 01, Tlogosari, Semarang. Menurutnya, proses mendaur ulang sampah plastik sangat mudah. Ia hanya mencucinya terlebih dulu dengan mesin cuci dan dikeringkan. Dalam sekali membuat tas tangan, ia hanya butuh sejumlah 96 bungkus bekas untuk dasar sebuah tas jinjing.

Sementara untuk bungkus bekas Rini bisa mendapatkan dari para tetangga yang memberinya. Sebagai upaya pemasaran produknya, ia menitipkan ke beberapa komunitas difabel yang diikutinya. Tak jarang ia dan suami ikut dalam kegiatan pameran yang diadakan oleh beberapa swalayan, sambil mengajarkan beberapa ketrampilan untuk menarik minat pelanggan. “Diajak komunitas, lama-lama bisa mencari peluang untuk ikut pameran,” imbuhnya.

Satu tas kecil atau dompet hasil kerajinan dari bungkus bekas bisa laku seharga 50 ribu hingga 100 ribu rupiah. Sementara untuk tas bisa terjual seharga 150 ribu rupiah hingga 250 ribu rupiah. Makin mahal asesoris yang digunakan, maka makin mahal pula harga tas dari bungkus bekas yang ditawarkan. Menurut Rini, selain menghasilkan keuntungan materil, daur ulang sampah juga dapat mengurangi volume sampah.

Masa sekolah dasar dihabiskan Rini di YPAC Kota Semarang. Dengan prestasi yang dimiliki, ia berani melangkah untuk melanjutkan jenjang pendidikan di sekolah swasta yang terbilang favorit di Semarang. Dari SMP di St. Yoris, ia melangkah menuju SMA Kesatrian I. “Waktu sekolah saya termasuk siswa yang berprestasi. Guru-guru sering mencontohkan saya pada teman-teman lain yang tidak memiliki kekurangan,” lanjutnya.

Bagi Rini, menjadi difabel bukan berarti tidak bisa berprestasi. Prestasi menjadi bukti bagi orang-orang yang meragukan kemampuan. Kini, ia terus aktif sebagai ketua Himpunan Wanita Difabel Indonesia Kota Semarang.

Melalui Hosana unsumble music percusion, Rini menyalurkan bakat bermusik dan menunjukkan ketrampilan olah vokalnya bersama beberapa teman. Sekali waktu tampil unjuk kebolehan dalam berbagai kegiatan keagamaan, Rini terus maju membawa HWDI kota Semarang melalui karya rajut dan kerajinan dari sampah bungkus bekas minuman instan.[]

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.