Lompat ke isi utama
kegiatan bersama aktor muda gerakan difabel

Pentingnya Peran Aktor-aktor Muda Kawal Implementasi SDGs

Solider.id, Yogyakarta - Tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), merupakan pedoman kerangka pembangunan yang memprioritaskan asas leaving no one behind atau tidak satu pun yang ditinggalkan. Artinya pembangunan tidak lagi boleh meninggalkan kelompok–kelompok rentan (difabel, lansia, perempuan, anak, pemuda, pengungsi, pencari suaka, buruh migran, masyarakat adat, dan kelompok masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan, pulau terluar dan kepulauan terpencil).

Hal itu sejalan dengan upaya mewujudkan pembangunan inklusif. Partisipasi penuh seluruh pihak, tanpa kecuali kelompok rentan, dalam hal ini difabel, menjadi syarat dan pedoman utama pelaksanaan SGDs. Selanjutnya, prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) idealnya menjadi bagian yang fundamental dari pelaksanaan SDGs. Upaya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak asasi dan martabat manusia yang setara dan berkeadilan serta nondiskriminatif menjadi landasan kuat.

Namun demikian, hingga saat ini prinsip SDGs belum juga sepenuhnya dapat terwujud. Masyarakat difabel masih menjadi kelompok yang ditinggalkan. Paradigma klasik yang menjadikan difabel sebagai beban, berimplikasi pada potensi difabel tidak terlihat. Sehingga pelibatan dan partisipasi difabel dalam setiap kegiatan pembangunan masih minim.

Dibutuhkan komitmen pemuda difabel dalam menyuarakan pendapat, ide dan pengalaman,  guna mendukung implementasi SDGs. Untuk itu, mempersiapkan aktor-aktor muda yang tergabung dalam Organisasi Penyandang Disabilitas atau Disabled People's Organisations (DPO) sebagai pejuang garda depan dibutuhkan. Dengan demikian, tujuan pembangunan leaving no one behind dapat terwujud.

Tujuan lain, upaya kontrol sosial dan advokasi secara kolektif dalam memperjuangkan hak-hak difabel agar pembangunan inklusif dengan pelibatan penuh difabel dapat diwujudkan. Baik di tataran lokal (kabupaten/kota), nasional, regional, maupun global.

Strategi advokasi

Organisasi Harapan Nusantara (OHANA) menangkap kebutuhan tersebut.  Peningkatan kapasitas pengetahuan dan strategi advokasi generasi muda dalam pembangunan inklusif dan berkelanjutan diagendakan. Selama tiga hari (12-14/8/2019) sebanyak 45 aktor-aktor muda DPO dari sembilan propinvi  (Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi) berkesempatan mengasah kemampuan. Bertempat di Eastparc Hotel, Jalan Adi Sucipto, kegiatan dilangsungkan.

Founders Perhimpunan OHANA, Risnawati Utami mengatakan bahwa, peningkatan kapasitas itu penting. “Mengingat peran vital pemuda, peningkatan kapasitas pengetahuan dan kerja-kerja advokasi DPO menjadi agenda yang harus dilakukan sejak usia muda,” ujarnya.

“Lebih dari itu, regenerasi harus dilakukan. Agar gerakan yang sudah kami bangun dan perjuangkan selama ini ada yang melanjutkan,” tandas Risna.

Berangkat dari pemikiran tersebut, Perhimpinan OHANA Indonesia dengan dukungan Ford Foundation dan Kementerian Dalam Negeri mengadakan workshop bagi generasi muda yang sifatnya mendukung peningkatan kapasitas, kemampuan dan ketermpilan advokasi tentang kerangka pembangunan di tingkat lokal, nasional, regional dan global serta advokasi tentang hak asasi manusia.

Menyampaikan informasi dan membuka peluang berdiskusi tentang isu-isu pembangunan dan hak penyandang disabilitas secara sistematik bersama perwakilan DPO. Workshop juga mendiskusikan keterkaitan dan pentingnya pelibatan DPO dan organisasi masyarakat lainnya dalam upaya pencapaian kerangka pembangunan yang sesuai dengan SDGs serta New Urban Agenda (NUA).   

 

Wartawan: harta nining wijaya

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.