Lompat ke isi utama
salah satu sesi dalam IDF

Gagasan pendidikan inovatif bagi difabel

Solider.id, Jakarta – saat mengikuti salah satu sesi pada Indonesia Development Forum yang berlangsung di Jakarta Convention Center awal pekan lalu, terdapat ide yang cukup menarik yang dapat direplikasi dan diterapkan terkait inovasi dan pengembangan pendidikan kejar paket bagi difabel.

Pada saat sesi improving the quality of human capital  membahas tentang kualitas dan biaya pendidikan di Indonesia. Andri Rizki Putra (27), salah satu pembicara pada sesi ini membuat decak kagum para peserta karena konsep pendidikan yakni kejar paket untuk asisten rumah tangga yang notabene  berpendidikan rendah, di mana bisa mengatur waktu tanpa meninggalkan pekerjaannya. Rizki adalah pendiri Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) sebuah yayasan berbasis swadaya masyarakat untuk mereka yang putus sekolah dan ingin melanjutkan pendidikannya tanpa batas usia, dan pekerjaan secara gratis untuk siapa pun serta konsep pendidikan di YPAB yang fleksibel.

"Tutor di YPAB merupakan anak-anak muda berusia 20–30 tahun dengan berbagai latar belakang pendidikan dan profesional. Mereka menjadi relawan setia yang mengajar tanpa bayaran." Ucap Rizki.

Terkadang Rizki juga menjalin kerja sama dengan relasinya di luar negeri seperti Meksiko dan Malaysia untuk mengajar di YPAB. Tidak pelak, murid-murid putus sekolah yang selama ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat akhirnya mau tidak mau belajar berbicara dengan bahasa Inggris. Hal lain yang membanggakan, sudah banyak murid schooling Rizki yang meningkat taraf hidupnya, dari tukang jual koran menjadi pegawai admin di media, dari pembantu rumah tangga (PRT) menjadi admin di perkantoran. Bahkan, salah seorang murid yang sehari-hari berjualan pisang goreng di Tanah Abang, menjadi peraih nilai ujian nasional paket B tertinggi nasional. Dari sisi kurikulum, selain menggenjot kemampuan bahasa, dia akan menambahkan praktik entrepreneurship.

Melalui YPAB, Rizki dan segenap relawan berusaha menanamkan pendidikan kesetaraan gratis yang berkualitas dan menanamkan prinsip kejujuran dan keberagaman.

"Kami tidak butuh murid yang pintar, tapi jujur dan berintegrasi." Ujar Rizki.

Hal ini membuat penggiat difabel yang juga konsultan Australia Indonesia Partnership for Justice (AIPJ), Muhammad Joni Yulianto tertarik untuk menerapkan sistem ini ke difabel. Ia ingin mengadopsi sistem ini untuk anak-anak difabel yang putus sekolah.

"Saya tertarik model sistem yang di jalankan oleh Rizki, karena banyak anak difabel di daerah saya yang putus sekolah, bukan karena anaknya tidak mau sekolah, tetapi karena ada putusan dari guru untuk meninggalkan sekolah".  Kata Joni yang juga pendiri Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (Sigab).

Sistem ini menarik sekali jika menjadi alternatif akses untuk anak-anak difabel yang putus sekolah.

"Memang kebijakan pemerintah sudah beranjak ke pendidikan yang inklusif, tetapi kenyataannya di lapangan tidak seperti yang di bayangkan, jadi saya berpikir untuk mengadopsi model ini untuk menguatkan akses pendidikan bagi anak-anak difabel." Tukas Joni.

Andri Rizki Putra menjelaskan semua orang bisa sekolah formal dan payung hukum di Indonesia telah memberikan segala akses dari faktor biaya, jarak sekolah yang jauh, keterbatasan transportasi, dan juga kondisi keterbatasan fisik atau sudah berumah tangga. Mengutip perkataan ki Hajar Dewantara, setiap rumah adalah perguruan dan setiap orang adalah guru. Melihat gagasan ini, lingkungan terdekat yaitu rumah dan pemerintah telah menyediakan payung hukumnya.

"Jadi bagi saya ini sangat potensial untuk kita replikasikan untuk teman-teman yang berkebutuhan secara spesifik sehingga bisa menjadi jalan untuk menciptakan inklusifitas pendidikan ke depan." Tutur Rizki.

 

Reporter: Oby

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.