Lompat ke isi utama
foto pengukuhan doktor Ishak Salim

Pengukuhan Doktor Ishak Salim, Sebuah Kemenangan Pergerakan Difabel

Solider.id, Yogyakarta- Praktik dominasi satu rezim pengetahuan medik “lazim” dijumpai dalam kehidupan bermasyarakat. Menjadi lazim dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama, karena kelompok masyarakat yang terhegemoni tidak mampu keluar dari kuasa nilai-nilai ideologis yang diciptakan dan dibangun kuasa pengetahuan tersebut. Sebagaimana yang terjadi pada kelompok masyarakat dengan difabilitas (difabel).

Cukup lama kelompok ini dikungkung dan tidak berdaya menolaknya. Dominasi rezim pengetahuan medik memandang difabel dengan sudut pandang terkait dengan tubuh dan kesehatan. Sehingga kedifabilitasan dimaknai sebagai orang sakit, orang yang harus direhabilitasi, diobati agar sembuh dan tidak lagi menjadi difabel.

Konsep tersebut berimplikasi secara intrinsik maupun ekstrinsik pada diri difabel. Masyarakat mengasihani (karitatif) difabel, adalah sikap ekstrinsik yang diterima difabel akibat konsep negatif tersebut.  “Kasihan sekali ya, tidak bisa jalan, tidak bisa melihat, tidak bisa bicara dan sebagainya”. Stigmatisasi serupa mengakar dan melahirkan sikap mengasihani, menjadikan difabel sebagai obyek penerima bantuan.

Cara pandang demikian berlangsung cukup lama, karena difabel tidak kuasa keluar dari paradigma yang melemahkan nilai kemanusiaan. Celakanya, relasi kuasa yang dibangun rezim pengetahuan medik juga berdampak secara intrinsik terhadap difabel. Ada sebagian masyarakat difabel yang tidak menyadari, justru menikmati kondisi distigma, dikasihani, dijadikan obyek. Sebuah ironi terjadi, kelompok difabel ini hanya sanggup berpikir tentang diri sendiri, tidak peduli dengan nilai kemanusiaan yang dimatikan, dihilangkan martabat dan harga diri.

Menolak hegemoni pelemahan nilai kemanusiaan yang cukup lama dan mengakar dampaknya, membuat keprihatinan dan mewujud dalam sebuah gerakan. Keluar dari Hegemoni Pencacatan, sebuah gerakan yang dipraktikkan oleh Ishak Salim. Aktivis yang juga peneliti ini melakukan riset, dan mengangkatnya dalam sebuah karya disertasi untuk meraih gelar doktoralnya. Sebuah disertasi yang menyajikan bagaimana aktivisme melawan pelemahan nilai kemanusiaan.

Gebrakan dan gerakan yang menghentak tentu saja, mengagetkan dunia yang telah terbiasa dengan cara pandang negatif terhadap difabel. Ishak sadar betul bahwa beragam model dan gerakan difabilitas selama ini, tidak lain adalah bagian dari relasi kuasa itu.

Dalam sepenggal tulisan yang diunggahnya melalui media sosial, Ishak mengaku tahu betul bahwa tidak semua warga setuju dengan stigmatisasi itu. Bahkan banyak yang tidak sepakat dengan pelabelan negatif terhadap beragam kedifabilitasan. Dari pergulatannya dengan para aktivis, disimpulkannya bahwa  tidak semua difabel menginginkan diperlakukan secara segregatif. Difabel harus sekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB), ini sebuah contoh tindakan segregatif difabel dengan nondifabel.

Ishak menuturkan, bagaimana difabel melakukan gerakan melawan segala bentuk diskriminasi yang dilakukan oleh para ableist (pihak yang beranggapan bahwa tubuh yang lengkap lebih superior dari difabel). Pada intinya, bagaimana gerakan aktivis difabel melawan praktik stigmatisasi berdasar pada pandangan hegemoni pengetahuan biomedik, dikawalnya. Sejumlah temuan dan analisis atas fakta-fakta relasi kuasa dituliskannya.

Patut gembira, karena Ishak Salim, bapak tiga anak itu berhasil meraih gelar doktor bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dia berhasil mempertahankan disertasinya pada sidang ilmiah di Ruang Auditorium Mandiri, Gedung BB Lantai 4 Fisipol UGM. Jalan Sosio Yustisia, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (27/7). Aktivis dan peneliti yang aktif di Pergerakan Difabel untuk Kesetaraan (PerDIK) Sulawesi Selatan dan SIGAB ini, dipromotori oleh Prof. Dr. Purwo Santoso, MA dan ko-promotor Dr. Suripto, S.IP., MA. berhasil mempertahankan karya risetnya di hadapan tim penguji, dan dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan.

Kemenangan gerakan difabilitas

Sontak, tepuk tangan dari semua yang hadir bergemuruh di ruangan berukuran 10 x 12 meteran itu, menyambut kabar gembira yang disampaikan pimpinan sidang. Sidang terbuka selain dihadiri oleh keluarga, istri dan anak, juga para penggerak aktivisme difabel dari berbagai wilayah di Yogyakarta, Solo, dan sekitarnya.

Pengukuhan gelar doktor bagi Ishak Salim merupakan kabar kegembira sekaligus kemenangan bagi pergerakan aktivis difabel. Hal ini diakui oleh Direktur Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia Suharto. Apa yang sudah dilakukan Ishak sangat menarik, dapat membangun dialog antara dunia aktivisme dengan dunia akademik yang selama ini punya mazhab sendiri-sendiri.

“Sesuatu yang menarik yang dilakukan mas Ishak, adalah bahwa dialog antara dunia aktivisme dan dunia akademik itu telah menjadi pencerah gerakan difabilitas di Indonesia. Harapannya apa yang telah dilakukan Ishak dapat diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya,” ungkap Suharto.

Bagi gerakan difabilitas, kata dia, ini adalah satu kemenangan. Karena dapat mengajak orang yang semula tidak punya perhatian dan minat di isu di isu difabilitas. Tapi kemudian dengan ineteraksi yang intensif, melalui Participatory Action Research (PAR) membuatnya terlibat langsung di dalam komunitas. Lantas bergerak bersama, kemudian menjiwai dan menjadi bagian dari gerakan komunitas.

“Ini sebuah kemenangan kelompok difabilitas di Indonesia terhadap pergerakan keilmuan di Indonesia,” tandas Suharto. Apa yang dilakukan Ishak Salim, sejalan dengan visi dan misi SIGAB Indonesia. SIGAB menjadi tempat pembelajaran bersama. Meskipun kita pengurus yang sekian puluh tahun berpengalaman, kita tetap sama-sama belajar untuk membongkar ideologi kenormalan, termasuk juga membongkar ideologi kedifabilitasan itu sendiri. 

Di akhir perbincangan dengan Solider, Harto menegaskan bahwa di SIGAB, orang yang baru bergabung dan orang yang telah lama dan intens dalam gerakan, tetap selalu berdialog. Yang terpenting, lanjut dia, “Bagaimana perubahan paradigma menjadi perubahan cara berperilaku, mudah-mudahan juga berpengaruh pada cara membuat kebijakan,” pungkasnya.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.