Lompat ke isi utama
Michael Anthony saat menerima piagam MURI

Difabel Ganda yang Berbakat Bermain Alat Musik

Solider.id, Surakarta- Akhir Mei lalu warganet dihenyakkan oleh tayangan viral American Got Talent (AGT) 2019. Kodi Lee, difabel autis dan netra berhasil memukau penonton dan para juri dengan penampilan permainan piano dan suara emasnya.

“Saya akan bernyanyi dan bermain piano untuk Anda semua,” jawab Kodi Lee saat ditanya juri.

Wajah para juri terlihat cemas, ketika Tina Lee, ibunda Kodi Lee memperkenalkan diri bahwa pemuda 22 tahun tersebut adalah seorang autis dan netra.

Namun di menit-menit awal penampilannya hingga akhir, Kodi Lee membius penonton dan mengubah wajah-wajah ragu dan cemas juri memudar, Para juri terpukau dan decak kagum dari penonton.

Nada-nada lagu A Song for You yang dipopulerkan Donny Hathaway dimainkan dengan sangat apik. Semua juri dan penonton memberi sorak dan spontan berdiri memberi hormat pada Kodi Lee.

Salah seorang juri AGT, Gabrielle Union kemudian memberikan Golden Ticket, sebuah tiket akselerasi untuk masuk babak semifinal kepada Kodi Lee. Semakin menambah kesan penonton dan para juri dengan perasaan haru dan bahagia, termasuk Kodi Lee dan ibunya.

Luapan kegembiraan Simon Cowell, salah seorang juri ditunjukkan dengan tepuk tangan keras sambil menghampiri Kodi Lee. Dan luapan ucapan semangat keluar dari Gabrielle Union. “You just change the world,” katanya.

Pada April 2014, publik Indonesia juga dihentakkan oleh penampian Michael Anthoni Kwok, seorang difabel netra dan autis dengan permainan piano klasiknya di Indonesia’s Got Talent.

Ibunda Micahel mengetahui bakat anaknya saat usia dua tahun. Mendengar nada-nada tukang es keliling lalu menyentuh tuts piano tanpa tahu itu not-not doremi ada di mana. Sejak itulah Michael mengkhususkan diri belajar musik piano.

Michael mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Pianis Termuda Netra dan Autis setelah tampil dalam sebuah konser bertajuk The Miracle of Sound.

Sejak berumur tujuh tahun, Michael sudah menguasai lebih dari seratus lagu mulai aliran klasik hingga pop, seperti Mozart, Beethoven dan Chopin yang sangat sulit bahkan dilakukan oleh pianis dewasa.

“Michael mempelajari musik-musik itu dengan hanya mengandalkan pendengaran, tanpa membaca partitur,” ungkap Ivana Fidelia Tjandra, guru piano Michael di Jaya Suprana School of Performing Arts, sekolah musik untuk anak berkebutuhan khusus, seperti dikutip sebuah media.

Blind and Autistic Young Pianist from Indonesia sebutan bagi Michael dari dunia internasional. Ia telah memukau publik Singapura, Malaysia dan Australia.

Winantu yang Berbakat dari SLB Bantul

Cerita tentang Kodi Lee dan Michael Anthony Kwok adalah cerita sukses sebagian kecil difabel netra autis yang berhasil memukau publik. Tetapi, masih banyak difabel ganda yang tidak memiliki kesempatan untuk ditemukan bakat dan prestasinya. Bukan hanya karena ketidakmampuan difabel, tetapi jarang sekali guru yang bisa menemukan bakat tersebut.

Dari sebuah media sosial Instagram milik Sahibul Wafa Tajul Arifin, guru SLB dan pegiat Komunitas Gapai yang tinggal di Solo. Di sana ada salah satu postingan Wafa, sapaan akrabnya, sedang melatih beberapa anak difabel netra bermain piano. Wafa mengajar sebuah SLB di Bantul pada kurun waktu tahun 2018.

Salah seorang siswa SLB yang jadi murid Wafa bernama Winantu. Winantu terlahir sebagai difabel netra dan autis. Dia terlihat mahir memainkan tuts-tuts piano sambil bernyanyi didampingi Wafa.

Menurut Wafa, Winantu memiliki kesukaan musik sejak kecil, intuisinya terhadap musik kuat sekali. Sehingga ketika mengajari Winantu, Wafa mengaku lebih mudah. Dirinya hanya member referensi-referensi musik baru, sedangkan untuk not piano Winantu mencari sendiri.

“Bahkan kalau kami tanya nada dasar dari penyanyi yang lagi menyanyi, dia tahu nada dasarnya. Dengan hanya mendengar 3-5 kali lagu, Winantu sudah bisa memainkan lagunya,”ujar Wafa.

Wafa melanjutkan, Winantu perlu pendampingan lagi agar bisa lebih mandiri. Seperti makan dan mengenakan sepatu sendiri, Winantu masih sering dibantu. “Untuk belajar musik ia contoh yang baik, tetapi untuk kemandirian, Winantu penting diajari pembiasaan baik,”imbuh Wafa.

Menurut Wafa, sebenarnya mengajar anak difabel netra dan ganda (netra autis) sama saja, tanggung jawab bersama, guru yang mulai mengajari, orangtua di rumah hanya melanjutkan.

Perbedaan ketika mengajar pelajaran biasa bagi difabel netra dan ganda (netra autis) adalah yang diterima oleh siswa. Jika anak difabel netra (bukan ganda) komunikasi dengan guru tidak ada masalah, dan apa yang disampaikan guru juga mudah ditangkap.

Sedangkan difabel ganda, komunikasi lebih sulit karena mereka suka menyendiri. Sedang untuk Winantu, imbuh Wafa, dia tidak suka berkumpul dan bermain bersama-sama bersama teman-temannya di kelas. Winantu lebih suka berada di ruang musik. Di satu sisi, itu membuatnya bisa lebih fokus untuk diajari dan belajar bermain musik.

“Hampir setiap SLB memiliki alat musik tapi jarang ada guru yang mahir bermain musik. Sehingga waktu saya mengajar di sana saya memanfaatkan waktu istirahat atau jam kosong buat ngajarin anak-anak main musik. Mereka senang sekali. Menurut saya, selain mengajarkan main musik, musik juga menambah kreativitas anak-anak juga,” terang Wafa sambil mengirimi saya sebuah tautan sebuah acara reality show Trans TV, “Orang Pinggiran” yang memuat kisah Winantu dan keluarganya. Wafa saat ini mengajar di SLB Bhina Putera Solo.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.