Lompat ke isi utama
ilustrasi film "The Porfessor and Mandman

The Professor and The Madman, Kisah Penyintas Skizofrenia Penyusun Kamus Oxford

Solider.id, Surakarta- Film “The Professor and The Madman” yang dirilis di Indonesia pada bulan Mei lalu adalah kisah sejati profesor yang bergelar Sir James Murray di tahun 1857 dalam menyusun Oxford English Dictionary. Juga kisah seorang Dokter WC. Minor, Orang Dengan Skizofrenia (ODS) atau difabel psikososial yang mengirimkan lebih dari 10 ribu entri di saat dirinya menjalani perawatan di rumah rehabilitasi Broadmoor Criminal Luantic Asylum.

Prof. Murray adalah seorang Scotlandia yang sangat diharapkan mampu menyelesaikan pekerjaan mega proyek nasionalistik di bawah perintah kerajaan Inggris Raya. Walaupun sering dipandang rendah oleh para koleganya di Oxford College, Murray berhasil menyelesaikan kamus yang disusunnya dengan kontribusi paling besar dari Minor. James Murray yang bertindak sebagai penyusun dan pengawas atas mega proyek tersebut membawa istri dan anak-anaknya ke Oxford.

Film dibuka dengan adegan Dr. Minor, asal Amerika yang pernah menjadi tenaga medis saat perang sipil, mengalami waham (salah satu tanda penyakit psikososial), dikejar-kejar oleh seseorang. Menurutnya si pengejar adalah korban saat dia ditugasi dalam sebuah camp/penjara. Minor menembak seorang laki-laki tidak berdosa, suami dari seorang perempuan dan ayah empat anak yang masih kecil-kecil. Lalu ia mengalami persidangan demi persidangan kemudian menerima vonis sebagai pengidap gangguan jiwa. Dengan melakukan beberapa persetujuan dengan kepala rumah rehabilitasi/rumah sakit, Minor bersedia dirawat dengan catatan, ia menjalani sejumlah objek penelitian oleh psikiater rumah rehabilitasi/rumah sakit tersebut.

Kepala rumah sakit, Dr. Richrad Brayne melakukan semua penelitian yang dia kuasai dan mendorong Minor untuk beraktivitas. Dr. Minor juga melakukan aksi bedah amputasi medis secara mendadak ketika sebuah insiden terjadi di sana. Lalu ia diakomodasi dengan baik. Semua kebuutuhannya ada di  ruang pribadinya, termasuk buku-buku, hingga ia membaca sebuah ajakan publik oleh Prof. Murray yang ditujukan kepada semua warga Inggris Raya dalam proyek penyusunan kamus Bahasa Inggris. Mereka berdua tak saling kenal.  

Dr. Minor tertarik, lalu dimulailah ia menyusun kata demi kata, bahkan suku kata, yang bersumber dari buku bacaan yang banyak ia baca, terutama novel. Hasil karya Dr. Minor dikerjakan dengan mengambil tempat sejengkal demi sejengkal ruang, dan digambarkan sangat terstruktur dengan rapi. Sesudah terkumpul, maka secara berkala pengumpulan kata-kata dan terminologinya ia kirim ke Prof. Murray, tanpa adanya perjumpaan. Beberapa kata-kata nan brilian muncul di sela-sela dialog, seperti kutipan berikut ini. “Semua bisa diselesaikan asal ada cinta”, lalu  “Yang paling tekun adalah yang bisa hidup”, “Biarkan kertas dan tinta jadi darah daging kita”.

Hingga bertahun-tahun kemudian Prof. Murray mendapati riwayat Dr. Minor yang sebenarnya, bahwa dia seorang skizofrenia dan paranoid, yang bahkan menjalani hukuman atas kasus kriminalitas pembunuhan yang dilakukannya. Prof. Murray mengunjungi Dr. Minor tatkala sang dokter tengah mengalami keadaan yang paling nestapa.

Dalam film digambarkan bagaimana kisah Dr. Minor tidak berhenti saja dengan vonis skizofrenia dan perjalanan rehabilitasi, namun romantika dari perempuan, istri korban yang ia bunuh. Minor, setiap bulan rutin mengirimi uang pensiunnya sebagai dokter kepada keluarga tersebut lewat kurir. Hingga pada adegan bahwa ia menyembunyikan rasa suka kepada perempuan tersebut namun tidak tersampaikan. Lalu menjadi sebuah pemicu bagi dirinya yang juga mengalami paranoid untuk melakukan mutilasi dengan memotong alat kelaminnya sendiri.

Film ini diadaptasi dari buku laris yang terbit tahun 1998, The Professor and The Madman : A Tale of Murder, Insanity, and Making of The Oxford English Dictionary karya Simon Winchester. Film tak hanya bercerita tentang usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah Inggris Raya dalam proyek penyusunan kamus Oxford, tetapi menggali kubur sejarah bahwa ada seorang Dr. Minor, penyintas skizofrenia yang sangat berperan bahkan perannya paling besar di dalam penyusunannya. Film ini juga menggambarkan bagaimana runutan sejarah pengobatan orang dengan gangguan jiwa, seturut penelitian-penelitian yang dilakukan oleh seorang psikiater di rumah rehabilitasi. Pengobatan-pengobatan yang dahulu dinilai tidak manusiawi, hingga tentunya sampai menemukan formula pengobatan yang hingga hari ini kita temui.

Dan yang penting di film “The Professor and The Madman”, kesejatian dari Dr. Minor menunjukkan kepada dunia bahwa meski ia seorang skizofrenia tetapi mampu melakukan hal yang sangat luar biasa, tanpa memandang dari mana ia berasal.    

Pada akhir film, digambarkan bahwa Prof. Murray melobi kepada pemerintah Inggris agar sahabatnya itu bisa keluar dari tempat rehabilitasi, namun jawaban didapat dari Winston Churchill, perdana menteri yang berkuasa pada saat itu bahwa Dr. Minor akan dipulangkan ke Amerika Serikat.

 

 

 

Judul Film      : The Professor and the Madman

Rilis           : 10 Mei 2019

Produksi       : Amerika Serikat

Produser       : Gaston Pavlovich, Nicolas Chartier

Sutradara      : P.B. Sherman

Pemeran       : Mel Gibson, Jeremy Irvine, Sean Penn, David O’Hara, Natalie Dormer

Durasi         : 2 Jam 4 menit

Peresensi      : Puji Astuti

Editor            : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.