Lompat ke isi utama
Mutiara sedang menunjukkan hasil pengumuman PPDB

Perjuangan Mutiara Azzahra Tidak Sia-sia

Solider.id, Yogyakarta- Mutiara Azzahra, akhirnya bisa bernafas lega. Perjuangannya bersama ibunya, Dwi Handayani mendapatkan sekolah negeri di Kota Yogyakarta tercapai. Tidak ada yang sia-sia. Remaja lulusan sekolah khusus tuli, SDLB Karnamonohara itu diterima di sekolah pilihannya.

Pada Kamis (4/7), melalui surat resmi yang ditandatangani Kepala SMP Negeri 13 Suramanto, Mutiara dinyatakan sebagai satu di antara lima siswa yang diterima di SMP Negeri 13 Yogyakarta melalui zonasi mutu luar kota.

Sebelum pukul 08.00 pagi, Tiara ditemani ibunya dan didampingi anggota Komite Disabilitas DIY tiba di Kantor Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Sebagaimana dijadwalkan sebelumnya, pagi itu Mutiara melakukan pendaftaran secara off-line dengan bantuan petugas. Ia merasa gelisah, tahap demi tahap proses pendaftaran dilaluinya. Meki begitu, di antara kehawatirannya, jelas tergambar gurat semangat dan kegigihan remaja itu.

Berbagai kendala yang menghalangi dalam PPDB telah dilaluinya. Nilai Ujian Nasional (NUN) mata pelajaran Bahasa Indonesia yang tadinya ‘0’ akhirnya sudah keluar. Ia mendapat nilai 82,5 untuk Bahasa Indonesia, Matematika 65,4, Ilmu Pengetahuan Aalam 92,0. Rata-rata nilai ujian nasional 80.1. Sulung lima bersaudara kelahiran Tangerang, 13 Juli 2005 itu, selain berprestasi bidang akademis, juga berprestasi di bidang olahraga.

Usai mengikuti proses pendaftaran yang terbilang rumit dan menguras energi, Tiara dinyatakan diterima di SMP Negeri 13 Yogyakarta. Proses selanjutnya, Kantor Dinas Pendidikan di Jalan Hayam Wuruk, Tiara dan ibunya menuju SMP Negeri 13 di Jalan Minggiran, Suryodiningratan guna melengkapi berkas-berkas daftar ulang.

Sosialisasikan kebijakan

Kepada Solider, Dwi mengaku lega. Selanjutnya akan terus memberi semangat agar Tiara bisa terus maju menimba ilmu sesuai dengan harapannya. “Tidak boleh patah semangat, jangan pernah mengecewakan orang-orang atau teman-teman dan semua saudara yang sudah susah payah dan kerja keras mau membantu Tiara,” pesannya kepada Tiara.

Dwi juga berharap kebijakan kuota difabel berikut petunjuk teknis (juknis) PPDB, disosialisasikan jauh-jauh hari. Demikian pula waktu pengumuman ujian paling tidak disamakan dengan sekolah reguler.

“Tetapi akan lebih baik lagi, pengumuman ujian sudah disampaikan lebih awal. Hal ini, mengingat pelaksaan PPDB kuota difabel yang dijadwalkan lebih awal,” tandas Dwi. Nilai, kata dia “Nilai, ini penting dan tidak penting. Ketika difabel memilih jalur prestasi nilai hitam di atas putih ini penting. Tetapi, ketika difabel tidak menggunakan jalur tersebut, nilai tidak begitu penting. Sehingga, kuota bagi difabel semestinya diberlakukan tanpa syarat,” Dwi memaknai proses PPDB.

Lebih lanjut Dwi bertutur, masih banyak anak-anak difabel yang kurang, bahkan tidak memperoleh dukungan dari orangtuanya. Untuk itu dia menggarisbawahi agar pemerintah betul-betul mensosialisasikan segala hal terkait kuota difabel pada PPDB lebih awal. Dengan demikian siswa sudah paham gambaran ke mana akan melanjutkan sekolah, berikut dengan berbagai tahapan yang harus dilaluinya. Menurutnya, proses PPDB yang tidak transparan, tanpa sosialisasi tidak akan terjadi lagi pada masa-masa mendatang.

Di akhir kesempatan perbincangannya, Dwi meminta semua pihak, terlebih pemerintah agar memberikan kesempatan yang sama kepada difabel. “Pandanglah para siswa Tuli atau siswa dengan difabilitas lain itu sama sebagaimana siswa nondifabel. Sama dengan seluruh hak yang memang harus diperolehnya. Jangan bedakan mereka. Masih banyak difabel yang harus berjuang tanpa support orang tua mereka, janganlah persulit keadaannya,” pungkasnya.

Kawal proses

Menanggapi kesempatan yang akhrinya terbuka bagi Tiara, Komite Disabilitas DIY diwakili Winarta mengatakan bahwa PPDB ini baru proses awal. Yang tidak kalah penting untuk terus dikawal ialah proses bagaimana siswa difabel mendapatkan aksesibilitas sebagaimana kebutuhannya. Bagaimana negara melalui sekolah, memberikan pemenuhan atas kebutuhan aksesibilitas bagi siswa difabel. Bagaimana guru mampu menciptakan iklim belajar yang kondusif.

“Tidak bisa berhenti hanya dengan menerima siswa difabel saja. Tetapi bagaimana negara melalui lembaga pendidikan memberikan aksesibilitas sesuai kebutuhan siswa, ini proses yang harus dilakukan berikutnya. PPDB ini hanyalah proses awal, pelaksanaan pembelajaran juga akan menjadi perhatian komite Disabilitas DIY,” ujar Winarta.

 

Reporter: Harta Nining Wjaya

Editor: Robandi

The subscriber's email address.