Lompat ke isi utama
ilusstrasi hewan kurban pada idul adha 1440 H

Masyarakat yang Inklusif Melalui Mekanisme Keagamaan

Solider.id, Yogyakarta – Idul Adha selalu menjadi perayaan yang ditunggu oleh banyak orang selain perayaan hari besar umat Islam lainnya. Bagi umat Islam, berkurban pada hari raya adalah proses untuk saling berbagi terhadap sesama. Ada banyak makna didalamnya. Ada pula kepatuhan untuk melakukan apa yang diperintahkan dalam Islam, sebagaimana kepatuhan yang ditunjukkan oleh Ibrahim terhadap putranya Ismail. Idul Adha kali ini juga menjadi sejarah pertama ketika simbol masjid terbesar di Indonesia, Masjid Istiqlal, membuka akses bagi difabel dengan memberikan shaf khusus serta penerjemah bahasa isyarat untuk khotbah Idul Adha. Dengan simbolisasi Masjid Istiqlal, langkah seperti ini bisa menjadi contoh bagi masjid-masjid lainnya dalam menyediakan fasilitas yang aksesibel bagi difabel pada perayaan hari besar lainnya.

Secara psikologis, ada peran penting berkurban bagi kondisi self-esteem (harga diri) yang dirasakan oleh masyarakat.  Self-esteem yang terbangun dari aktifitas berkurban di momen Idul Adha bisa menjadi pijakan penting bagi masyarakat yang sedang menghadapi banyak tantangan di kehidupan sosialnya.

Ada satu pengalaman menarik ketika saya mendapati sebuah hasil wawancara penelitian kolaboratif tentang mata pencaharian desa masyarakat difabel di desa yang pernah saya lakukan sebelumnya.  Waktu itu, ada seorang responden yang bercerita bahwa menyumbang ketika hajatan atau ketika ada orang sakit adalah cara ia untuk muncul sebagai anggota masyarakat. Dalam konteks sosial kemasyarakatan pedesaan di Indonesia, khususnya di Jawa, ikut menyumbang adalah cara untuk menunjukkan konsep diri, selain bertujuan untuk mempererat silaturahmi dan membantu meringankan sesama.

Si responden ini juga bercerita bahwa ia rela mengumpulkan uang dari jauh-jauh waktu untuk berkurban pada hari raya Idul Adha sebagai cara agar ia bisa dianggap muncul sebagai anggota masyarakat dalam pranata sosial yang ada di lingkungannya. Dalam kondisi yang cukup ekstrem, ia bahkan bisa saja meminjam uang agar bisa ikut berkurban. Ada kecenderungan alasan berkurban untuk menunjukkan konsep diri (self-concept), diluar alasan-alasan yang sifatnya adalah kepatuhan dalam ranah keagamaan. 

Dalam pemikirannya, ketika ia bisa berkurban, ia akan dianggap sebagai masyarakat kebanyakan sehingga ikut dilibatkan dalam berbagai macam kegiatan. Berkurban, begitu pula menyumbang, adalah aktifitas yang dilakukan oleh sebagian besar orang yang membuat mereka dianggap mampu secara ekonomi. Rasa mampu ini akan meningkatkan rasa percaya diri (self-confidence) dan harga diri (self-esteem). Menurut pandangannya sebagai seorang difabel, konsep penghargaan terhadap diri dari lingkungan sosial akan membuatnya bisa diterima (being accepted) oleh pranata sosial masyarakat, karena ia sering tidak dilibatkan dan mendapatkan stigma karena kondisi kedifabelannya.

Dalam kerangka ekonomi, mampu secara ekonomi bagi difabel bisa meningkatkan harga diri (self-esteem) dan membantu menemukan konsep diri (self-concept) untuk bisa diterima ke dalam masyarakat. Pijakannya adalah konstruksi sosial yang masih menganggap bahwa difabel adalah orang yang tidak mampu dan membutuhkan bantuan secara ekonomi. Dengan menjadi mampu secara ekonomi, mereka membantah persepsi seperti ini dan membuka peluang untuk diterima ke dalam masyarakat secara lebih terbuka. Tidak bisa dipungkiri bahwa proses penerimaan individu dalam pranata sosial memang banyak disaring dalam kacamata mampu atau tidak mampu secara ekonomi.

Darimana penghargaan diri (self-esteem) berasal? Self-esteem dipengaruhi oleh banyak variabel sepanjang waktu ketika individu sedang membangun konsep diri (self-concept) mereka. Orang tua adalah salah satu pihak paling krusial dalam pembentukan self-esteem pada individu karena self-esteem terbentuk paling efektif di usia emas anak. Perkataan dan perlakuan orang tua akan mempengaruhi pribadi anak. Dalam konteks isu difabel di Indonesia, masih banyak kasus bagaimana orang tua yang memiliki difabel merasa malu dan menyembunyikan anak difabel mereka. Kecenderungan ini dipengaruhi oleh sistem konstruksi sosial kita dalam melihat difabel dengan sudut pandang medis, bahkan di beberapa kebudayaan adat di Indonesia, difabel masih dilihat dengan kacamata magis. Kurangnya rasa percaya diri tidak berarti si individu memang kurang dalam hal kemampuannya. Bisa jadi, ia terbiasa mendapatkan input tentang rasa tidak percaya diri yang dialamatkan kepadanya. Lingkungan juga mempengaruhi pembentukan dari self-esteem seseorang.

Dalam contoh responden penelitian yang menyumbang dan berkurban untuk bisa diterima di masyarakat, pemahaman tersebut ia dapat berdasar pada konstruksi sosial dalam melihat difabel seperti dirinya.  Karena ia difabel dan label yang menempel padanya adalah konsep tidak mampu secara ekonomi, maka ia pun berusaha mendapatkan keleluasaan secara ekonomi agar bisa diterima oleh masyarakat melalui jalan menyumbang atau berkurban. Dengan itu, bisa jadi ia berharap bahwa ia akan dianggap mampu secara ekonomi dan ia semakin ikut terlibat dan dilibatkan dalam segala kegiatan kemasyarakatan.

Bahkan, faktor pendorong untuk bekerja baginya, kala itu, adalah penerimaan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia rela memangkas pendapatannya dan bahkan tidak makan hanya untuk bisa menyumbang atau berkurban agar diterima masyarakat. Ketika ia menjadi orang yang berada dalam garis kemiskinan, label sebagai difabel yang tidak mampu akan hadir padanya dan ia merasa hal tersebut membuatnya tidak bisa dilibatkan secara lebih proporsional dalam kehidupan bermasyarakat. Itulah mengapa perlunya menghadirkan ekosistem kesempatan ekonomi yang terbuka dan akomodatif bagi difabel. Bagi si responden di atas, dan mungkin bagi banyak difabel lainnya, semangat untuk bekerja sudah ada. Ia terbatasi pada modal awal kerja untuk mengembangkan usahanya agar lebih besar.

Sebagai negara dengan mayoritas muslim, beberapa tahun terakhir, pemerintah melihat potensi zakat yang dikumpulkan per tahunnya karena jumlahnya yang begitu besar.  Data dari Indonesia Zakat Outlook tahun 2018 menunjukkan bahwa pada tahun 2015 saja, potensi zakat mencapai 286 triliun rupiah. Dengan jumlah sebesar itu, zakat, jika digunakan dengan lebih efektif, bisa menjadi instrumen penting dalam mengurangi kemiskinan dan memeratakan pendapatan perekonomian, terutama kalangan marjinal. Potensi zakat ini juga menjadi penting karena pemerintah melihat ia bisa mengurangi gap pendapatan pada masyarakat, menjadi model terobosan pengentasan kemiskinan karena zakat berasal dari luar APBN dan APBD.

Penggunaan zakat untuk pembangunan perekonomian sudah banyak dilakukan pada level masyarakat pedesaan. Zakat telah mendukung pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) untuk menghasilkan listrik bagi 806 kepala keluarga di empat desa yang diperkirakan bisa memberikan manfaat bagi 8000 orang. Selain itu, pembangunan desa berbasis zakat Infaq Sadaqah telah terbentuk di 1056 Desa Berdaya. Jumlah orang yang menjadi penerima manfaat sekitar hampir dua juta orang.

Dengan potensi zakat yang begitu besar pada tahun 2015 sebesar 286 triliun, pada riilnya, di tahun 2017, jumlah zakat yang bisa dikumpulkan bahkan tidak mencapai 2.3 persennya (sekitar 6 triliun). Pendistribusiannya juga hanya berada di angka 4 triliun. Pemerintah harus bisa membuat strategi agar potensi zakat bisa terserap secara maksimal dan mendistribusikannya ke dalam skema yang tidak boleh melulu berupa bantuan sosial. Skema bantuan sosial seperti ini pun ternyata tidak menyelesaikan masalah, dan cenderung mengekalkan label tidak mampu bagi difabel.

Peningkatan daya serap zakat ke arah bantuan modal pengembangan usaha kecil menengah bagi masyarakat bisa semakin digalakan mengingat jumlah lembaga mikro syariah di Indonesia yang jumlahnya semakin naik dan menyebar semakin merata di seluruh penjuru tanah air. Hal tersebut bisa menjadi basis pijakan yang kuat untuk mengatasi kemiskinan dan memeratakan pendapatan. Sehingga, pemerataan pendapatan yang berujung pada meningkatnya self-esteem difabel, pada akhirnya akan mendekatkan masyarakat Indonesia tidak hanya pada pembangunan ekonomi inklusif tapi juga pada kehidupan sosial dan penerimaan masyarakat yang inklusif.

 

Penulis: Yuhda

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.