Lompat ke isi utama
iMAM saat membuat wayang

Imam Rusono, berusaha Lestarikan Budaya lewat Kerajinan Wayang

Solider.id, Pati - Perkembangan budaya Indonesia yang dulu melekat pada masyarakat, kini tergerus dengan budaya-budaya barat. Salah satu contohnya budaya wayang, saat ini genarasi milenials kurang memahami apa itu wayang. Baik itu asal-usulnya, tokoh-tokoh pewayangannya, hingga kontentnya. Generasi milenials banyak yang tidak paham cerita apa saja yang ada dalam pewayangan. Seorang difabel daksa di Pati mempunyai ide untuk mempromosikan lagi  wayang ke masyarakat. Penasaran, bagaimana lika-liku perjalanan difabel ini?

Imam Rusono (35), seorang difabel daksa atas yang menyukai pewayangan sejak dari kecil mempunyai tekad untuk mengenalkan lagi wayang ke masyarakat. Ia membuat beberapa tokoh wayang yang selanjutnya akan dijual pada pedagang mainan atau langsung ke masyarakat. Selain untuk usaha, ia juga mempunyai misi untuk memunculkan lagi budaya pewayangan yang sudah tenggelam.

Merasa penasaran dengan apa yang ditekuni Imam, saya pun menyempatkan untuk menyambangi tempat tinggalnya. Sulitnya medan perjalanan, tak menyurutkan niat saya untuk bertemu Iman dan menggali banyak cerita menarik darinya.  Imam tinggal di sebelah utara kota Pati tepatnya di Desa Pakis Kecamatan Tayu berjarak sekira 25 km dari pusat kota. Menempuh perjalanan ±45 menit dari pusat kota Pati, dengan patokan pangkalan truk tebu pabrik gula Pakis masuk ke gang sebelah timur.  

Rumah berderet rapat membuat saya bertanya pada orang disekitar, dan tepat di pojok  rumah-rumah itu  terdapat tempat tinggal si pembuat wayang. Senyum cerah dan sapaan yang ramah menyambut kedatangan saya untuk bersilaturahmi dengannya dan keluarga.

Kopi dan beberapa makanan menemani kami dalam perbincangan ringan. Sepatah demi sepatah kata, Ia mulai menceritakan kisahnya. Sebelum berkecimpung di usaha ini, ia bekerja konstruksi baja ringan di luar pulau Jawa. Saat mengerjakan rumah berlantai dua, ia terkena aliran listrik bertegangan tinggi yang menyebabkan kedua tangannya diamputasi. Setelah kecelakaan kerja akhir tahun 2009, ia mulai canggung dengan mobilitasnya karena belum beradaptasi dengan keadaan. Satu tahun tidak bekerja, kemudian ia mempunyai tekad mengasah bakat dari kecil membuat wayang kertas,

"Saya menekuni usaha ini sudah 7 tahun lebih, karena saya menyukai wayang sejak kecil dan sekarang ini wayang sudah kurang terkenal lagi yang notabene nya budaya dari negara kita sendiri." Ucap Imam.

 Pemasaran karya Iman cukupi simple. Ia menitipkan barang dagangannya ke pedagang-pedagang mainan. Dengan Modal awal Rp. 100.000, ia mulai membeli peralatan untuk membuat wayang sepeti cat, kuas, kertas, dan kanvas. Selain membuat wayang dari kertas ia juga membuat wayang dari kulit dan pajangan wayang dari kanvas.

"Untuk wayang kulit biasanya saya mengambil dari kulit kambing yang saya beli dari tetangga ketika menyembelih kambing, namun kalau tidak ada saya ambil dari luar yang pastinya harganya lebih mahal tetapi itu saat ada pesanan saja dengan harga jual 150-200 ribu per wayang kulit." Tukas Imam.

Saat ramai pesanan dan larisnya penjualan, dalam sebulan ia meraup penghasilan hingga  Rp. 800.000.

"Untuk pengerjaan sehari saya bisa membuat 10 wayang ukuran kecil dan besar 5 wayang yang dalam seminggu bisa menjual 80 wayang. Pedagang membeli wayang kecil seharga Rp. 3000 dan wayang besar Rp. 6000 sedangkan menjual ke pembeli langsung seharga Rp. 5000 untuk wayang kecil Rp. 10.000 wayang besar." Jelasnya.

Sesekali saat ada pagelaran wayang dan ketoprak, ia membuka stand sendiri untuk menjual wayang. Ia juga menerima rekondisi untuk wayang kulit dan membuat pajangan wayang dari kanvas.

"Biasanya ada orang kesini untuk mengecat wayang kulitnya, dan membuatkan gambar wayang dari kanvas." Kata Imam.

Imam menjalani usaha itu tidak lepas dari kendala-kendala yang ia alami, dari segi modal dan pemasarannya.

"Modal dan pemasaran yang menjadi kendala saya saat ini, karena terkadang sepi tidak ada pembeli lalu wayang rusak dan modal tidak ada lagi." Jelasnya. Ia berharap kendala-kendala itu segera teratasi dengan adanya rekan kerja dari pihak pemerintah maupun swasta yang mau bekerja sama dengannya agar usahanya lebih maju.

Waktu terus berlalu, tak terasa hari sudah semakin sore. Sayapun segera mohon pamit untuk pulang dan melanjutkan aktivitas yang lain. Sembari berkendara meninggalkan rumah Imam, saya berpikir bahwa seandainya banyak orang seperti Imam, niscaya kebudayaan tradisional seperti wayang tak kunjung punah. Minimal proses kepunahannya akan tertunda. Imam masih tergolong muda. Kiprah dan perjuangan untuk lestarikan budaya tetap ia pelihara.

 Provesi Imam boleh jadi merupakan sesuatu yang unik. Namun dengan tangan-tangan terampilnya, ia berusaha untuk menghidupi keluarganya. Selain itu, lewat karya-karya yang ia hasilkan merupakan bukti atas kontribusinya untuk menjaga identitas kebudayaan bangsa agar terus lestari. Meski saat ini penikmat wayang sangat terbatas pada kalangan tertentu. Namun Imam terbukti telah berbuat sesuatu agar anak cucu dan genarasi mendatang paliing tidak dapat tatap mengenal budaya pewayangan. Tangan-tangan terampil Imam  adalah bukti bahwa budaya sebuah bangsa bisa tetap hidup, meski  modernisasi terus berderu dan zaman terus berubah.

 

Reporter: Oby Achmad

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.