Lompat ke isi utama
ilustrasi tulisan volunteerism

Memaknai Sebuah Kalimat “Volunterism adalah Kemewahan”

Solider.id, Yogyakarta. Dunia sedang dilanda rindu dengan orang-orang yang mau peduli. Orang yang peduli terhadap lingkungan, terhadap sesama, terlebih terhadap orang-orang yang terpinggirkan. Terpinggirkan secara pengakuan, kesempatan, demikian pula hak-hak hidupnya. Sehingga, bagi mereka tidak terjamah kesetaraan apalagi hasil-hasil pembangunan yang berkeadilan.  Agar dapat setera, kelompok rentan harus berjuang untuk memperoleh keadilan dan kesamaan hak. Namun sebagaimana kodrat manusia sebagai makluk sosial, perjuangan kelompok rentan tak dapat lepas dari peran dan dukungan orang-orang disekitar mereka.

Hal mendasar yang perlu menjadi catatan, siapa, kapan dan dengan cara apa kepedulian itu bisa dimulai? Kepedulian tak melulu harus berupa materi. Melainkan bisa melalui tenaga, pemikiran, ilmu, atau apa saja. Bahkan dengan senyum saja, bisa memberi harapan bagi jutaan manusia. Sungguh mewah bukan, makna sebuah volunterism? Saking mewahnya, sikap-sikap volunterism tidak bisa dinilai sekedar dengan rupiah.

Jadi menjadi volunteer tidak harus menunggu berkelebihan materi. Melainkan bisa dimulai dengan niat baik dan pikiran. Dilakukan dengan apa yang bisa dilakukan. Dengan catatan, tanpa berpikir dapat apa, melainkan dapat melakukan apa. Demikian makna volunterism yang sesungguhnya.

Volunterism adalah Kemewahan sebuah kalimat yang meluncur dari Risnawati Utami. Dia adalah founder Perhimpunan OHANA Indonesia, yang tidak lain juga perwakilan Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk isu difabilitas.

Sebuah kalimat yang menggambarkan gerakan tanpa tendensi mendapatkan imbalan. Volunterims juga dilakoninya puluhan tahun silam, dalam upaya mewujudkan hak-hak masyarakat difabel yang jauh dari diperhatikan, baik oleh keluarga, lingkungan, juga negara.

“Gerakan yang kami lakukan dari dulu hingga sekarang ialah dengan paham volunterism. Ada atau tidak ada project, advokasi jalan terus. Saat ini, kawan-kawan difabel kalau tidak ada uang transport, tidak ada perdiem tidak mau jalan. Masih saja ada yang bertanya, nanti ada transportnya tidak?” Risna paparkan perbedaan perjuangannya dengan kondisi saat ini.

Padahal, lanjut dia. “Advokasi ini untuk siapa? Ini untuk kita, warga masyarakat difabel yang butuh kesetaraan dan keadilan,” ungkapnya.

Risna juga mencontohkan gerakan volunterism di Brasil, Amerika Serikat dan berbagai negara lain. Pada mulanya, perhatian negara terhadap difabel tidak beda jauh dengan di Indonesia. Semangat volunterism difabel citizen (masyarakat difabel) di negara-negara tersebut akhirnya mampu mengubah berbagai tataran, terutama kebijakan dan implementasinya. “Negara menjadikan difabel sebagai warga negara dengan seluruh hak yang sama dengan warga nondifabel. Bahkan pajak rakyat dialokasikan untuk pemberdayaan dan kebutuhan difabel,” ujar Risna.

Dan, volunterism dapat diterjemahkan dengan kata bahasa Indonesia kesukarekawanan. Atau keterlibatan dalam kerja atau kegiatan yang sifatnya sukarela, terutama memberikan layanan terhadap masyarakat. Volunteering adalah kegiatan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sosial. Adapun orang yang melakukan kegiatan sukarela, diberikan istilah dengan volunteer.

Simpati dan empati

Kedua sikap dan perasaan ini (simpati dan empati) menjadi  gerakan inti volunterism terbangun. Simpati lebih menggambarkan perasaan atas sebuah keadaan. Sedangkan empati, berupa sikap. Menempatkan diri pada posisi yang dialami orang lain, dan melakukan gerakan nyata. Membantu menyeberang jalan difabel netra (blind total), adalah contoh simpati dan empati.

Bersimpati dan berempati, artinya ada keterlibatan dan interaksi secara langsung. Dengan demikian, secara tidak langsung siapapun itu telah berbagi rasa, pengalaman juga cerita hidup. Sedikit banyak, apa yang dihadapi orang lain dapat dirasakan juga oleh orang-orang yang berlaku simpati dan berempati.  Dan tantangan menjadi volunteer tentu saja tinggal di area project, melainkan pada kehidupan keseharian.

Menjadi volunteer di lingkungan yang betul-betul membutuhkan adalah kemewahan. Kemewahan rasa, tentu saja.  

 

Penulis: harta nining wijaya

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.