Lompat ke isi utama
ilustrasi kegiatan dolanan tradisional dan dongeng

Nilai Positif Permainan Tradisional dan Dongeng bagi Difabel

Solider.id, Bantul – Dolanan (mainan) dan dongeng lekat dengan kehidupan anak-anak. Dolanan juga dongeng tak lain adalah dunia anak-anak yang mampu menghadirkan efek keceriaan dan kebahagiaan, mengajarkan anak menalar apa yang dilihat, didengar serta diraba. Banyak manfaat yang didapat dari bermain atau dolanan. Dengan dolanan dan mendengarkan cerita atau dongeng, anak akan melakukan berbagai aktivitas yang mampu melatih fisik dan jaringan otak. Dampak yang ditimbulkan, anak menjadi lebih sehat secara fisik maupun psikis. Secara psikologis dua aktivitas tersebut mengajarkan anak mengasah mata batin melalui pemahaman dan penalaran. Anak-anak akan membangun pengetahuan melalui aktivitas positif tersebut. Setiap anak tanpa kecuali anak difabel berhak atas dunia itu.

Memberikan kesempatan kepada anak-anak difabel usia Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menegah Pertama (SMP) mengenal berbagai dolanan tradisional terjadi di Lapangan Trirenggo, Bantul, Yogyakarta. Tujuh puluhan anak difabel, ada tuli, low vision, totaly blind, down syndrome, autis, cerebral palsy, pengguna kursi roda, mengoptimalkan kesempatan tersebut.

Meriah, mereka menjajal berbagai dolanan yang didesain aksesibel. Kebahagiaan dan keceriaan tergambar dari wajah-wajah mereka. Meski tidak semua dolanan bisa mereka nikmati, tetap saja kebahagiaan tergambar melalui celoteh, raut muka dan gestur tubuh mereka. Mengisi hari libur dengan keluar rumah, bertemu dan mengenal teman-teman lain, tak ayal juga menumbuhkan pengalaman positif bagi mereka.

Inklusif dan aksesibel

Terdapat sepuluh jenis kegiatan (dolanan), yaitu egrang, gasing, dakon (congkak), bas-basan (dam-damam), kasti, boy-boynan (pecah piring), tulup bambu, theklek (bakiak), gendiran (nekeran/kelereng), dan membuat dolanan. Enam di antaranya (gasing, dakon, bas-basan, boy-boynan, tulup bambu dan membuat dolanan) dapat diakses difabel. Lima jenis dolanan dimainkan di atas meja, sehingga para pengguna kursi roda dapat mengaksesnya. Sedangkan  membuat dolanan digelar di lapangan rumput, dengan pemandu, tidak ketinggalan juru bahasa isyarat siap menerjemahkan keterangan si pemandu.

Antusias mengenalkan dolanan tradisional pada anak-anak mereka juga diakui oleh para orang tua. Memberikan hiburan dan pengalaman baru bagi anak-anak mereka menjadi tujuan. Aksesibilitas yang disiapkan cukup membantu, meski belum sepenuhnya dapat mengakomodir kebutuhan anak-anak mereka. Tapi sangat menyenangkan dan membahagiakan, tutur para orang tua.

“Adanya juru bahasa isyarat sangat membantu anak saya yang tuli memahami setiap instruksi saat mengikuti kegiatan membuat dolanan. Demikian juga saat memahami berbagai informasi yang disampaikan,”tutur ibu dari Alifa.

Kegiatan ini merupakan rangkaian acara Internalisasi Nilai Tradisi Melalui Permainan Tradisional dan Cerita Rakyat, digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Bantul. Kegiatan langka Pemerintah Desa Panggungharjo, dilangsungkan di Lapangan Trirenggo Bantul, Rabu (10/7/2019).

Keseluruhan kegiatan dirancang inklusif, digelar dalam dua hari. Hari pertama, Rabu (10/7) dolanan, diikuti sebanyak 350 siswa SD dan SMP. Hari kedua, Kamis (11/7) dongeng, diikuti 150 peserta.

Menanamkan nilai

Menurut Kepala Seksi Ekspresi Budaya Direktorat Kepercayaan dan Tradisi Kemendikbud Satriyo Puji Raharjo, kegiatan ini sebagai wujud kepedulian terhadap budaya lokal khususnya permainan tradisional dan ekspresi budaya tradisional. Mengingat saat ini, kata dia, permainan tradisional dan cerita rakyat saat ini telah terabaikan.

"Permainan tradisional dan cerita rakyat saat ini sudah mulai terabaikan di masyarakat dan generasi muda. Sedangkan dalam unsur budaya kita terdapat nilai pembentukan karakter dan jati diri bangsa khususnya generasi muda," kata Satriyo.

Permainan tradisional penting juga untuk menyaring budaya di era global, lanjut dia. Hal tersebut agar anak-anak tidak  terbuai dengan gawai. Menurutnya, permainan tradisional dapat dimanfaatkan untuk menanamkan nilai budaya bangsa pada generasi muda. Nilai tersebut antara lain kebersamaan, sportivitas, jujur, dan berani bersaing.

Bahkan menurutnya bukan tidak mungkin permainan tradisional dan dongeng dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Jika dapat dimasukkan dalam kurikulum, kegiatan belajar akan lebih menyenangkan. Untuk itu, kegiatan tersebut sangat bagus untuk dikenalkan kepada setiap anak, tanpa kecuali anak difabel pada jenjang pendidikan SD dan SMP.

Adapun Kepala Dinas Kebudayaan Bantul Nugroho Eko Setyanto juga berharap permainan tradisional dapat lestari sehingga setiap anak-anak, demikian pula difabel, dapat tumbuh dengan nilai-nilai kebudayaan dalam permainan tradisional.

Media bersosialisasi

Pada kesempatan lain, Guru PAUD Inklusif Panggungharjo Umi Khasanah menyatakan bahwa event mengenalkan dolanan dan dongeng itu sangat bagus. Selain mengenalkan nilai budaya, event itu dapat menjadi ajang berkumpul bersama teman-temannya. Kegiatan yang jarang dijumpai pada kehidupan anak-anak yang lekat dengan gawai (handphone).

Satu hal yang disoroti dan diapresiasi Umi adalah usaha mendesain dolanan sehingga sedemikian rupa aksesibel. Even serupa sebaiknya tidak hanya seasonal melainkan bisa diakses setiap hari. Karena dolanan ini selain sebagai media bersosialisasi, juga dapat menjadi media terapi. Demikian penuturan Umi pada Solider, Kamis (11/7).

Setiap anak berhak mengakses permainan, termasuk permainan tradisional. Kegiatan tersebut merupakan salah satu contoh usaha agar anak difabel dapat menikmati dolanan seperti halnya anak yang lain. Mereka selama ini terkadang tereksklusi, tidak dapat bermain diluar rumah, tidak dapat bermain dengan teman sebayanya dan bahkan tidak punya pengalaman menikmati dolanan tradisional. Sudah saatnya semua pihak memperhatikan hak anak difabel untuk menikmati permainan seperti halnya anak-anak nondifabel. Menikmati permainan bersama teman sebaya tentu merupakan pengalaman berharga yang suatu saat akan dapat dikenang dan bahkan sangat berharga dalam fase kehidupan anak-anak difabel.

 

 Wartawan: harta nining wijaya

Editor        : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.