Lompat ke isi utama
stand bazar pada jambore inklusi

Jambore Inklusi, Dari Kesan Peserta hingga Berkah Masyarakat Desa

Solider.id, Sukoharjo - Andi Setyawan, Ketua SHG/kelompok difabel mandiri dari Desa Kenokorejo Kecamatan Polokarto baru saja memangkas rambutnya menjadi model mohak yang populer di kalangan anak muda. Itu adalah hasil kerja tangan dingin Suroto dari Dusun Pundungrejo Desa Kenokorejo Polokarto yang membuka stan cukur gratis. Tak hanya Suroto, namun ada pula Mariyo, difabel yang siap memberi layanan cukur gratis kepada para peserta jambore penggerak desa inklusi yang berlangsung selama dua hari (24-25/7) di Desa Jatisobo Kecamatan Polokarto. Tidak jauh dari stand cukur Suroto dan Mariyo, Slamet, difabel asal Weru juga memberi layanan gratis untuk reparasi sol sepatu dan sandal. Tidak seperti lapak cukur, lapak yang dimiliki Slamet rupanya sepi pengakses. Dalam setengah hari pelaksanaan jambore inklusi di hari pertama, lapak Slamet lengang.

Kepada Solider yang mewawancarainya, Andi mengatakan bahwa jambore inklusi yang baru pertama kali ini diselenggarakan oleh Perkumpulan Sehati didukung oleh Program Peduli sangat berkesan. Apalagi setelah melihat keguyuban yang ditampilkan oleh karangtaruna serta ibu-ibu PKK setempat. Baginya, jambore inklusi sangat bermanfaat bagi masyarakat umumnya serta difabel pada khususnya. “Kita bisa belajar dari poin besar bahwa kita mampu, kita bisa tak ada perbedaan satu sama lain, bisa saling cerita pengalaman, dan berbagi kekompakan yang sangat luar biasa. Dengan kata lain, jambore inklusi membangkitkan semangat teman-teman agar bisa lebih mandiri,”tutur Andi Setyawan. Harapannya kegiatan semacam semoga bisa diadakan setiap tahun dan yang diundang lebih banyak lagi, melampaui luar Kabupaten Sukoharjo.

Andi, difabel fisik dengan satu kruk penyangga tubuh mengenal organisasi dan advokasi sejak bersekolah di BBRSBDF Prof. Soeharso. Apalagi dalam sejarahnya, Andi pernah menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh seseorang sehingga berujung ke pengadilan. Menurutnya, sebagai penggerak desa, sudah menjadi kewajibannya untuk menyebar virus-virus inklusi di desanya serta mengajak kawan difabel lainnya turut berkomunitas. “Saat acara refleksi semalam, sesungguhnya saya merasa sedih, gembira, campur aduk, dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,”imbuh Andi. Refleksi difabilitas dan inklusivitas di malam api unggun menurutnya adalah saat yang luar biasa karena di sana ia melihat bahwa kawan-kawan difabel tergugah semangatnya dan merenungi diri untuk pantang berputus asa dan selalu bersemangat untuk menggapai mimpi-mimpi.

Hal yang sama dikemukakan oleh Icuk Sugiarto, difabel dari Desa Rejosari Kecamatan Polokarto bahwa jambore inklusi adalah ajang untuk bertukar pikiran menyerap praktik baik yang dilakukan oleh para difabel penggerak yang sudah memiliki kelompok dan kegiatannya sudah diakomodir oleh pemerintah desa setempat dengan penerbitan Surak Keputusan (SK) sehingga bisa mengakses Dana Desa. Mereka berproses dari mulai perencanaan, musyawarah dusun, (musdus) hingga musrenbangdes. Beberapa difabel duduk di badan Permusyawaratan Desa (BPD) sehingga memiliki posisi strategis dalam perencanaan desa.

Jambore Inklusi Menyangga Ekonomi Kelompok Difabel

Dengan keterlibatan kelompok difabel mandiri di setiap desa dan ada beberapa yang mendapat kesempatan untuk membuka bazaar pada Jambore Inklusi, maka roda perekonomian kelompok berjalan lancar. Seperti yang diungkapkan oleh Purwanti dari Desa Jombor. Melalui kelompok Wijaya Mulya, Purwanti dan belasan difabel dan intelektual melakukan eksplorasi kerajinan batik yang diberi nama batik ciprat. Hasil karya dari Kelompok Wijaya Mulya dipasarkan dan mendapat pujian dan minat pembeli. Batik ciprat hasil karya Wijaya Kusuma juga menjadi souvenir yang diberikan kepada para peserta Jambore Inklusi. “Anak-anak yang membuat batiknya, saya yang menjahit menjadi totebag untuk souvenir,”terang Purwanti. Kelompok Wijaya Mulya, adalah shelter workshop yang beberapa waktu lalu mendapatkan pelatihan dari Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita  (BBRSBG) Kartini, Temanggung.

Gudel Purnomo, seorang keluarga difabel, istri Gudel Purnomo adalah pegiat difabel desa, meraup berkah atas penyelenggaraan Jambore Inklusi ini. Omsetnya sebagai pedagang bakso yang membuka warung di depan rumahnya meningkat dari hari-hari biasa. Selain berdagang, laki-laki yang biasa dipanggil ‘Pur’ tersebut juga menjadi relawan saat jambore inklusi. Rumah Pur menjadi salah satu dari 19 rumah yang ditinggali oleh para peserta jambore. Dari tujuh orang yang menginap, empat di antaranya berkursi roda dan kamar mandi di rumah Purnomo termasuk aksesibel. Kamar mandi tersebut dibangun dengan mendapat bantuan dari dinas kesehatan melalui program jambanisasi.

 

Reporter : Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.