Lompat ke isi utama
ilustrasi Dr. Zulfikar

Muhammad Zulfikar Rakhmat, Doktor Muda, Akademisi dan Aktivis Pendidikan Inklusi

Solider.id, Yogyakarta - Dr Muhammad Zulfikar Rakhmat adalah seorang dosen muda difabel di Universitas Islam Indonesi (UII) Yogyakarta yang menunjukkan bahwa menjadi difabel bukan halangan meraih cita-cita untuk bekerja di sektor formal. Meskipun dirinya mengalami difabel motorik karena Asphyxia Neonatal, Zulfikar optimis bahwa dirinya dapat diterima di lingkungan akademis. Asphyxia Neonatal atau Perinatal Asfiksia berasal dari Bahasa Yunani ‘sphyzein’ yang artinya denyut yang berhenti, merupakan kondisi kekurangan oksigen pada pernapasan yang bersifat mengancam jiwa. Keadaan ini bila dibiarkan dapat mengakibatkan hipoksemia dan hiperkapnia yang disertai dengan metabolik asidosis. (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Asfiksia_perinatal , diakses pada 22 Juli 2019).

Laki-laki yang menamatkan S3 Hubungan Internasional di University of Manchester, Inggris ini mengaku jarang berkumpul dengan teman-teman difabel karena sejak dirinya masih kecil, orang tuanya memperlakukannya seperti anak pada umumnya dengan tetap memperhatikan pendidikannya. Setelah lulus S3, ia lebih memilih pulang ke Indonesia karena terinspirasi dari gurunya di Qatar yang mengatakan bahwa sukses adalah ketika orang-orang di sekitar kita juga sukses atau bahkan lebih sukses.

Pria kelahiran Semarang pada tahun 1992 ini sebetulnya memiliki cita-cita menjadi seorang guru di sekolah, namun dalam perjalanannya ia menjadi dosen Hubungan Internasional di UII Yogyakarta karena mendapatkan kesempatan dan dukungan dari keluarganya. Sebelumnya, anak pertama dari tiga bersaudara ini telah menempuh pendidikan S1 dan S2 juga di luar negeri. “Sejak kecil saya memiliki cita-cita jadi guru dan saya tidak menyangka bisa kuliah S2 kemudian S3. Dan karena saya sudah S3, jadi mau tidak mau saya harus jadi dosen, kemudian saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia untuk melamar jadi dosen. Karena saya dan keluarga asli dari Semarang, inginnya jadi dosen di Semarang namun saat itu tidak ada info lowongan jadi dosen disana, waktu itu masih pertengahan kuliah S3”, terang Zulfikar kepada solider.id.

Ibunya menginginkan Zulfikar tidak menganggur setelah menyelesaikan pendidikan S3-nya. “Dan waktu itu di Universitas Gadjah Mada ada info penerimaan calon dosen namun belum menerima difabel, kemudian di UII juga ada penerimaan dosen, saya mendaftar. Secara administrasi tidak ada masalah, kemudian tes tulis seperti tes pengetahuan umum. Pada saat mau tes, saya berpikir kalau saya butuh bantuan”, ucap pria lulusan S1 Hubungan Internasional di Qatar University ini.

Zulfikar sudah mencoba mencari tahu pusat layanan difabel di UII namun belum tersedia. Ia kemudian menghubungi ketua kaprodi HI dan kaprodi pun membantu mengusahakan memberikan dukungan. Pada saat ujian dilaksanakan, Zulfikar dibantu oleh calon dosen yang ikut ujian tes pada saat itu juga, sehingga Zulfikar dipersilakan menjawab secara lisan kemudian dibantu dituliskan oleh calon dosen tersebut. Hal ini memudahkan Zulfikar mengikuti ujian karena dirinya memiliki hambatan berbicara.

Selama proses pendaftaran sampai ujian tes masuk, ia mengaku tidak menemui kendala, tidak ada penolakan dari kampus UII, dirinya diperlakukan sama dengan peserta yang lainnya dan pihak kampus tidak mempermasalahkan kedifabelannya. “Secara keseluruhan tidak ada penolakan atau pun perbedaan perlakuan pada saya dan hanya saya sendiri difabel yang mendaftar sebagai dosen”, terang pria yang memiliki dua adik ini.

Laki-laki yang telah menuntaskan studi S3 saat usia 26 tahun ini, kini bercita-cita menjadi profesor sebelum umur 35 tahun. Saat ini ia mengajar mahasiswa semester 6 dengan mata kuliah Ekonomi dan Politik Global, Politik Kerjasama Internasional, Studi Uni Eropa dan Studi Kawasan Eropa. Pada proses mengajar, Zulfikar tidak menemui banyak kendala karena dirinya kini ditemani oleh seorang teman yang menjadi asistennya.

Zulfikar memandang bahwa pendidikan khususnya bagi difabel sangat penting. “Karena banyak difabel yang berada dibawah garis kemiskinan. Salah satu penyebabnya karena banyak difabel tidak mengenal pendidikan, padahal dengan pendidikan, seseorang dapat mengakses pekerjaan. Dengan bekerja, otomatis orang difabel juga bisa berdaya,” ujar pria lulusan S2 Hubungan Internasional di University of Manchester ini.

Dalam kegalauannya melihat kondisi teman-teman difabel yang belum bisa mengakses pendidikan, dia dan beberapa teman dekatnya kemudian  mendirikan Sekolabilitas. Sekolabilitas didirikan berdasar pada ide pengalaman pribadi bahwa saat masih kecil Zulfikar dapat mengakses pendidikan di sekolah atas perjuangan orang tuanya. Tidak hanya urusan pendidikan saja, Zulfikar kecil juga mendapatkan perhatian kesehatan yang baik dari orang tuanya yang berprofesi sebagi dokter.

“Tapi sayangnya tidak banyak orang tua difabel yang berjuang untuk pendidikan anaknya. Selain itu juga keluarga difabel yang kurang mampu, tidak berpendidikan dan lain sebagainya. Saya merasa sangat beruntung karena orang tua saya tidak putus asa memberikan pendidikan terbaik kepada saya meskipun saya difabel dan masih memiliki dua orang adik,” kenang Zulfikar.

Karena pengalaman tersebut, Sekolabilitas didirkan dengan tujuan sebagai jembatan bagi difabel dengan sekolah umum. Zulfikar melihat banyak teman difabel di luar sana yang mampu mengikuti pelajaran di sekolah umum namun situasi tidak memungkinkan, misalnya karena pihak sekolah mengaku tidak dapat memberikan dukungan terhadap siswa yang berkebutuhan khusus.

Sekolabilitas ini merupakan organisasi yang didirikan pada bulan Februari 2017. Hingga Juli 2019, Sekolabilitas setidaknya telah mendampingi 3 anak difabel hingga berhasil masuk sekolah umum. Zulfikar berharap agar sistem pendidikan di Indonesia harus melihat bahwa difabel memiliki potensi yang harus diberdayakan. “Yang perlu ditekankan lagi bahwa kita harus lebih peduli. Dengan demikian fasilitas juga akomodasi akan berjalan dengan sendirinya. Saya ingin menyampaikan pada teman-teman difabel agar tetap semangat mencari ilmu untuk meraih cita-cita. Tips pertama, jangan biarkan kedisabilitasan yang menang melainkan kita yang harus menang. Kedua harus bersifat lebih terbuka dan terus bergerak agar semua bisa lebih paham tentang kondisi kita”, pungkas Zulfikar.

 

Reporter: Mada Ramadani

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.