Lompat ke isi utama
suasana workshpp voice di Sigab

Mengenal Project Voices for Inclusion

Solider.id,Yogyakarta - Senin (5/7/2019) di ruang pertemuan Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia, dilangsungkan workshop tiga organisasi di Indonesia. Tiga organisasi tersebut ialah SIGAB Indonesia sendiri, Cis Timor dari Nusa Tenggara Timur, dan RPI dari Semarang. Ketiganya adalah nominator pada Project Voices for Inclusion atau menyuarakan inklusivitas. Yakni sebuah project  yang berfokus pada pembelajaran antara berbagai jenis kelompok yang terpinggirkan. Di antaranya: anak, perempuan, difabel, pemuda perbatasan, dan lain sebagainya.

Di bawah The Liliane Foundation, sebuah yayasan dari Belanda dengan fokus isu kedifabilitasan dan pembangunan. Project Voices for Inclusion memiliki platform  menyatukan kelompok-kelompok yang terpinggirkan dari Afrika dan Asia, melalui pertukaran pengetahuan peer-to-peer dalam advokasi.

Tahun 2019, lima negara (Sierra Leone, Rwanda, Nigeria, Indonesia, dan Filipina) mendapatkan kesempatan mendokumentasikan praktik baik (good practice) yang telah dijalankan. Dari Indonesia terpilih tiga organisasi dengan good practice masing-masing. Ketiga organisasi tersebut ialah Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia, Cis Timor dan RPI Semarang.

Selanjutnya melalui Voices for Inclusion praktik-praktik baik masing-masing organisasi terpilih, dikolaborasikan. Praktik baik yang efektif dan mengarah dapat mempengaruhi perubahan kebijakan akan mendapatkan penghargaan (award).

SIGAB Indonesia, dengan program Rintisan Desa Inklusi (RINDI) terpilih sebagai salah satu nominasi. Praktik baik RINDI yang diinisiasi sejak 2015 nyata telah mempengaruhi kebijakan pemerintah mulai dari level desa. Pada awalnya RINDI diujicobakan di delapan desa. Enam desa di kecamatan Lendah Kabupaten Kulon Progo dan dua desa di Kecamatan Sendangadi dan Sendangtirto, Kabupaten Sleman.  Selanjutnya berkembang ke sembilan desa lain masih di dua kabupaten sama di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Belajar bersama

Pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2019, tiga organisasi yang terpilih di masing-masing negara akan mengunjungi satu sama lain. Hal ini untuk memahami pendekatan satu sama lain dalam mempengaruhi kebijakan dan praktik, berdasarkan praktik baik yang telah didokumentasikan. Kunjungan peer-learning ini dipandu oleh konsultan nasional, yakni DARE THIS.

Selanjutnya hasil dari kunjungan akan didokumentasikan dan dibahas lebih lanjut. Untuk Indonesia pembahasan disentralkan di Bali pada 20 Agustus 2019. Selanjutnya, hasil pembelajaran akan ditangkap dalam satu laporan pembelajaran per negara.

Pada November 2019, perwakilan dari 15 organisasi yang berpartisipasi akan berkumpul untuk acara pembelajaran internasional selama tiga hari di Belanda. Dua hari pertama, para peserta akan membagikan praktik-praktik baik mereka tentang advokasi dan belajar tentang pentingnya titik temu untuk advokasi yang efektif. Hari ketiga akan menjadi partisipasi untuk acara publik, semacam public hearing.

Menurut penjelasan fasilitator Project Voices for Inclusion, Kerstin Beise, selama acara pembelajaran, penghargaan akan diberikan untuk praktik-praktik baik yang paling berpengaruh dan yang paling patut dicontoh. Selain itu, Voices for Inclusion Award akan diberikan kepada pemilik proposal proyek yang paling inovatif, dengan fokus pada advokasi dengan pendekatan titik temu.

Masih adanya sebagian masyarakat yang menghadapi pengucilan di berbagai tingkatan, berdasarkan jenis kelamin, usia, etnis, kedifabilitasan, kelas, orientasi seksual, melatarbelakangi project itu. Selebihnya masih adanya diskriminasi yang dihadapi oleh sebagian masyarakat karena berbagai alasan secara bersamaan. Sebagai contoh: anak perempuan difabel. Mereka ini mengalami diskrimnasi berlapis, tiga kali terdiskriminasi. Yaitu karena usia (anak), jenis kelamin (perempuan) dan karena difabel. 

“Strategi advokasi yang efektif untuk mengatasi kompleksitas diskriminasi atau pengucilan sosial dibutuhkan. Agar strategi advokasi menjadi lebih inklusif, pendekatan titik temu akan memberikan wawasan tentang cara merespons kebutuhan spesifik yang beragam,” jelas Kerstin.

 

Reporter: harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.