Lompat ke isi utama
iklan biskuat di televisi

Difabel dalam media arus utama: upaya mengubah persepsi

Solider.id, Yogyakarta – Sadar atau tidak disadari, baru-baru ini ada dua iklan yang memasukkan unsur kebudayaan difabel dalam isi iklannya. Iklan pertama adalah iklan Biskuat, sebuah biscuit yang diproduksi oleh Mondelez Indonesia  Merek ini juga dikenal sebagai Tiger di negara-negara Asia Tenggara selain Indonesia dan menyasar konsumen anak-anak usia 5 – 11 tahun. Skena iklan juga menggunakan peran anak-anak usia tersebut.

Iklan ini mengambil setting di sebuah sekolah. Dalam jalinan cerita awalnya, dikisahkan ada seorang anak Tuli yang sedang terkena perundungan oleh teman-teman sekolahnya. Karakteristik Tuli terlihat dari alat bantu dengar yang ia gunakan. Anak Tuli ini diam saja saat teman-temannya melakukan perundungan terhadapnya. Dalam adegan selanjutnya, anak yang melakukan perundungan tidak sengaja melihat anak Tuli ini sedang berlatih olahraga bela diri dengan orang yang lebih dewasa. Adegan selanjutnya diakhiri dengan anak yang melakukan perundungan yang mendekati anak Tuli dan bertanya mengapa selama ini ia diam saja. Anak Tuli menjawab dengan gerakan bahasa Isyarat beserta caption, “Ayahku bilang, kuat itu ada di dalam hati dan pikiran.”

Dalam analisa saya, setidaknya ada tiga pesan penting—baik disadari atau tidak disadari oleh pembuat iklan—yang disampaikan oleh iklan Biskuat ini terkait isu difabel usia sekolah. Pertama, kasus perundungan terhadap difabel memang realitas yang banyak terjadi baik di dalam lingkungan sekolah atau di luar sekolah. Masih hangat, berita tentang penganiayaan yang berujung pada tewasnya anak difabel di sebuah Tempat Pelayanan Anak Dinas Sosial Kota Pontianak. Masih teringat pula, kisah perundungan terhadap mahasiswa difabel di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Belum juga berbagai kisah perundungan terhadap difabel yang tidak terekspos oleh media, atau ditutup-tutupi oleh keluarga.

Pesan kedua adalah pesan tentang sekolah inklusif. Setting sekolah dalam iklan Biskuat adalah sebuah sekolah negeri inklusif. Memang sudah seharusnya difabel bisa bersekolah dengan leluasa di sekolah-sekolah negeri tanpa perlu dipaksa untuk bersekolah di institusi pendidikan khusus. Pesan ketiga adalah bahasa Isyarat yang digunakan oleh pemeran anak di iklan ini yang memberikan pesan bahwa difabel Tuli memiliki medium sendiri dalam berkomunikasi dalam bentuk bahasa Isyarat.

Iklan kedua adalah iklan layanan masyarakat tentang bahaya berkendara motor bagi anak di bawah umur. Dalam ceritanya, ada seorang anak yang berhasil mendapat ranking di sekolahnya dan meminta hadiah kepada orang tuanya. Si orang tua, yang sa at itu merasa bangga, menghadiahkan sebuah sepeda motor, meski si anak masih berada di bawah umur dan secara legal masih belum boleh berkendara. Adegan selanjutnya adalah situasi ketika si anak ini mengalami kecelakaan dan membuat kakinya diamputasi. Ia pun harus menggunakan kursi roda. Orang tua anak ini digambarkan merasakan kepedihan yang luar biasa dan mengekspresikannya ke dalam tangis.

Iklan kedua ini memang memberikan pesan utama bahwa anak di bawah umur tidak diperbolehkan mengendarai kendaraan sepeda motor. Namun, ada pesan lain yang ditangkap dari iklan ini bahwa kita semua punya potensi untuk menjadi difabel, salah satunya disebabkan oleh kecelakaan bermotor. Pesan itu memang tidak disampaikan dalam iklan ini, dan mungkin saja tidak disadari. Besarnya potensi untuk menjadi difabel seharusnya menjadi pengingat bahwa lingkungan inklusif bagi difabel adalah hal yang waji untuk dihadirkan, bukan hanya karena non difabel berpotensi menjadi difabel kapan saja, namun juga karena keluarga dari non difabel yang punya potensi sama besarnya untuk menjadi difabel.

Kekuatan Iklan memang besar dalam mengubah persepsi. Studi dari Nielsen pada 2018 menunjukkan bahwa durasi menonton TV masih tertinggi, yaitu rata-rata 4 jam 53 menit setiap harinya. Durasi mengakses Internet menjadi tertinggi kedua yaitu rata-rata 3 jam 14 menit per harinya; disusul oleh mendengarkan Radio (2 jam 11 menit), membaca Koran (31 menit) dan membaca Majalah (24 menit).

Dengan durasi jam tersebut, iklan yang muncul di medium seperti televisi berpotensi besar bisa mengubah persepsi orang yang menontonnya. Apa yang terus menerus muncul dan kita lihat memang bisa secara tidak sadar masuk ke dalam alam bawah sadar kita. Begitulah fungsi iklan yang diputar terus-menerus. Kadang kita tak sadar bisa menirukan nada jargon sebuah iklan yang sebenarnya tidak kita niatkan untuk mengingatnya.

Selain iklan, ada banyak medium dalam media arus utama yang sudah muncul dan punya potensi besar dalam memperkenalkan difabel dengan segala kebudayaannya. Beberapa bulan yang lalu, saya pernah menulis tentang Nusa, sebuah animasi lokal bernafaskan Islam yang mengenalkan aktifitas Islam sehari-hari kepada anak kecil. Yang menarik dari serial animasi Nusa adalah peletakan karakter Nusa yang difabel dengan tidak menjual kedifabelan, seperti layaknya media kebanyakan. Nusa diceritakan sama dengan anak kecil pada umumnya. Ia suka jahil dengan adiknya. Ia bisa marah dengan PR yang menurutnya terlalu susah. Ia juga suka ngebut dengan sepeda mungilnya. Tidak ada gambaran batasan yang dihadapi Nusa yang sering digambarkan oleh media-media lainnya.

Ada pula konten-konten alternatif dalam Youtube yang mulai memperkenalkan budaya difabel. Salah satunya adalah band Yogyakarta Endank Soekamti yang sempat merilis beberapa video musik dengan berbahasa Isyarat. Konten-konten seperti ini menjadi media sosialisasi alternatif dan penting. Mengapa penting? Generasi milenial saat ini adalah generasi yang semakin banyak menggandrungi isu-isu sosial. Itu mengapa gerakan-gerakan filantropi banyak berkembang sebagai sebuah gerakan komunal anak muda. Dengan menunggangi tren seperti itu, isu difabel bisa berkembang dan diperkenalkan kepada khalayak ramai melalui media-media arus utama maupun yang alternatif.

Dalam ilmu politik ada sebuah propaganda yang digunakan untuk mengalahkan lawan politik lainnya. Propaganda itu disebut dengan firehouse of falsehood (selang pemadam kebohongan). Prinsip bekerjanya adalah dengan memberikan informasi-informasi sebanyak-banyaknya kepada audiens agar alam bawah sadar mereka menerima dan mengganggap hal tersebut sebagai sebuah kebenaran. Teknik propaganda ini disinyalir banyak dipakai oleh Donald Trump, dan Bosonaro di Pemilu Brasil. Teknik ini juga menjelaskan bahwa informasi apapun, meskipun itu salah, jika dimasukkan secara terus menerus ke dalam kepala orang yang menonton, maka informasi tersebut akan dianggap benar.

Mengambil jalan kerja dari psikologi informasi seperti itu, isu difabel bisa banyak menggunakan prinsip informasi yang diberikan secara terus menerus. Jika dalam diskursus politik, firehouse of falsehood cenderung negatif karena menggunakan kerangka informasi yang tidak benar, isu tentang difabel berbeda karena informasi yang diberikan adalah realitas difabel yang jujur, bagaimana difabel mengalami diskriminasi. Jadi, selain melakukan advokasi terhadap regulasi dan pemangku kebijakan, salah satu cara memberikan sosialisasi tentang difabel kepada masyarakat yang sudah semakin digital adalah dengan membanjiri mereka dengan konten-konten yang membahas tentang difabel dan kebudayaannya. Jika hal ini terjadi, dan peran ini juga diambil oleh media arus utama, saya cukup yakin masyarakat yang inklusif bisa semakin dekat dihadirkan, tentu dengan cara penyampaian media arus utama yang tepat, entah itu melalui iklan, lagu ataupun serial.

 

Penulis: Yuhda

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.