Lompat ke isi utama
ilustrasi transportasi bus di Indonesia

Menilai aksesibilitas moda transportasi dengan kerangka siklus perjalanan

Solider.id, Banjarnegara – Hari Selasa (2/7/2019) saya berada di Jakarta untuk agenda di Kemenpora dan harus segera kembali ke Banjarnegara. Rencana awal, saya akan menggunakan kereta sampai Purwokerto dan melanjutkan dengan travel ke Banjarnegara. Karena mendadak, saya kehabisan tiket kereta ke Purwokerto dan terpaksa menggunakan moda transportasi bus dari Jakarta ke Banjarnegara. Ada beberapa pilihan, dua yang paling terkenal adalah PO Sinar Jaya dan PO Pahala Kencana. Saya memilih menggunakan PO bus yang kedua.

Melalui traveloka, sebuah aplikasi pemesanan akomodasi, saya kemudian memesan secara daring PO Pahala Kencana kelas VIP nomor kursi 6D dengan fasilitas AC dan toilet. Sungguh sebuah kemudahan karena saya tidak perlu repot-repot datang ke agen bus dan saya bisa leluasa memilih kursi. Bus yang saya pesan mulai perjalanannya dari pool Pahala Kencana di seputaran Daan Mogot Jakarta Barat pada pukul 18.00 untuk menuju Jawa Tengah.

Sekitar tiga jam berjalan, saat kami mulai memasuki tol Cikopo Palimanan (Cipali), saya baru tersadar bahwa penumpang di samping bangku saya adalah seorang low vision. Ia bernama Syafruddin (46). Saat ingin menggunakan fasilitas kamar mandi, Syafruddin cukup kesulitan berjalan menyusuri kabin bus karena lampu dimatikan sepanjang perjalanan. Begitu pula ketika ingin membuka pintu kamar mandi bus. Selain gelap, gagang pintu juga harus ditekan ke posisi bawah dengan kuat agar mau terbuka. Ia sempat meminta bantuan saya untuk membukakan. Untung, lampu di dalam kamar mandi cukup terang, meskipun buang air kecil di dalam kamar mandi bus yang sedang berjalan kencang bukan merupakan hal yang mudah.

“Saya penjual buah-buahan di pasar sentral Banjarnegara. Ke Jakarta cari buah-buahan sekaligus ketemu dengan supplier salak biar bisa masuk ke supermarket-supermarket di Jakarta,” ujarnya memulai cerita saat kami duduk di bangku rest area Rumah Makan Aneka di seputaran Cirebon saat bus berhenti untuk istirahat.

Ia menjadi low vision semenjak kecil karena kurang gizi. Sempat putus sekolah, ia meneruskan usaha bapaknya sebagai penjual buah di pasar sentral Banjarnegara.

“Susah sekali dengan penglihatan setengah [low vision] ini untuk ke Jakarta naik bus. Kalau masih pagi sampai sore masih bisa, kalau udah malam, tantangannya banyak. Gelap, tapi saya sudah biasa sendiri,” ungkapnya.

Ia kemudian bercerita pengalamannya sebagai low vision dalam mencoba berbagai macam moda transportasi, terutama bus umum.

“Mungkin kereta yang paling gampang selama ini buat orang seperti saya. Lampunya ga dimatiin waktu jalan. Jadwalnya juga tepat waktu. Jadi ga usah nunggu lama. Kalau pesawat, saya belum [pernah],” ia bercerita sambil menghisap dalam-dalam rokok kreteknya.  

Baginya, tidak ada terminal yang cukup membuatnya nyaman untuk low vision seperti dirinya. Fasilitas terminal bus di Indonesia memang buruk sekali menurutnya. Orang-orangnya juga kurang ramah.

“Apalagi saya kayak gini [low vision]. Sering ditarik-tarik calo tiket. Tiket kadang ga kebaca jadi ga tahu nomor kursi yang mana. Ga ada braillenya. Kios agen juga berjajar dengan tulisan yang kecil-kecil. Hanya [terminal] Bungurasih Surabaya yang sudah bagus kayaknya,” ia menimpali.

Tapi ia bersyukur sekarang pesan bus sudah bisa via aplikasi seperti Traveloka dan Redbus. Hal itu sangat memudahkan dirinya meski ia harus sering meminta bantuan anak gadisnya untuk memesankan bus.

Aksesibilitas transportasi publik

Aksesibilitas transportasi publik memang semakin membaik jika ditarik semakin ke kota-kota besar seperti Jakarta. Di ibukota sendiri, aksesibilitas transportasi memang semakin ditingkatkan pada moda transportasi seperti Trans Jakarta, dan yang terbaru pada sarana transportasi seperti MRT.

Seperti diberitakan oleh Kompas, titik mulai MRT di stasiun Bundaran HI sudah dilengkapi dengan beberapa elemen aksesibilitas seperti lift yang cukup untuk dua orang pengguna kursi roda.

Lift ini pun tampak telah dilengkapi dengan huruf braille untuk memudahkan difabel netra.

Meski begitu, lift tersebut masih belum dilengkapi dengan keterangan suara sehingga difabel netra yang sedang naik kerap bertanya apakah sudah terbuka pintu liftnya.

Saat memasuki kereta, difabel pengguna kursi roda tampak agak kesulitan. Mereka tampak harus mengangkat kursi roda lantaran jarak antara peron dan kereta selebar lima centimeter dengan ketinggian yang sedikit tidak rata.

Di bagian dalam MRT, difabel khususnya pengguna kursi roda bisa menggunakan area prioritas yang terdapat pada ujung kereta di gerbong ketiga dan keempat dalam setiap rangkaian kereta

Ketua Pusat Pemilihan Umum Akses Difabel (PPUA) Ariani Soekanwo, seperti diberitakan Kumparan meminta agar Kementerian Perhubungan untuk lebih memperhatikan sarana transportasi umum yang dirasa belum ramah untuk  difabel.

Selain penerbangan, dan transportasi darat jarak jauh, Ariani menganggap salah satu transportasi yang paling belum ramah terhadap difabel adalah kapal.

“Kereta api mulai bagus, Trans Jakarta mulai bagus, tapi rata-rata transportasi itu belum ramah difabel termasuk kapal,” terang Ariani.

Menurutnya, dalam melayani difabel di transportasi umum setidaknya harus ada petugas pendamping yang paham dengan pola interaksi dengan difabel.

Siklus Perjalanan

Menurut sebuah penelitian tentang aksesibilitas berjudul Assessment of Accessibility Standards for Disabled People in Land Based Public Transport Vehicles, dalam sebuah perjalanan seseorang, akan ada delapan siklus yang harus dilewati. Jika diurut dari awal, siklus itu adalah (1) perencanaan perjalanan, (2) perjalanan menuju stasiun moda transportasi, (3) sampai pada stasiun, (4) membeli tiket, (5) menemukan pelayanan yang tepat, (6) menaiki moda transportasi dan berangkat, (7) sampai di tujuan, dan (8) turun dari moda transportasi.

Nilai aksesibilitas akan sempurna jika semua siklus tersebut sudah mengakomodasi akses bagi difabel. Jadi, perkara aksesibilitas tidak hanya berada pada domain fasilitas kendaraan atau terminal kendaraannya saja, namun harus ada pada kedelapan elemen sesuai dengan penelitian ini.

Mari kita analisa secara sederhana pengalaman Syafruddin di awal tulisan ini berdasarkan kerangka berpikir delapan prinsip siklus perjalanan. Pertama, perencanaan perjalanan. Saya memang tidak mengetahui dengan jelas dan objektif bagaimana Syafruddin merencanakan perjalanannya. Namun, dari caranya menentukan bus dan mengatur jam berangkat, patut diduga Syafruddin sudah memiliki perencanaan yang jelas. Sisi aksesibilitas berada pada pilihan armada yang paling  bisa memberikan kemudahan baginya.

Kedua, perjalanan menuju moda stasiun moda transportasi. Syafruddin berujar bahwa ia menggunakan ojek daring menuju agen PO Pahala Kencana di Daan Mogot. Penggunaan aplikasi daring semacam ini memudahkan Syafruddin dengan pilihan aksesibilitas yang sudah tertanam pada gawai.

Ketiga, setelah sampai pada stasiun, aksesibilitas stasiun kemudian bisa dinilai tingkat aksesibilitasnya. Tempat Syafruddin menunggu bus memang tidak terlalu aksesibel. Kamar mandi yang beranak tangga dan minim penerangan menjadi dua hal terkait aksesibilitas bermasalah di tempat ini.

Keempat adalah perkara pembelian tiket. Serupa dengan siklus nomor dua, pembelian tiket juga dibantu dengan aplikasi daring pemesanan akomodasi. Pemesanan seperti ini memangkas biaya aksesibilitas yang sering terhambat karena desain loket pembelian tiket yang tidak sesuai prinsip aksesibilitas bagi difabel.

Kelima, menemukan pelayanan yang tepat menjadi krusial bagi difabel. Petugas bus yang ramah dan mengerti cara berinteraksi yang tepat dengan difabel menjadi salah satu elemen aksesibilitas yang tidak kalah pentingnya. Dalam kasus Syafruddin, ia mafhum (mengerti) ketika banyak petugas bus yang memang masih belum bisa berinteraksi dengan tepat terhadap difabel.

Siklus keenam adalah menaiki moda transportasi dan berangkat. Siklus ini yang sering dibahas dalam hal terkait fasilitas yang aksesibel di dalam moda transportasi, seperti kursi prioritas dalam Trans Jakarta dan MRT. Bagi bus PO Pahala Kencana yang dinaiki Syafruddin, aksesibilitas memang masih minim. Apalagi jika yang menaiki adalah pengguna kursi roda.

Ketujuh dan kedelapan adalah sampai di tujuan dan turun dari moda transportasi. Tujuan tempat Syafruddin turun juga harus memiliki aksesibilitas, misal terminal tujuan atau halte sementara, begitu pula fasilitas bagi Syafruddin ketika turun dari bus.

 

Wartawan: Yuhda

Editor        : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.