Lompat ke isi utama
Aryo Resnady berpose dengan duduk di Kursi roda

Kisah Aryo Resnady, dari Hobi Memasak Sampai Jadi Pengusaha

Solider.id, Semarang- Beberapa menu makanan berbahan dasar daging ayam siap memenuhi pesanan. Makanan itu di masukkan kedalam kardus kotak bernama Em Box yang menjadi brand yang ia kibarkan di wilayah Semarang.

Setelah dinyatakan sembuh dari luka decubitus yang sempat membuatnya patah arang. Aryo Resnady menemukan hobi yang mengantarkannya ke dunia bisnis. Ia merasa hobi memasak telah menjadi jiwanya.

Inilah awal ia memulai kembali mimpi yang sempat ditanggalkannya. Maraknya bisnis online menguatkan tekadnya untuk mewujudkan impian yang pernah dibangunnya meski dengan remah-remah kekuatan.

Dijumpai di rumhanya Jalan Gatot Subroto nomer 7 Rt 01 Rw 07, Perumahan Pasadena, Kelurahan Kalipancur, Ngaliyan. Aryo pemuda kelahiran Banjarmasin, 22 Februari 1977 ini tengah terbaring setelah seminggu menjalani operasi bedah. Wajahnya sumringah, meski geraknya terbatas dan belum bebas. “Baru kali ini saya patah semangat. Ibarat penyakit, saya merasa bahwa penyakit saya sudah tak lagi bisa disembuhkan,” ujarnya (10/05).

Sejak saat itu, ia merasa akhir dari hidupnya. Ia sampai mengirimi pesan kepada sanak saudara dan menyerahkan rekening ATM beserta nomor Pin. Ia pasrah.

Dalam dua bulan ini, Aryo sudha bolak-balik ke rumah sakit dan opname empat kali. Ia juga berpindah rumah sakit untuk mendapat kesembuhan. Ia tertawa mengingat perasaan yang pernah dialaminya.

Tapi dari sini semua dimulai. Dokter memberikan penjelasan yang membuatnya merasa harapan itu ada. Mulanya ia sempat bingung karena tidak tahu harus bagaimana. Untuk bisa sembuh secara alami ia butuh proses perawatan dan waktu yang lama. Ia juga butuh perawat untuk membantu mengganti perban setiap hari dengan biaya yang jatuhnya lebih banyak. Akhirnya dengan banyak pertimbangan, ia dan keluarga memutuskan menjalani operasi bedah plastik.

Aryo Resnady, putra bungsu dari empat bersaudara pasangan (Alm) Soegimin dan Farida (70 tahun) adalah pemuda cekatan. Menghabiskan masa kuliah di sebuah universitas di Yogya, ia menjalani masa magang hingga mendapat pekerjaan sebagai chef di sebuah hotel kenamaan di Semarang.

“Pulang dari kerja shift malam, saya dolan sampai lupa waktu. Saat harus kembali bekerja, saya pikir saya masih punya waktu untuk istirahat. Rupanya dengan kondisi fisik yang tidak memungkinkan dan sudah diingatkan saya ngeyel, akhirnya terjadilah kecelakaan.” Tanpa sedikitpun ada penyesalan, Aryo berkisah tentang awal mula kejadian yang mengambil “sedikit” fungsi tubuhnya dengan menjadi paraplegia.

Aryo menjadi korban tabrak lari saat berkendara dengan motornya. Saat itu, ia tidak tahu apa yang terjadi. Ia baru menyadari bahwa ia sudah pingsan selama berhari-hari, setelah security yang menolong dan membawanya ke rumah sakit dan menceritakan apa yang terjadi.

Lepas dari masa operasi hingga menjalani pemulihan, dokter yang berkunjung menjelaskan kondisi sebenarnya. Tak sempat kecewa, Aryo hanya menangis untuk sesaat saja. “Waktu dokter visit-nya bilang saya lumpuh, saya hanya menangis sebentar. Sambil menghapus tangis saya hanya berkata, mosok laki-laki nangis. Sudah. Setelah itu kakak saya datang dan saya sudah lupa dengan apa yang baru saja saya dengarkan.”

Aryo membatin, kejadian yang menimpanya merupakan teguran dari Tuhan. “Saya bukan anak nakal, tapi saya punya hobi yang salah. Dengan teguran ini saya diingatkan untuk tidak kembali melangkah pada hobi yang salah,” kisahnya.

Melewatkan masa pemulihan selama empat tahun, Aryo sangat menyayangkan sikap tenaga fisioterapi yang merawatnya. Dari yang seharusnya sudah melakukan latihan-latihan, setiap hari ia masih harus dibantu berkegiatan. “Waktu itu untuk duduk saja masih harus dibantu. Itu pun kalau salah posisi saya pingsan,” tuturnya sambil tertawa.

Sampai kemudian Aryo memutuskan pulang ke Kalimantan, tanah kelahirannya. Di Kalimantan ia bertemu dengan keluarga yang memberitahu kondisinya dan mengajarkan cara kemandirian.

“Karena kurangnya edukasi saya tidak bisa pindah sendiri ke kursi roda. Dan karena kursi roda yang saya punya hanya kursi roda standar yang tidak bisa dibuka bagian sampingnya, itu juga menghambat kegiatan saya. Akhirnya dari saudara inilah saya diberitahu kursi roda seperti apa yang cocok buat saya sehingga bisa membantu kegiatan saya,” lanjut Aryo.

Memasuki tahun ke sepuluh sejak 2003 setelah kecelakaan terjadi, Aryo memutuskan untuk masuk ke sebuah yayasan rehabilitasi. Bukan untuk upaya kesembuhan, ia ingin belajar tentang kemandirian dan mendalami ketrampilan. Di yayasan itu pula ia menemukan seorang teman yang menjadi inspirasi dan semangatnya menjalani kehidupan.

“Di situ saya bertemu dengan teman yang bisa melakukan aktivitasnya dari tempat tidur. Dia bisa membongkar kursi roda sendiri. Dari dia saya belajar agar tidak selalu berharap bantuan,” cerita Aryo.

Bagi Aryo, membuka usaha bukan sebagai pembuktian bahwa kita bisa. Alasannya membuka usaha karena ia memiliki kesempatan dan ia bisa melakukan. Ia butuh uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Maka dengan bekerja ia bisa dapat uang, bisa mencukupi dan menghidupi diri.

Bisnis Kuliner

Aryo merasa memasak dan kuliner menjadi bagian dari jiwanya. Meski pernah membuka usaha toko kelontong dan berjualan pulsa, ia ingin kembali pada profesi lama yang ditinggalkannya. Ia sempat berhenti melayani penjualan makanan melalui online, kini usaha itu ia rintis kembali. Sebuah usaha yang dijalani setelah mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai staff kantor notaris yang sebelumnya ia lakoni.

Tahu pasti tentang biaya operasi yang memang sangat tinggi, satu hal yang didapat Aryo sebagai jawaban saat ini adalah ia bisa beraktivitas kembali. Uang bisa dicari, tapi demi sebongkah harap ia ingin mewujudkan keinginannya.

Mengibarkan EM-Box atau Emam Box sebagai brand yang ia lambungkan, Aryo menawarkan menu olahan berbahan utama daging ayam. Ayam geprek, ayam sambal matah, ayam cabai garam, dan ayam blackpeper adalah menu yang ia unggulkan. Dengan harga standar, meski baru tiga bulan berjalan, dalam sebulan Aryo bisa mendapatkan sekitar 120 kotak pesanan.

Dari awal mula, urusan pengemasan dan memesan kotak makan. Urusan belanja bumbu dapur dan bahan dasar ayam, maupun untuk jasa pengiriman, ia tak merasa kesulitan berkat jasa online yang dengan mudah didapatkan. Pun untuk usaha pemasaran, ia merasa sangat terbantu jasa online yang sekarang marak bertebaran. Lewat usaha ini pula ia bisa menyisipkan laba yang lumayan.

“Sambil mengelola usaha makanan, saya punya keinginan jadi marbot untuk sebuah masjid,” harap Aryo. Trauma diusir dari masjid karena kursi roda akan selalu jadi pengalaman berarti. Dengan kondisi yang ia miliki, ia hanya ingin bisa memenuhi kebutuhan rohani dengan tenang dan khusyuk. Pelan tapi pasti, Em-Box membantunya mewujudkan semua ini.[]

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.