Lompat ke isi utama
komunitas difabel bertemu dengan kepala Bappeda DIY

Bertemu Kepala Bappeda, Komunitas Difabel Yogyakarta sampaikan Berbagai Survey Aksesibilitas

ohana audiensi bappeda diySolider.id, Yogyakarta - Jumat, 26 Juli 2019 Perkumpulan OHANA (Organisasi Harapan Nusantara) kembali melaksanakan roadshow ke kantor pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta setelah sebelumnya melakukan audiensi dengan Pemerintah Kota Yogyakarta guna menyerahkan hasil survey yang dilakukan pada bulan September 2018 dalam rangka menuju Jogja Aksesibel 2024. Acara audiensi tersebut dipimpin dan diterima langsung kepala BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) DI Yogyakarta, Bapak Budi Wibowo. Kegitan yang diikuti oleh 13 orang peserta ini berlangsung selama satu jam lebih di ruang kepala Bappeda DIY.

Supriyatno dari PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia) menyampaikan temuan hasil survey yang telah dilakukan bahwa di Malioboro masih banyak guiding block atau ubin pemandu yang lepas karena dicongkel orang lain, sehingga teman netra kesulitan berjalan secara mandiri di area Malioboro. “Saya berharap pemerintah juga memberikan papan pengumuman mengenai fungsi guiding block agar mereka bisa ikut menjaga. Untuk warna, sebaiknya warna kontras agar teman-teman difabel netra yang masih memiliki sisa penglihatan atau low vision bisa mudah mengaksesnya. Temuan kami kemarin, banyak PKL (Pedagang Kaki Lima) yang menutupi guiding block, katanya karena mereka tidak tahu apa fungsi ubin pemandu tersebut”, tutur Supriyatno.

“Kurangnya alat bantu untuk Tuli yang diberikan pemerintah. Alat bantu untuk Tuli bukan hanya alat bantu dengar saja karena tidak semua teman Tuli nyaman atau bisa menggunakan alat bantu dengar. Jadi maksud saya, alat bantu seperti juru bahasa isyarat, text dan informasi tertulis agar teman-teman Tuli mendapatkan akses informasi. Temuan kami kemarin saat survey Malioboro, papan penunjuk arah tidak sesuai karena papan nama jalan dipasang setelah belokan dan aksesibilitas nonfisik tidak kami dapati dengan nyaman.Saat kami berkunjung ke kantor pusat informasi, petugas tidak memberikan pelayanan dengan ramah”, ungkap Wahyu Triwibowo dengan bahasa isyarat.

Sementara itu, Novi perwakilan dari WKCP (Wahana Keluarga Cerebral Palsy) yang memiliki anak CP  menambahkan bahwa mengalami kesulitan saat hendak masuk ke ruang pertemuan ini karena tidak adanya ramp atau bidang miring di pintu masuk dan undakannya lebih dari 10 cm. “Selain undakan yang tinggi, kami juga memerlukan toilet yang akses, misalnya dengan disediakan meja untuk transit anak kami dari kursi roda ke toilet duduk. Sangat sulit bagi kami jika ingin mengajak anak-anak kami bepergian”, ujar Novi.

Nuning Suryatiningsih yang juga pengguna kursi roda menyarankan kepada pihak Bappeda DIY agar segera memberikan ramp di area masuk gedung Bappeda DIY karena suatu saat nanti pasti ada difabel yang berkepetingan hadir di gedung Bappeda DIY. “Pemberian ramp sesungguhnya tidak harus permanen namun bisa juga dengan bentuk yang sederhana atau portable”, pungkas Nuning.

Menanggapi langsung masukan dari peserta audiensi, Kepala Bappeda DIY, Budi Wibowo menjelaskan bahwa Pemerintah DIY akan meninjaklanjuti temuan ini dan langsung menjadwalkan adanya koordinasi dengan dinas terkait. Budi Wibowo menyampaikan komitmennya untuk mengembangkan area publik yang aksesibel, termasuk meyediakan kebutuhan ruang laktasi.

 

Reporter : Ramadhany Rahmi

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.