Lompat ke isi utama
ilustrasi disleksia

Diskriminasi Orang Dengan Disleksia Ditengah Potensinya sebagai Entrepreneur

Solider.id, Yogyakarta – “Menjadi orang dengan disleksia sebenarnya membantuku di luar dunia sana. Aku melihat hal dengan lebih jelas karena harus menyederhanakan semua hal dan itu membantuku sekaligus membantu orang lain,” itu adalah kesaksian dari Richard Branson, seorang pengusaha asal Inggris yang telah mendirikan 360 perusahaan di bawah bendera Virgin Group. Ia adalah seorang dengan disleksia.

Asumsi yang beredar di masyarakat menilai bahwa orang dengan disleksia akan susah untuk terjun ke dunia bisnis karena hambatan dalam soal membaca dan menulis. Namun, menurut sebuah penelitian tentang wirausaha di Amerika Serikat yang dilansir dari New York Times, usaha kecil menengah cenderung banyak dimiliki oleh orang dengan disleksia, temuan yang tidak diduga sebelumnya oleh para peneliti maupun ahli.

Penelitian ini dilakukan oleh Julie Logan, seorang profesor entrepreneurship dari Cass Business School di London. Ia menemukan bahwa lebih dari sepertiga entrepreneur yang ia teliti memiliki disleksia. Penelitian ini juga menemukan hipotesa bahwa orang dengan disleksia cenderung lebih mampu mendelegasikan tugasnya ke orang lain, sangat baik dalam berkomunikasi secara oral, memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik serta dua kali lebih besar kecenderungannya untuk memiliki dua bisnis atau lebih.

Penelitian ini menggunakan metode survey kepada 139 pemilik bisnis dalam berbagai sektor di Amerika Serikat. Professor Logen menyebut bahwa angka yang ia temukan terkait orang dengan disleksia cukup ‘mencengangkan.”

Angka ini juga dipengaruhi oleh intervensi efektif dari sekolah-sekolah di Amerika yang mencoba menemukan cara menyelesaikan permasalahan dari gangguan belajar ini. Setidaknya, ada 10 persen dari orang Amerika yang dipercaya terkena disleksia.

Menurut Professor Logan, angka ini hadir karena adanya strategi yang orang dengan disleksia gunakan dalam menangkal kelemahan mereka dalam hal komunikasi tertulis dan kemampuan organisasional ternyata bisa diaplikasikan pada bisnis.

“Kemampuan untuk mendelegasikan beberapa pekerjaan tertulis menjadi kekuatan mereka jika dibandingkan dengan entrepreneur yang tidak memiliki disleksia,” ungkapnya.

Masih dikutip dari New York Times, peneliti senior dari Research Foundation of National Federation of Independent Business, William J. Dennis Jr., mengatakan bahwa entrepreneur bekerja dengan kertas yang minim, lebih banyak melakukan kegiatan yang bersifat oral daripada membaca dan menulis, dan mampu mendelegasikan tugas dengan menggunakan kemampuan verbal yang tinggi.

“Hal itu berbeda jika dibandingkan dengan manajer korporasi yang membaca, membaca, dan membaca,” ucap Dennis.

Menurut Asosiasi Disleksia Indonesia, dari 50 juta anak sekolah di Indonesia, 5 juta diantaranya adalah anak dengan disleksia. Orang dengan disleksia akan mengalami bentuk kesulitan belajar spesifik karena hanya timbul pada beberapa aspek tertentu saja, terutama aspek berbahasa dan berhitung, bukan kesulitan pada seluruh aspek perkembangan.

Orang dengan disleksia biasanya menunjukkan kemampuan mengonstruksi kosa kata yang terbatas dengan artikulasi yang tidak tepat, pemahaman dan pemilihan istilah-istilah dan kalimat dengan struktur yang tidak runtut. Gejala seperti ini akan dimulai dari usia pra sekolah yang sebagian besar tidak disadari oleh orang tua, atau bahkan guru. Hasilnya, stigma bodoh akan melekat pada anak dengan disleksia.

Pemahaman orang akan anak dengan disleksia memang masih minim. Hal ini akan semakin parah di daerah dengan sumber informasi yang terbatas. Saya mencoba menghubungi seorang guru SD bernama Solomon P. Miru yang saya temui saat penugasan Indonesia Mengajar. Kami dulu satu institusi dan menemukan kasus anak dengan disleksia di sebuah SD di pulau kecil Maluku Barat Daya (MBD).

“Bertahun-tahun dulu sebelum guru dari Jawa [sebutan untuk guru Indonesa Mengajar] masuk, kami guru di sini tidak tahu kalau ada kondisi bernama disleksia. Setahu kami, ketika anak tidak bisa berhitung dan membaca, maka adalah anak yang bodoh dan tidak akan naik kelas,” ujar Miru melalui sambungan telepon.

Iklim pendidikan di Indonesia Timur yang masih diselimuti dengan kekerasan membuat hal ini menjadi semakin buruk. Salah satu anak didik yang disinyalir memiliki karakteristik sebagai anak dengan disleksia, sering mendapat hukuman kekerasan karena gagal dalam membaca dan menulis.

“Di sini [MBD], membaca dan menulis adalah kemampuan dasar yang harus dikuasai anak. Jadi, jika tidak bisa sama sekali, kadang tangan mereka kami pukul ringan dengan pensil, tujuannya untuk memotivasi, meski akhirnya kami tahu itu salah,” ujarnya.

Penerapan pengelolaan kelas seperti itu akhirnya membuat siswa yang diduga memiliki disleksia semakin tertekan dan memilih untuk tidak masuk sekolah lagi. Ia memilih putus sekolah dan membantu orang tuanya bekerja sebagai nelayan.

“Tidak ada sumber informasi mengenai kondisi seperti ini. Kami guru di daerah akhirnya tidak mengerti dan mendapat pencerahan. Saya kira di pulau-pulau lain, kasusnya jauh lebih parah,” ungkap Miru.

Stigma bodoh juga akan melekat sampai si anak beranjak dewasa. Link & Phelan, dua orang ahli di bidang disleksia, menemukan bahwa stigma dalam anak dengan disleksia memiliki lima komponen utama: pelabelan, pemberian stereotip, pemisahan dari kelompok utama, kehilangan status diri, dan berakhir dengan diskriminasi. Stigma ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang kondisi disleksia. Hal itu yang dialami oleh guru-guru di Maluku Barat Daya tentang anak dengan disleksia. Selain itu, orang dengan disleksia dianggap sebagai jenis difabel yang tidak terlihat (invisibility disability).

Ada pandangan bahwa persepsi tentang penerimaan dan kesetaraan difabel cenderung terpusat pada difabel fisik saja dan tidak maksimal kepada difabel nonfisik. Padahal menurut mereka, anak dengan disleksia punya potensi besar karena mereka dipaksa untuk membagi hal-hal menjadi kecil untuk kemudian menyelesaikannya satu-persatu. Selain itu, karena hambatan dalam membaca dan berhitung, anak dengan disleksia cenderung kuat dalam verbal dan bakat lainnya, hal yang kemudian membuat orang disleksia menjadi tokoh besar karena mampu memanfaatkannya.

 

Penulis: Yuhda

Editor   : Ajiwan Arief

 

reported more negative

experiences than those with physical

disabilities, questioning the validity of

invisible disabilities in public

perceptions (are they really disabled?

Are they just trying to gain an unfair

advantage).

reported more negative

experiences than those with physical

disabilities, questioning the validity of

invisible disabilities in public

perceptions (are they really disabled?

Are they just trying to gain an unfair

advantage)

define Stigma as

having five main components:

 

·  Labelling – the recognition of

differences and the assignment of

social factors to those differences

e.g. recognising that the individual

may have different biological/

neurological traits to the norm.

 

·  Stereotyping – the assignment of

negative attributes to these social

factor differences e.g. differences

that matter and are deemed by

others to be undesirable.

 

·  Separation – occurring when the

reactions to others leads to

avoidance of those with the

undesired difference (felt stigma).

 

·  Status Loss – when the individual

with differences is not allowed to

fully participate in society or a

community, thus the value of their

place is reduced e.g. net worth is

devalued by other people’s views.

This is perceived as ‘enacted

stigma’.

·  Discrimination – when those with

define Stigma as

having five main components:

 

·  Labelling – the recognition of

differences and the assignment of

social factors to those differences

e.g. recognising that the individual

may have different biological/

neurological traits to the norm.

 

·  Stereotyping – the assignment of

negative attributes to these social

factor differences e.g. differences

that matter and are deemed by

others to be undesirable.

 

·  Separation – occurring when the

reactions to others leads to

avoidance of those with the

undesired difference (felt stigma).

 

·  Status Loss – when the individual

with differences is not allowed to

fully participate in society or a

community, thus the value of their

place is reduced e.g. net worth is

devalued by other people’s views.

This is perceived as ‘enacted

stigma’.

·  Discrimination – when those w

The subscriber's email address.