Lompat ke isi utama
Beberapa KDD sedang mengerjakan tugas kelompok terkait menyusun kerangka pendataan

Pendataan Difabel Sebagai Modal Awal Desa Inklusi

Solider.id, Yogyakarta- Pendataan difabel menjadi modal awal dalam membangun gagasan desa inklusi. Pendataan mambantu memberikan gambaran situasi, kondisi dan potensi yang ada di lingkungan di mana gagasan tersebut akan dimulai.

Rohmanu Solikhin, kepala program Rintisan Desa Inklusi (RINDI) mempertajam bagaimana peran penting dari akivitas pendataan. Pendataan memungkinkan difabel untuk menyadari dirinya sendiri dan bagaimana membaca peluang yang ada. Selain itu, pendataan dapat membantu di wilayah struktur, seperti pemerintah desa dalam memberikan hak bagi warga difabel.

“Dengan data difabel, pemerintah desa, pemerintah pusat dan komunitas swasta akan lebih peduli dan mudah untuk membuat program yang tepat untuk kepentingan dan hak-hak difabel di desa,” pungkas Rohmanu (18/7).

Lebih lanjut, Rohmanu mengatakan pendataan difabel yang dilakukannya tidak berdasar pada model yang sering dipakai umum, seperti Sensus Penduduk. Melainkan menggunakan model apa yang sering disebut sebagai model Washington Group.

“Pendataan ini berfokus pada hambatan dan kerentan difabel, bukan hanya seberapa banyak kuantitas difabel di sebuah desa,” tutur Rohmanu.

Pelatihan pendataan kali ini merupakan tahap kedua perluasan Program RINDI di sembilan desa di DIY. Seperti Desa Sindutan, Ngestiharjo, Hargomulyo, Banyuroto, Hargorejo, Giripeni, Pandoan, Karagsari dan Banjararum. Pelatihan diberikan kepada para Kader Difabel Desa (KDD) dari masing-masing perwakilan desa.

Rohmanu berharap, dari pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari 18-19 Juli di pendopo desa Ngestiharjo tersebut, KDD dapat memahami daris besar pendataan. Mulai dari pengenalan form dan konten pendataan difabel, pembekalan teknik-teknik pendataan melalui wawancara dan pencatatan dan pemberitahuan tugas serta peran tim pendataan.[]

 

 

Redaksi

The subscriber's email address.