Lompat ke isi utama
ILUSTRASI PENYAKIT MENTAL

Kita Semua Berpotensi Menjadi Difabel Psikososial

Solider.id, Yogyakarta – Tekanan kerja dan problema kehidupan rentan membuat kita stres dan berujung pada berbagai macam penyakit mental (mental illness). Menurut laman resmi pemerintah United Kingdong (www.gov.uk), kesehatan mental yang terganggu bisa masuk ke dalam kategori difabel psikososial jika kondisi tersebut sudah memengaruhi aktifitas normal sehari-hari dalam jangka waktu yang panjang. Jangka waktu panjang didefinisikan jika sudah mencapai waktu sekitar 12 bulan.

‘Aktifitas normal sehari-hari’ didefinisikan sebagai hal yang orang lakukan secara reguler setiap harinya. Aktifitas ini seperti menggunakan komputer, bekerja di kantor, pulang ke rumah, atau berinteraksi dengan orang lain. Ada berbagai macam jenis penyakit mental yang bisa menyebabkan orang masuk ke dalam kategori difabel psikososial, termasuk: demensia (pikun), depresi, penyakit bipolar, obsesif kompulsif, dan skizofrenia.

Difabel psikososial menjadi salah satu jenis difabel di dunia yang sering “tidak nampak” namun memiliki proporsi yang cukup besar dalam segi jumlah.  WHO mengestimasi ada jutaan orang dengan penyakit mental dan satu dari empat orang di dunia merasakan penyakit mental di dalam siklus hidupnya. Selain stigma dan diskriminasi yang didapatkan oleh difabel psikososial dalam hidupnya, gejala jenis difabel ini bisa berujung pada tingkat bunuh diri yang tinggi di generasi muda yang secara global, meningkat pada remaja yang baru berusia 15-19 tahun.

Harus diakui bahwa difabel psikososial juga tidak kalah terstigma dan terdiskriminasi secara sosial, ekonomi, dan aktifitas politik. Khusus yang terakhir, pada Pemilu serentak 2019, hak politik bagi difabel psikososial sempat menjadi polemik. Diskriminasi bagi difabel psikososial dalam mendapatkan hak politiknya tidak hanya berasal dari institusi atau lembaga, namun juga berasal dari masyarakat umum yang masih merasa bahwa difabel psikososial tidak mampu dalam menentukan pilihan pada Pemilihan Umum 2019.

Definisi difabel psikososial yang ada di masyarakat awam bisa saja terkonstruksi dari istilah “orang gila” yang mungkin saja sering mereka lihat di jalanan, atau di institusi kesehatan di rumah sakit jiwa, dan bahkan di tayangan-tayangan sinetron yang melanggengkan stigma dan persepsi yang salah terhadap difabel psikososial ini. Padahal, kerentanan untuk bisa menjadi difabel psikososial itu terbuka untuk siapa saja. Banyak dari diri kita, keluarga, teman, tetangga banyak merasakan gejala-gejala untuk mengalami kesehatan mental seperti rasa cemas yang berlebihan, rasa takut, kecewa, dendam, perasaan tercerabut dari keluarga dan perasaan lainnya yang disebabkan oleh pengalaman personal maupun pengalaman profesional. 

Ada penelitian yang menyebutkan bahwa penyakit mental hinggap di hampir setiap individu, yang bisa berakibat pada berhentinya siklus pekerjaan dan perasaan tertekan serta depresi yang mendera. Karena hal ini, banyak individu akhirnya yang jatuh ke dalam pengaruh minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang.

Selain efek dalam segi kesehatan, secara sosial dan ekonomi, penyakit mental yang dirasakan oleh difabel psikososial bisa memakan harga pada hilangnya suplai pekerja yang potensial, tingginya pengangguran, biaya yang berhubungan dengan pengobatan kedifabelan, dan menurunnya produktifitas pekerjaan. Sekitar 10-15 persen orang yang mengalami penyakit mental cenderung mendapatkan kesempatan pekerjaan yang lebih sedikit daripada mereka yang bebas dari penyakit mental.

Riset Kesehatan Dasar 2013 menyebutkan bahwa 14 juta orang di Indonesia adalah difabel psikososial. Prevalensi untuk difabel psikososial yang berat adalah 1,7 dibanding 1000 penduduk Indonesia atau sekitar 400.000 orang. Stigma dan diskriminasi yang hadir di kalangan masyarakat Indonesia kepada difabel psikososial, terutama yang sudah berat, membuat difabel psikososial ini kerap ditelantarkan atau bahkan dipasung oleh keluarganya sendiri.

Selain stigma dan diskriminasi, ketidakmampuan difabel untuk mengenali penyakit mental yang berujung pada kondisi difabel psikososial adalah hambatan terbesar saat ini. Hambatan tersebut diperparah dengan negara yang belum memberikan fasilitas dan kesempatan yang layak bagi difabel psikososial yang masih menjalani perawatan atau yang sudah sembuh.

Diskriminasi juga kadang datang dari keluarga sendiri yang tidak siap menerima difabel psikososial yang baru saja pulang dari pengobatan. Banyak keluarga yang tidak siap karena keterpurukan ekonomi, sampai malu kepada lingkungan.

Menghapus diskriminasi karena siapapun rentan terkena penyakit mental

Seorang tetangga saya yang bernama Yati telah lama dikenal sebagai seorang difabel psikososial ringan. Desas desus yang beredar di kalangan tetangga, ia stres berat setelah bercerai dengan suaminya. Sempat tidak berbicara kepada siapa pun selama berminggu-minggu, ia kemudian sempat dibawa berobat ke salah satu rumah sakit di Magelang. Setelah mendapatkan pengobatan, ia berangsur membaik. Sekarang ia sudah sembuh seperti sedia kala, bisa berinteraksi dengan siapa saja, meski masih harus rutin mengonsumsi obat.

“Saya harus terus minum obat, kalau tidak saya akan berhalusinasi lagi. Kadang juga saya akan susah tidur dan pusing kepala kalau telat minum obat. Tapi sekarang sudah jauh lebih baik. Saya ikut pengajian juga biar pikiran jadi tenang dan jernih,” ujarnya.

Sekarang ia hanya di rumah saja. Dulu ia sempat bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, perceraian yang ia alami membuat ia harus pulang kampung. Ia depresi dan sempat ingin bunuh diri. Saya tidak banyak bertanya tentang masa lalunya karena takut ia akan mengingat luka di masa lalu.

“Saya sempat ingin bekerja lagi, saya sudah merasa sehat lagi. Namun, tidak dibolehkan oleh keluarga. Takut kumat lagi kata mereka. Sekarang hanya di rumah saja membantu keluarga. Mau menikah lagi juga siapa yang mau sama saya,” ungkapnya sambil tertawa kecil.

Penyakit mental yang berujung pada kondisi menjadi difabel psikososial bisa menyerang siapa saja. Generasi milenial punya tingkat kerentanan cukup tinggi terhadap penyakit mental. Milenial disebut-sebut sebagai generasi yang lebih rentan dengan depresi, kecemasan berlebih dan bahkan berpikir tentang bunuh diri, daripada generasi sebelumnya. Apalagi dengan munculnya media sosial yang menjadi tempat untuk adu kesuksesan dan adu kehidupan yang bahagia, milenial akan cenderung membandingkan kehidupan, karir, asmara diri mereka dengan orang lainnya. Fenomena ini membuat orang jadi lebih mudah stres dan terkena penyakit mental. Padahal, yang ditunjukkan di media sosial biasanya adalah hal-hal yang membahagiakan saja. Hal buruk yang terjadi pada diri sendiri cenderung tidak akan dipublikasikan karena perasaan malu.

Selain itu, masalah kesepian juga menjadi penyebab dan faktor utama dari munculnya penyakit mental yang berpotensi berujung pada kondisi difabel psikososial. Masalah kesehatan mental lebih sering terjadi pada orang yang hidup sendirian, terlepas dari usia dan jenis kelamin.

Informasi ini berasal dari sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE yang menghimpun data dari 20.500 orang berusia 16-64 tahun. Studi ini menemukan adanya hubungan antara mereka yang kesepian karena tinggal sendirian dan gangguan mental berkepanjangan.

Menjaga lingkungan agar tetap sehat dalam melihat difabel psikososial adalah kunci. Selama ini stigma dan diskriminasi pada difabel psikososial sungguh mematikan potensi mereka yang sembuh dan ingin kembali ke masyarakat. Kesempatan untuk bekerja semakin mengecil, keluarga sering tidak percaya dan terintimidasi dengan persepsi tetangga dan masyarakat. Kesadaran ditumbuhkan ketika semua orang menjadi paham bahwa siapa pun rentan menjadi difabel psikososial, juga difabel lainnya, karena beban kehidupan yang semakin berat. Untuk itu, cara pandang masyarakat juga harus membaik terhadap difabel psikososial.

 

Peenulis  : Yuhda

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.