Lompat ke isi utama
Para Peserta Sosialisasi berfoto bersama

Pentingnya Memahami Deteksi Dini ODGJ bagi Masyarakat

Solider.id, Situbondo- Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) seringkali diabaikan lingkungan sosial, utamanya di lingkungan keluarga. Hal tersebut karena minimnya pemahaman deteksi dini untuk bagaimana memperlakukan ODGJ dengan layak.

Hal tersebut disampaikan Franciscus Adi Prasetyo, dosen Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Jember dalam sosialisasi bertajuk Deteksi Dini Kesehatan Jiwa dan Desa Siaga Sehat Jiwa yang dilaksanakan Puskesmas Kecamatan Situbondo (16/7) .

Menurut Adi, masyarakat perlu tahu bahwa banyak sekali ODGJ yang tidak mendapatkan pengobatan karena pihak keluarga tidak mengetahui ada anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa. “Masyarakat khususnya kader desa membutuhkan pengetahuan yang benar tentang kesehatan jiwa dan gangguan kejiwaan,” pungkasnya kepada solider.id.

Menurut Adi, setiap manusia membutuhkan kesehatan, tidak hanya sehat secara fisik tetapi juga sehat secara mental. Namun, khusus untuk orang dengan disabilitas, terdapat perbedaan kondisi kebutuhan khusus yang membedakannya dengan orang lain. “Letak perbedaan itu contohnya ketika mengalami disabilitas motorik, sensorik, atau mental,” katanya.

Kegiatan tersebut dihadiri 75 peserta yang terdiri dari perangkat desa, kader posyandu dan Keluarga Berencana (KB) dari Desa Kotakan, Kelurahan Patokan, Kelurahan Dawuhan, Aisyiah dan Pelopor Pedulis Disabilitas Situbondo (PPDiS). Sebelumnya, kegiatan serupa juga pernah diselenggaraka pada Juni 2019 di Kecamatan Situbondo.

Adi Prasetyo menambahkan bahwa Skizofrenia tidak terpengaruh dengan tingkat kecerdasan seseorang. Kesehatan jiwa tidak bisa dipisahkan dari kesehatan. Menerima kondisi tubuh yang mengalami disabilitas fisik atau mental bukanlah perkara yang mudah.

Seseorang dapat merasa rendah diri karena perbedaan tersebut. Bahkan apabila dikaitkan dengan pengalaman hidupnya, tidak menutup kemungkinan pernah menjadi korban perundungan. Akibatnya seseorang yang mengalami disabilitas tidak dapat menerima dirinya sendiri. Terutama bagi orang dengan disabilitas karena kecelakaan atau sakit. Di sanalah peran sosial semestinya mengakomodir ODGJ.

Santoso selaku Manajer Program di PPDiS berharap setelah kegiatan tersebut, ada tindak lanjut dengan melibatkan teman-teman difabel yang sudah memiliki ilmu kesehatan jiwa. “Hal itu bisa menjadi tonggak utama di Posyandu kesehatan jiwa dan desa siaga sehat jiwa di desa masing-masing,” tuturnya.[]

 

Reporter: Ramadhany Rahmi

Editor: Robandi

The subscriber's email address.