Lompat ke isi utama
Hesti Fatmasari dari Poros Belajar sedang menerangkan materi tentang media sosial Instragram

KDD Manfaatkan Peluang Media Sosial

Solider.id, Kulon Progo- Media sosial menyimpan potensi bagi pengguna untuk melakukan banyak hal, salah satunya mengkampanyekan gagasan inklusi. Potensi tersebut coba digali Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia bersama 30 Kader Difabel Desa (KDD) Rintisan Desa Inklusi (RINDI) dalam lokakarya media sosial.

Lokakarya yang dilaksanakan di aula Kecamatan Wates merupakan lanjutan dari program Poros Belajar. Lokakarya bertujuan untuk mendiskusikan peluang dan strategi yang tepat dalam mengkampanyekan gagasan inklusi. Sekaligus memberikan pemahaman bagaimana menggunakan media sosial dengan bijak.

“Di sini kawan-kawan KDD belajar bersama untuk memahami bagaimana peluang yang ada bisa dibagikan di sosial media,” tutur Rohmanu koordinator program RINDI, ketika membuka lokakarya (28/7).

Menurut Rohmanu, media sosial menjadi alat ampuh untuk mensosialisasikan apa yang sedang dikerjakan KDD. Mulai dari aktifitas, gagasan atau ide, dan praktik baik lainnya yang mendorong perubahan menuju masyarakat inklusif. Jangkauan yang luas di media sosial memungkinkan tersalurkannya informasi ke seleruh daerah, khususnya desa.

Selain itu, jika selama ini media sosial yang dimiliki masing-masing KDD bersifat pribadi. Pada kesempatan lokakarya tersebut, KDD juga diberikan pemahaman dalam mengelola media sosial yang dibuat secara kolektif. Hal itu menjadi lorong koordinasi antar KDD yang sangat efektif dan mudah dijangkau. Peluang lainnya, pemerintah desa, secara cepat dapat mengetahui perkembangan gagasan inklusi dijalankan.

“Media sosial memberikan pilihan kepada KDD, untuk bisnis atau eksis? ,” pungkas Hestina Fatmasari, salah satu pembicara dalam lokakarya. Menurutnya, media sosial menjadi ruang bagi apapun. “Misal KDD punya produk keset, di sana dia bisa mensosialisasikan dan membranding agar masyarakat tahu.”

Media sosial sebagai alat, menurut Hesti, sapaan akrabnya, mempunyai sisi yang sangat rentan digunakan pengguna sebagai media yang melahirkan dampak negatif. Maka dari itu, media sosial membutuhkan gagasan yang bersifat konstruktif atau membangun.

“jadi tergantung siapa yang menggunakan. Kalau media sosial digunakan untuk berjuang, maka melahirkan perubahan,” imbuh Hesti.[]

 

Redaksi

The subscriber's email address.