Lompat ke isi utama
atm akses untuk litle people

Difabel dan Akses Perbankan, dari Rekomendasi hingga Titik Cerah Advokasi

Solider.id, Bandung – Literasi keuangan yang menjadi trending topik masyarakat dunia memang tidak akan pernah bisa ditenggelamkan dari pengayaan arus informasi. Masyarakat difabel yang menjadi bagian didalamnya sudah tentu membutuhkan sistem keuangan yang inklusif, baik dari segi layanan maupun pemanfaatan segala bentuk, termasuk   jenis perbankan yang ada. Guna menjaga stabilitas dan sistem keuangan secara global serta meningkatkan laju kesejahteraan masyarakat, model literasi keuangan dan inklusi keuangan tidak dapat dipisahkan dari seluruh lapisan masyarakat yang heterogen.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) kedua yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2016 silam menunjukkan indeks literasi keuangan sebesar 29,66% sedangkan indeks inklusi keuangan sebesar 67,82%.

Mengacu pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif atau SNKI, yang menargetkan sebesar 75% pada tahun 2019 agar dapat tercapai, survei literasi keuangan dan inklusi keuangan di 2016 silam telah mengalami peningkatan dibanding hasil survei yang dilakukan sebelumnya. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari edukasi keuangan yang dilakukan secara berkesinambungan. Beberapa hal telah dimemalui seperti; edukasi terhadap komunitas, kegiatan Training of Trainer (TOT), outtreach program, kuliah umum, edukasi bahari, iklan layanan masyarakat, dan sebagainya. Dengan menyisir target pada perempuan dan ibu rumah tangga, pelaku UMKM, petani dan nelayan, TKI, pelajar serta mahasiswa, hingga karyawan dan pensiunan. Termasuk masyarakat difabel yang ada didalamnya.

Untuk mencapai target peningkatan literasi keuangan dan inklusi keuangan sebesar 75% di tahun 2019, pihak OJK membuat petunjuk teknis operasional yang diperuntukkan bagi masyarakat difabel dalam memberikan standarisasi pelayanan keuangan. Salah satunya melalui standarisasi pelayanan nonfisik berbasis teknologi digital yang ramah bagi difabel. Contoh konkrit yang dapat ditnjukkan adalah perbankan yang bersentuhan langsung dengan nasabah dan memiliki akses layanan 24 jam dengan memanfaatkan teknologi digital.  Layanan ini dapat diakses melalui smartphone oleh masyarakat difabel dalam kehidupannya sehari-hari. 

Lalu, yang menjadi pertanyaannya adalah; Bagaimana tingkat pemahaman dan pelayanan sebuah Bank yang berbasis teknoligi di era keuangan digital oleh masyarakat difabel secara universal dan apa saja yang mempengaruhinya?

Pelaku usaha jasa keuangan seperti bank  dapat menyediakan layanan berbasis teknologi digital seperti; kartu ATM yang dilengkapi fitur sentuhan atau taktil untuk memudahkan konsumen  difabel Netra. Pada layanan keuangan berbasis internet yang tersedia seperti internet banking atau  website, short message service - sms banking atau pesan singkat melalui handphone, juga mobile banking melalui aplikasi smartphone yang dapat diakses oleh  masyarakat difabel.

Kendala yang masih dihadapi masyarakat difabel dalam mengakses perbankan

Permasalahan di lapangan, masih banyak masyarakat difabel yang belum mendapatkan pengetahuan tentang layanan berbasis teknologi di era digital. Hal ini disebabkan teknologi yang dirancang oleh pengembang layanan perbankan belum aksesibel. Kawan-kawan difabel belum sepenubnya dapat mengakses layanan perbankan berbasis digital. Persoalan lain yang dihadapi difabel Tuli, mereka masih kesulitan untuk berinteraksi langsung dengan  petugas yang ada di bank. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat  Tuli kesulitan mengakses informasi terkait layanan dan produk yang ditawarkan pihak perbankan. Minimnya pengetahuan dan pemahaman petugas bank tentang adanya bahasa isyarat menimbulkan komunikasi yang tidak lancar.  

Infrastruktur bangunan gedung yang belum akses bagi masyarakat difabel pun masih sering ditemukan. Misalnya; untuk menuju pintu masuk belum tersedia ramp dan harus menaiki undakan tangga. Kondisi ini dapat menicu  difabel menjadi enggan untuk datang dan mencari informasi di lembanga keuangan seperti perbankan. Sistem administrasi dan perizinan kepemilikan ATM atau produk perbankan yang lain masih sulit diakses bagi difabel Netra. Selain itu, mereka juga   tidak memiliki akses menggunakan SMS banking maupun mobile banking.

Dari aspek sarana dan prasarana, fasilitas perbankan belum seutuhnya dapat diakses oleh kelompok rentan seperti difabel. Dari mulai aspek yang sangat sepele. di kantor bank misalnya, jarang kita temui kursi roda yang tersedia yang dapat digunakan oleh nasabah difabel atau lansia atau kelompok rentan lain yang sewaktu-waktu bisa saja datang dan ingin mwengakses layanan perbankan dengan fasilitas yang memadai. Dilihat dari aspek yang lain. Banyak karyawan bank belum terampil untuk melayani nasabah difabel. Meereka belum mamahami bagaimana etika berinteraksi dengan difabel. Banyak karyawan bank yang belum dapat menguasai bahasa isyarat yang lazim digunakan oleh masyarakat Tuli. Aksesibilitas lain bagi Tuli juga dianggap wajar belum ada di fasilitas perbankan seperti halnya tulisan berjalan dan berbagai penunjuk lain dalam bentuk visual.

Umumnya ukuran tinggi meja yang mungkin mudah diakses difabel pengguna kursi koda dan  mereka memiliki tinggi badan rendah (Litle People) baru tersedia di bagian customer service – CS. Sementara, dibagian Teller umumnya ukuran meja cukup tinggi dan tidak tersedia bangku atau undakan untuk membantu jangkauan konsumen LP, maupun meja rendah yang dapat diakses pengguna kursi roda.

Rekomendasi untuk Penyedia Jasa Keuangan

Beberapa hal dapat dilakukan agar layanan berbankan mudah diakses oleh kawan-kawan difabel. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  1. Bekerja sama dengan difabel Tuli untuk mempelajari bahasa isyarat, terutama bahasa perbankan yang digunakan dalam menyampaikan informasi kepada nasabah.
  2. Membuat running text yang seperlunya guna memberikan akses pengetahuan kepada difabel Tuli.
  3. Sosialisasi terkait standarisasi infrastruktur agar sesuai dengan universal design seperti meja yang rendah agar mudah diakses pengguna kursi roda
  4. Mengadakan sosialisasi terkait bagaimana cara berinteraksi dengan difabel seperti bagaimana cara memandu difabel netra saat berjalan bersama pendamping atau petugas bank yang nondifabel.
  5. Menyediakan mesin ATM yang akses untuk semua jenis difabel. Misalnya, petunjuk berupa audio informasi otomatis dengan lengkap dari mesin ATM, baik intruksi maupun petunjuk lainnya untuk difabel Netra. Mesin ATM mudah dijangkau oleh para difabel dengan kondisi Litle People (LP).

Data dan Fakta diatas merupakan gambaran kondisi unit pelaku jasa keuangan dan serangkaian kendala yang masih dialami masyarakat difabel. Sedangkan bentuk rekomendasi yang ditawarkan adalah sebagian kecil upaya yang dapat dilakukan bersama untuk menunjang aksesibilitas masyarakat difabel dengan ranah perbankan.

Aksesibilitas bagi masyarakat difabel tentu dapat diwujudkan, dengan memiliki kesadaran dan pemahaman yang sama terkait mutu layanan yang wajib sama diberikan, antara kepada masyarakat difabel dan nondifabel sebagai konsumen yang setara. Tidak dapat dipungkiri, keterlibatan masyarakat difabel dalam berbagai sektor ekonominya mampu menunjang percepatan indeks literasi dan inklusi keuangan global.

Patut diacungi jempol dan menjadi contoh pihak unit pelaku jasa keuangan lainnya, manakala sebuah bank mampu menyediakan aksesibilitas terkait mesin ATM yang dapat dijangkau oleh berbagai jenis difabel.

Di tahun 2019 ini, salah satu bank milik daerah di kawasan Indonesia bagian tengah, manyediakan mesin ATM yang tingginya kurang dari satu meter dari dudukan, dengan fasilitas ramp sehingga mudah diakses difabel pengguna kursi roda dan litle people (LP). Meski belum berlebel ATM bersama, mesin ATM tersebut menjadi sebuah icon perubahan positif dari layanan sebuah bank.

Adalah Dinna Noach, seorang mahasiswi difabel litle people di salah satu kampus di Kupang, yang telah berhasil melakukan advokasi pada ranah perbankan. Melalui lomba karya tulis ilmiah yang diadakan oleh pihak bank, Dinna memaparkan tulisan yang dibuatnya bukan semata-mata untuk mengikuti lomba saja.

Dihubungi jurnalis Solider via WhatsApp, Dinna mengatakan,”Saya bukan sekedar nulis ikuti lomba saja, tapi intinya ingin melakukan advokasi melalui tulisan tersebut,” kata Dinna.

Mesin ATM tersebut relatif mudah diakses oleh pengguna kursi roda dan Litle People. Namun Dinna mengakui hal itu belum optimal. Dinna memaparkan, mesin ATM tersebut belum ada tulisan braille. Akses untuk difabel Netra masih sama seperti mesin ATM lain pada umumnya dengan perintah intruksi secara umum belum dengan detil.

Potret keberhasilan difabel dalam melakukan advokasi pada ranah perbankan lewat tulisan yang dapat direalisasikan merupakan sebuah contoh praktik baik. Mungkin suatu saat ia dapat menikmati mesin ATM yang ramah bagi dirinya. Hal ini tentu patut dijadikan contoh. Saatnya pengambil kebijakan mengeluarkan standarisasi mesin ATM yang ramah terhadap difabel. Inklusifitas adalah sebuah keniscayaan. Zaman sudah semakin terbuka, pemerintah dengan berbagai kebijakannya telah melakukan berbagai langkah untuk mewujudkan perekonomian dan akses jasa keuangan yang inklusif. Tinggal bagaimana kita mengawalnya agar terus berlanjut dan menjadi standar baru.  

Keterampilan advokasi merupakan sebuah ilmu seni yang tentunya sangat dipengaruhi oleh kemampuan berkomunikasi. Keterampilan mengadvokasi sebuah isu sangat penting untuk ditanamkan, segala sesuatu dapat berubah kearah lebih baik. Asalkan tetap didorong dan tetap dikawal dengan baik.

 

Reporter   : Srikandi Syamsi

Editor        : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.