Lompat ke isi utama
alexander Graham Bell, penemu Telepon, Sumber Wikipedia

Alexander Graham Bell dan Kontroversi Bagi komunitas Tuli Amerika

Solider.id, Jakarta - Selama ini kalian pasti pernah mengenal tentang Alexander Graham Bell, penemu telepon yang berasal dari Amerika. Namun, sisi lain  tentang sejarah Alexander Graham berhubungan dengan komunitas Tuli di Amerika. Ide Alexander Graham Bell menjadi perbedaan opini  tentang manualisme yang merupakan cara pendidikan lewat berbahasa Isyarat dan oralisme atau bicara lisan. Graham Bell permah melakukan pelarangan terhadap Tuli di Amerika Serikat untuk menggunakan bahasa isyarat dalam berkomunikasi.  Fenomena ini telah menjadi pusat perhatian Tuli, dan walaupun seperti ini, akan tetapi sebagian banyak komunitas tuli tetap menggunakan akses bahasa isyarat bagi  kaum Tuli tetap dipertahankan untuk Hak komunikasi melalui isyarat.

Penasaran ya, bagaimana bisa sejarah penemu telepon menjadi salah satu orang paling berpengaruh dan terlibat dalam kehidupan komunitas Tuli? Ibu Alexander Graham Bell bernama Eliza Bell tuli dan pun istri dia juga Tuli bernama Abel Gardiner Hubbard. Berbed dengan Ayah dengar, Melville Bell, pencipta sebuah program Visible Speech, yang menggunakan peralatan untuk mengajar Tuli bisa berbicara. Alexander Graham Bell menjadi tertarik untuk fokus pendidikan lisan untuk Tuli,  ia pun turut mengembangkan dunia bisnis ayahnya sambil jalankan program Visible Speech di berbagai sekolah untuk siswa Tuli. Ketertarikan pendidik Amerika melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah lisan Jerman pada tahun 1840, tetapi mereka gagal mengatasi koneksi dan membuat pengaruh pendidik  yang tidak sependapat dengan idenya. Namun, pendidikan oralisme/ lisan itu mulai mendapatkan momentum di tahun 1870. Hal itu mempengaruhi Alexander Graham Bell mendukung pendidikan lisan atau oralisme untuk kaum Tuli.

Graham Bell mengelilingi  seluruh negeri memberikan pidato tentang keberhasilan pendidikan  oralisme. Ia ditemani oleh beberapa siswa Tuli yang telah berhasil mengucapkan kata per kata dalam kalimat percakapan melalui lisan mereka sendiri. Melalui beberapa fakta yang ia serta tersebut, ia mmencoba meyakinkan bahwa  pendidikan lisan sebagai pilihan pendidikan yang unggul bagi anak-anak Tuli. Ia pun mempromosikan kepada orang tua Tuli. Hal yang ia sampaikan adalah bahwa orang tua Tuli  merindukan adanya suara anak-anak Tuli mereka untuk berbicara dan menjadi seperti orang-orang Dengar. Graham Bell pun berpendapat kalau tanpa bicara, anak-anak Tuli tidak akan pernah bisa berpartisipasi penuh dalam masyarakat umum. Ide Graham mengubah pemikiran politisi, pendidik, dokter, dan orang-orang kaya.  Mereka terpengaruh  dan kemudian membentuk kampanye menentang Bahasa Isyarat Amerika, Mereka mengkampanyekan pentingnya bahasa lisan untuk anak-anak Tuli di Amerika Serikat.

Dukungan Graham Bell terhadap oralisme terkait alasan kepercayaannya pada teori eugenika. Pada tahun 1883, dalam presentasi dan publikasi ini, ia membahas tingginya angka pernikahan Tuli, dan bagaimana hal ini meningkatkan jumlah anak-anak Tuli melalui berlalunya generasi ketulian. Alexander Graham Bell berpendapat bahwa "fenomena" ini menciptakan ras Tuli yang berbagi bahasa dan budaya. Dia melanjutkan dengan berpendapat bahwa penggunaan Bahasa Isyarat Amerika di sekolah-sekolah, perumahan regional, pengembangan klub dan program sosial Tuli, dan pemaparan anak-anak Tuli muda untuk orang dewasa dan administrator Tuli mendorong pola perkawinan Tuli. Bell percaya bahwa dengan menghilangkan faktor-faktor ini, mendirikan sekolah-sekolah pendidikan lisan, para Tuli dapat berasimilasi dengan masyarakat dengar.  Hal ini juga mendorong perkembangan lebih banyak pernikahan antara orang dengara dan Tuli untuk mengurangi pertambahan generasi Tuli yang lahir kemudian. Dia juga berpendapat bahwa pendidikan oral akan memberikan akses yang lebih besar bagi individu Tuli ke lebih banyak peluang dalam pendidikan dan pekerjaan. 

Berdasarkan kongres Milan, Italia pada akhir abad ke-19 Tuli berkumpul dari seluruh dunia untuk membahas masa depan pendidikan Tuli. Karena pengaruhnya dan kekayaannya, Alexander Graham Bell mempresentasikan selama tiga hari di konferensi ini tentang manfaat pendidikan oral/lisan bagi Tuli dan menentang sistem pendidikan manualisme, dan bahasa isyarat. Sebaliknya, pengajar bahasa isyarat hanya diberi waktu tiga jam untuk membuat bantahan. Pada akhir konferensi, semua peserta, tidak satu pun dari mereka yang tuli, memilih untuk melarang mengajar dalam bahasa  isyarat yang ditandatangani dari sekolah, melarang penggunaannya di asrama, dan mendukung oralisme sebagai metode pendidikan terbaik untuk pengajaran Tuli.

Ini pengaruh besar periode seratus tahun dalam sejarah Tuli di mana anak-anaknya dilarang menggunakan bahasa isyarat di sekolah. Bahasa isyarat pun diberikan secara diam-diam di balik pintu tertutup selama mereka butuh komunikasi. Alasan itu, muncul karena  isyarat dilarang digunakan untuk kawan-kawan Tuli dan lebih menganjurkan untuk menggunakank bahasa lisan.  

 

Penulis : Dina Amalia Fahima

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.