Lompat ke isi utama
saat jajaran kepolisian dilatih berinteraksi dengan difabel

Jajaran Kepolisian di DIY Dilatih Mahir Berinteraksi dengan Difabel

Solider.id, Yogyakarta - Senin, 5 Agustus 2019 Polda DIY melaksanakan kegiatan pelatihan bagaimana cara berinteraksi dengan difabel khususnya difabel netra dan Tuli. Pelatihan ini diikuti oleh 104 peserta Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres dan Polsek se Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan yang dilaksanakan dari pukul 08.00 sampai 15.00 WIB berlangsung di aula Ditpamobvit Polda DIY.

“SPKT merupakan pintu utama dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat termasuk difabel. Karena Polri sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat maka kegiatan pelatihan bagaimana cara berinteraksi dengan difabel ini dilaksanakan untuk peningkatan kualitas pelayanan”, ungkap Kombes Pol Endang Widowati, SH. sebagai Karo Sumber Daya Manusia Polda DIY.

Pelatihan ini merupakan yang kedua, setelah satu tahun lalu kegiatan serupa dilaksanakan dalam lingkup kecil khusus Polda DIY. Kegiatan tersebut hanya diikuti oleh 15 personil Polda DIY. “Harapannya kedepan personil mampu melayani masyarakat termasuk difabel dengan maksimal dan karenanya personil ini diberikan bekal pelatihan Bahasa Inggris sebelumnya dan sekarang pelatihan bahasa isyarat”, imbuh Endang Widowati.

AKBP Kristiono selaku Kepala SPKT Polda DIY menyampaikan bahwa Yogyakarta sebagai kota pariwisata, melayani masyarakat keseluruhan dengan tidak membedakan baik itu ras, suku, agama, termasuk difabel harus dilayani dengan sepenuhnya tanpa kecuali. “Selain melayani masyarakat dengan promoter (Profesional, Modern, Terpercaya), kami juga akan membuat MoU (nota kesepahaman) dengan Komite Disabilitas karena kegiatan ini akan dijadikan program tahunan”, terang Kristiono.

Wahyu Triwibowo sebagai Tuli salah satu narasumber dari Pusat Bahasa Isyarat Indonesia menyampaikan, “Kami sangat mengapresiasi ada pelatihan ini meskipun kegiatan ini sebetulnya kurang memuaskan karena waktu yang diberikan terlalu singkat. Namun antusiasme peserta sangat luar biasa semangat, tepat waktu dan semangat hingga akhir kegiatan. Tadi kami sampaikan bahwa melayani pelapor Tuli, baik dia sebagai pelaku atau sebagai korban, petugas SPKT harus memberikan waktu penuh kepada Tuli untuk bercerita dan petugas SPKT siap untuk mencatat informasi yang disampaikan Tuli meskipun terkadang informasi yang disampaikannya tidak berurutan.”

Dalam materi yang disampaikannya, Wahyu Triwibowo menjelaskan bahwa Tuli bukan kata yang kasar. Banyak Tuli yang takut berhadapan dengan polisi karena selama ini polisi kurang memiliki kedekatan dengan Tuli. Ketidakdekatan ini memungkinkan bagi Tuli dalam penyampaikan informasi kepada polisi akan menemui hambatan. Wahyu memberikan tips agar petugas SPKT memberikan senyum dan mempraktikkan sedikit bahasa isyarat seperti memperkenalkan nama dengan huruf bahasa isyarat agar Tuli merasa nyaman, terbangun rasa percaya, dan mampu menyampaikan informasi dengan optimal.  

 

Reporter: Ramadhany Rahmi

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.