Lompat ke isi utama
pertemuan OYDPK Subang 7Juli 2019 Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang duduk dan dalam ruangan

Kusta dan Optimisme Untuk Sembuh

Solider.id, Bandung – Kusta secara umum masih dipandang sebagai penyakit yang menyeramkan. Bahkan untuk sebagian kalangan masyarakat, kusta diasumsikan suatu penyakit kutukan yang pada akhirnya menimbulkan sekat diskriminasi. Perspektif di masyarakat yang masih keliru ini antara lain disebabkan oleh tradisi budaya lokal setempat, serta minimnya informasi yang tepat terkait kusta dan pengobatannya.

Secara medis, kusta tergolong penyakit menular yang fase penularannya tidak mudah. Artinya, penularan kusta dapat terjadi dalam durasi tahunan dan tidak langsung menularkan. Penyebabnya, adalah bakteri Mycobecterium Leprae yang biasanya menyerang pada kulit. Timbulnya bercak putih atau merah di kulit, mengalami penebalan dan mati rasa atau berkurangnya fungsi syaraf, merupakan identifikasi terpapar kusta yang mudah dilakukan di pusat pelayanan kesehatan seperti Puskesmas.

Lalu, apakah kusta dapat disembuhkan?

Minimnya informasi terkait kusta dan cara penangannya, membuat masyarakat luas masih simpang siur dalam memahami kusta. Bahkan saat ditemukan orang  dengan penyakit kusta, masyarakat cenderung  menjauhi atau mengucilkan mereka. Terlambatnya pemeriksaan dini, membuat orang  dengan penyakit kusta sering kali mengalami kerusakan pada sistem fungsi syaraf sehingga berpeluang mengarah kepada kedifabelan. Atau terjadinya infeksi pada kulit yang semakin parah disebabkan mati rasa.

Padahal, kusta dapat disembuhkan dengan penanganan sedini mungkin untuk menghindari kedifabelan. Penyembuhan kusta juga dapat menghambat tingkat kedifabelan yang ada agar tidak lebih parah lagi.

Penelusuran di lapangan, solider.id bertemu Sapna (64), seorang ibu rumah tangga dari Subang yang terkena kusta di tahun 2009. Ia mengalami rasa kaku pada tangan dan kaki, timbulnya bercak merah di wajah yang tidak kunjung sembuh. Ia berkali-kali melakukan pengobatan. Sejumlah pusat pelayanan kesehatan yang dikunjunginya menyatakan Sapna terkena alergi kulit.

Vonis kusta dari puskesmas setempat yang terpapar pada dirinya, justru tidak ia ketahui dengan jelas. Pihak puskesmas memintanya untuk rutin minum obat yang diberikan, dan memeriksakan kondisinya secara rutin. Pengobatan pun dilakukan selama satu tahun tanpa jeda. Alhasil, di tahun 2010 Sapna dinyatakan sembuh dari kusta. Meski sudah dinyatakan sembuh, ia masih dianjurkan cek up untuk menghilangkan rasa kaku yang masih sedikit dialaminya.

Dari yang disampaikan Sapna, membuktikan kusta dapat disembuhkan dengan penanggulangan secara dini melalui pengobatan yang tepat dan konsisten. Kusta dapat sembuh dalam satu tahun. Saat ditanyakan apakah dirinya mengetahui tentang apa itu kusta, Sapna mengaku tidak paham dengan sakit yang dialaminya. Ia hanya memiliki keinginan kuat untuk sembuh dan melakukan pengobatan sesuai yang dianjurkan dokternya.

Sapna sendiri lebih paham tentang kusta setelah berangsur dinyatakan pulih dan bergabung dengan Kelompok Perawatan Diri atau KPD. Kelompok ini merupakan kumpulan orang  dengan penyakit kusta. Imbas positif dari ketidaktahuan sementara tentang kusta, Sapna di lingkungan masyarakatnya masih dapat menjalani aktifitas secara umum. Termasuk bergaul dan bersosialisasi bersama tetangganya. Di lingkunganpun, kondisi Sapna hanya dianggap sebagai orang yang memiliki alergi kulit saja.

Tak hanya bertemu dengan Sapna sebagai orang  dengan penyakit kusta. Solider.id juga bertemu dengan Dokter Entin Suprihatin dari Puskesmas Sukarahayu, UPTD Sukarahayu Kecamatan Subang Kabupaten Subang Jawa Barat.

Menurut keterangan Entin, di wilayahnya pada 2017 ditemukan 1 orang  dengan penyakit kusta. Sementara pada 2018 meningkat menjadi 3 orang dan di 2019 pun kembali ditemukan 3 orang lagi. Dari keseluruhan orang  dengan penyakit kusta atau ODPK yang ada di Subang, mereka membentuk Kelompok Perawatan Diri atau KPD. Dokter Entin menjadi salah satu penggagasnya. Melalui kelompok inilah, masyarakat mulai mengetahui kusta dan informasinya secara tepat. Meskipun sosialisasinya terbilang masih secara personal. Artinya, menjangkau lingkup keluarga dari  OYDPK tersebut.

Sebagai dokter, Entin memiliki cara tersendiri untuk menangani kasus kusta. Mengingat, kusta masih menjadi sorotan penyakit yang paranoid dengan perspektif yang berbenturan dengan budaya lokal, dan menimbulkan diskriminasi pada warga. Entin memilih memberikan pengobatan secara rutin ketimbang lebih banyak menjelaskan terkait kusta itu sendiri terhadap pasiennya. Dengan mampu menyembuhkan satu orang OYDPK hingga tuntas, sama dengan meminimalisir penyebaran kusta di wilayahnya.

Entin lebih mengedepankan pendekatan personal untuk kasus kusta dengan menganjurkan untuk memeriksakan diri bila mengalami tanda-tanda adanya kusta. Sosialisasi ini cukup ampuh untuk mendorong kesadaran warga memeriksakan dirinya. Dari cara yang di lakukannya, Entin menyampaikan, orang yang terpapar kusta yang dalam penanganannya secara medis, terbukti masih dapat berinteraksi seperti biasa di lingkungannya.

Memberikan pengobatan dan menuntaskannya hingga sembuh terhadap OYDPK dinilai lebih akurat ketimbang memboombastis sosialisasi di tengah masyarakat. Langkah pengobatan ini untuk menjaga hak OYDPK sendiri, yang pada akhirnya saat ditemukan yang terpapar kusta malah akan terasingkan dan didiskriminasikan masyarakat.

Langkah pengobatan Entin terhadap  orang yang terpapar kusta pun seiring dengan kinerja Dinas kesehatan Jawa Barat. Mewakili Dinkes Jabar, Nunung Sumiati S, km, menyampaikan langkah awal yang dilakukan Dinkes adalah melalui langkah advokasi. Terutama untuk daerah-daerah endermis tinggi di Jawa Barat, seperti Karawang, Subang, dan Indramayu. Dinas kesehatan memfasilitasi segala bentuk pengobatan dan penyediaan obat untuk orang  dengan penyakit kusta. Ini bukti pihak pemerintah sangat serius dalam meminimalisir bahkan menghapuskan kusta, khususnya di Jawa Barat.

Dari data dan fakta yang ada, saya sampaikan orang yang terpapar kusta dapat disembuhkan dengan penanggulangan secara dini, dan peran aktif berbagai pihak terkait. Orang yang dengan penyakit kusta optimis dapat disembuhkan, penularan dapat diminimalisir, bahkan kedifabelan pun dapat dicegah dan diatasi agar tidak semakin bertambah.

Perspektif di masyarakat yang sudah melekat terkait kusta, dengan sendirinya dapat teratasi secara alamiah. Langkah pengobatan dan memulihkan orang yang dengan penyakit kusta mesti memilih cara yang unik. Bukan sebatas menyebarkan informasi secara gamblang pada masyarakat. Namun, lebih kepada pembuktian proses kesembuhan orang yang terpapar kusta. Dan memberdayakan mereka yang mengalami kedifabelan yang disebabkan oleh kusta.

Dengan demikian, masyarakat yang disinyalir memiliki tanda-tanda terpapar kusta dengan kesadaran sendiri untuk melakukan pemeriksaan dirinya. Dan bagi yang tervonis terpapar kusta bersedia melakukan mengobatan hingga tuntas, sedang mereka yang terlambat mengetahuinya hingga terjadi kedifabelan masih berhak dalam pengobatan hingga pemberdayaan.

Kusta optimis dapat disembuhkan. Perspektif inilah yang kemudian harus dapat dicerna oleh oleh masyarakat luas. Melalui pembuktian secara medis dan bentuk pemberdayaan bagi mereka yang terlambat pengobatan, orang yang dengan penyakit kusta dapat terhindar dari sikap diskriminasi maupun budaya adat yang mengisolirkan mereka dari lingkungan. Sosialisasi arus informasi untuk penyakit kusta perlu dibungkus seindah mungkin, sehingga tidak menimbulkan efek negatif di kalangan masyarakat umum bagi mereka yang terpapar kusta.

Semoga melalui tulisan ini, kita dapat lebih memahami terkait kusta dan langkah serta cara penanganannya yang efektif secara medis. Sekali lagi, kusta yang terdeteksi secara dini dapat disembuhkan. Stop diskriminasi untuk orang yang dengan penyakit kusta.

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.