Lompat ke isi utama
berbagi cerita praktik baik bersama Voice for Inclusion

RINDI-SIGAB Sebagai Nominasi Penerima Penghargaan Internasional

SIGABSolider.id, Yogyakarta - Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia, sejak 2015 telah menginisasi program Rintisan Desa Inklusi (RINDI). Menumbuhkan inklusi dari desa menjadi tujuan dari program RINDI. Inklusi membumi yang tumbuh dari akar rumput ini, pada awalnya diujicobakan di delapan desa. Enam desa berada di Kecamatan Lendah Kulon Progo, dua lainnya di desa Sendangtirto dan Sendangadi Kabupaten Sleman.

RINDI tahap awal (pertama) tersebut berhasil mengubah cara pandang dan perilaku pemerintah desa, masyarakat pada umumnya, serta masyarakat difabel itu sendiri.   Difabel adalah bagian dari masyarakat dengan seluruh hak hidup yang sama, yang melekat sejak lahir. Keberhasilan tersebut ditandai dengan munculnya kebijakan yang responsif difabilitas. Di antaranya: pengalokasi anggaran desa, memfasilitasi lahirnya kelompok difabel desa dan kegiatannya, serta memenuhi aksesibilitas fisik dan nonfisik pada berbagai layanan pemerintahan desa.

Perubahan signifikan terjadi. Sehingga program RINDI #1 berlanjut ke RINDI #2. Bahkan pada 2019 berlanjut dengan RINDI #3 yang berkembang ke sembilan desa lain, di Kabupaten Kulon Progo dan Sleman. Karenanya, Program RINDI terpilih sebagai praktik baik (good practice) yang diapresiasi internasional.

 Sebuah organisasi yang fokus pada isu difabel, aksesibilitas, kesehatan reproduksi dan seksual dan keberlanjutan lingkungan atau Disability Accesibility Reproduction health and Environment (DARE THIS), menominasikan RINDI-SIGAB sebagai penerima penghargaan melalui program Voices for Inclusion. Bersama dua lembaga lain Cis Timor, lembaga yang fokus dengan isu pemberdayaan kaum marginal, serta RPI Semarang dengan fokus inklusivitas dan kesehatan reproduksi.

Belajar isu inklusivitas

Bertempat di Kantor SIGAB Indonesia ketiga lembaga tersebut belajar bersama isu inklusivitas dan interseksionalitas (lintas isu) melalui workshop selama tiga hari, 5-7 Agustus 2019. Sebagaimana telah dilansir pada unggahan tulisan sebelumnya, dengan link https://www.solider.id/baca/5383-mengenal-project-voices-for-inclusion

Kerstin Beise, Fasilitator Program Voices for Inclusion sekaligus direktur DARE THIS, Indonesia yang berkantor di Makasar memberikan penjelasan. Lima negara dari dua benua Asia dan Afrika (Sierra Leone, Rwanda, Nigeria, Indonesia, dan Filipina) diundang untuk berpartisipasi dalam program yang difasilitasinya. Tujuannya belajar mengenai inklusivitas dan lintas isu (intersektionalitas).

“Pada tiap-tiap negara, kami mencari satu orang difabel dan satu orang fasilitator, untuk mengorganisir ini semua,” jelasnya.

Kedua, kata Kerstin, bagaimana praktik baik mengadvokasi masyarakat, strategi advokasi lintas isu atau interseksional ini akan dilombakan untuk mendapatkan penghargaan (award). Namun award bukan salah satu tujuan, yang paling penting mendapatkan pengetahuan dan pengalaman selama belajar bersama. “Proses belajar  bersama, ini paling penting. Award adalah hasil dari proses bersama ini,” kata Kerstin pada Solider.

“Nantinya akan ada lima penghargaan untuk masing-masing negara. Namun ada satu lagi penghargaan yang akan diberikan kepada negara juga lembaga yang terpilih. Yang terbaik di antara yang baik,” jelas Kerstin.

RINDI potensial diadopsi

Menanggapi hal tersebut, direktur SIGAB, Suharto mengaku senang dapat terpilih dalam kegiatan Voices for Inclution ini. Dengan demikian praktik baik yang telah Sigab lakukan mendapat pengakuan dari para pakar internasional. Selain itu dia juga mengatakan kebahagiannya dapat berbagi pengalaman dengan lembaga lain. Itu berarti datang kesempatan untuk mengenalkan perspektif difabilitas kepada lembaga lain. Harapan mereka bisa melakukan intervensi yang tepat ketika menemui klien difabel.

Suharto juga menjelaskan mengapa RINDI menjadi salah satu program yang dinominasikan, di antara program SIGAB lainnya. “RINDI dinominasikan karena telah berhasil mengubah desa yang sebelumnya tidak memperhatikan difabel menjadi inklusif, menjadi terbuka dan memberikan kesempatan pada masyarakat dengan difabilitas. Pengalaman desa-desa inklusif ini potensial untuk diadopsi di daerah lain seperti Nusa Tenggara Timur,” terangnya.

Workshop diharapkan sebagai media saling belajar terkait isu yang beragam (interseksionalitas). Belajar interseksionalitas melalui program Voices for Inclusion ini harapannya desa-desa inklusif dampingan peduli dapat dikembangkan menjadi inklusif bagi semua orang, termasuk semua kelompok rentan yang ada di desa.

Di akhir perbincangan dengan Solider, Suharto menggaris bawahi bahwa program Voices for Inclusion memberi kesempatan kepada setiap lembaga untuk belajar dari pengalaman dan kisah sukses lembaga lain. “Hal ini mengajari kita semua untuk memahami isu kelompok-kelompok lain. Ini sangat bagus untuk mengupayakan inklusi bagi semua kaum marginal”. Pungka Suharto.

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.