Lompat ke isi utama
salah satu rumah sakit swasta di Kulonprogo

Infrastruktur Rumah Sakit Tak Ramah, Pengguna Kursi Roda Tak Bisa Mengakses Lantai Atas

Solider.id, Kulon Progo - Sarana publik (bangunan gedung) lebih dari satu lantai, yang tidak dilengkapi jalan miring (ramp) atau lift, dikategorikan sebagai bangunan yang tidak ramah (tidak aksesibel). Tidak ramah terhadap lansia, ibu hamil, demikian juga dengan para pengguna kursi roda. Ketiadaan  aksesibilitas tersebut, berdampak ketidakmampuan sekelompok masyarakat, difabel salah satunya, mengakses lantai atas.

Kondisi serupa banyak terjadi pada bangunan berlantai dua. Pada bangunan yang hanya terdiri dari dua lantai, cenderung hanya disediakan anak tangga guna menuju ke atas. Selain karena tidak adanya kebijakan pemasangan lift pada bangunan berlantai dua, juga kurangnya awarnes publik terhadap kelompok masyarakat dengan kemampuan berbeda (lansia, ibu hamil, anak-anak, difabel). Sebuah rumah sakit swasta di Kabupaten Kulon Progo, disoroti sebagai rumah sakit yang tidak ramah. Selain ketiadaan infrastuktur yang aksesibel, juga mendapatkan sorotan dalam pemberian pelayanan kesehatannya.

Pengguna wheelchair tertinggal

Manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial, saling membutuhkan satu sama lain. Ada yang tidak bisa dikerjakan sendiri, sehingga membutuhkan orang lain. Meski manusia dilabeli sangat hebat, sangat kaya, manusia pasti membutuhkan orang lain. Terutama saat sakit, manusia akan membutuhkan bantuan orang lain. Atau ketika ada kawan yang sakit, tanpa diminta bantuan pun teman-teman, keluarga, lingkungan akan berada di sekitarnya. Sebisa mungkin memberikan penghiburan dengan harapan dapat mengurangi penderitaan yang sakit.

Hal di atas menggambarkan kesetiakawanan yang terbangun pada komunitas difabel di Pengasih, Kulon Progo. Ibarat tubuh, saat sedikit saja luka, maka semua tubuh akan merasakan sakitnya. Hal ini disampaikan Gunarti, perempuan dengan tinggi tubuh berkisar satu meteran. Karenanya, warga Ringinanom, Karangsari, Pengasih Kulon Progo itu memiliki hambatan dalam mobilitas (berjalan).  Dia salah satu anggota dari komunitas difabel Kecamatan Pengasih.

Kepada Solider dia membagikan pengalaman ketika dirinya dirawat inap di rumah sakit swasta tersebut. “Sakit satu, sakit semua,” sebuah peribahasa diungkapkannya. Ketika dirinya sakit, semua kawan komunitasnya mengunjunginya, membezuknya di rumah sakit. “Empati kawan-kawan sangat tinggi, maka saya ibaratkan mereka sebagaimana tubuh saya. Satu orang sakit, semua ikut merasakan sakitnya. Menungguinnya bergantian, memberikan penghiburan, mendoakan, betul saja mengurangi sejenak rasa sakit saya,” ucap Gunarti.

Oktober 2018, perempuan berhijab itu dirawat inap karena menjalani operasi katarak. Dia dirawat inap 24 jam atau satu hari satu malam. Ditempatkan di lantai atas (lantai dua). Dia mendapatkan kunjungan kawan komunitas, sebagian besar adalah pengguna kursi roda. Diakuinya, empati dan  kunjungan komunitas membuatnya bahagia, sejenak melupakan rasa sakit. Namun kebahagiaan itu tak seutuhnya dapat dirasakannya.

“Bahagia banget dikunjungi teman-teman. Tapi sedih, karena teman-teman pengguna wheelchair (kursi roda) tidak bisa mencapai ruangannya. Hanya ada anak tangga untuk menuju ke ruang saya dirawat. Teman-teman pengguna wheelchair tertinggal,” ungkapnya.

Harapannya, ketika infrastruktur tidak mendukung bagi pengguna wheelchair, bisa ditempatkan di lantai satu. Agar  siapapun pengguna kursi roda tidak diabaikan kepentingan dan kebutuhan membezuk, atau untuk keperluan lainnya.

“Ketiadaan infrastruktur yang mendukung, dapat diadaptasi dengan pemahaman yang ramah. Yaitu menempatkan pasien difabel di lantai bawah. Dengan fasilitas layanan yang tetap berkemanusiaan,” ujar Gunarti.

Pelayanan buruk

Selain terkait ketiadaan infrastruktur, perempuan aktivis itu juga menyampaikan buruknya layanan kesehatan di rumah sakit swasta tersebut. Untuk dapat periksa di rumah sakit tersebut, ujar dia, dibutuhkan waktu sedari subuh hingga selepas isyak. 

“Saya mengambil nomor antrian sudah sedari subuh. Waktu buka praktik dokter pukul: 13.00 WIB. Namun pukul 15.00 kadang 15.30 baru mulai pemeriksaan. Dengan sendirinya karena pasien sangat banyak, saya selesai sampai dengan mendapatkan obat selepas shalat isyak.  Jadi bukannya sembuh, tetapi makin tidak karuan rasanya dengan kondisi pelayanan yang demikian,” ungkapnya pada Solider, Senin (22/7).

Himbauan Gunarti, untuk pasien difabel ada jalur afirmasi. “Jalur afirmasi ini bukan jalur khusus, dan minta dispesialkan. Kami hanya minta diperhatikan kebutuhan kami yang berbeda,” imbuhnya.

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.