Lompat ke isi utama
Salah satu pasien di puskesmas Sukoharjo sedang menunggu antrean

Perkumpulan SEHATI Tinjau Layanan Kesehatan Inklusif

Solider.id, Sukoharjo- Pagi itu, Sapto Widodo, difabel netra dibonceng kawannya untuk berobat menuju Puskesmas Sukoharjo. Jaraknya sekira satu kilometer dari tempat tinggalnya.

Sapto bersama Mardina, difabel fisik pengguna kursi roda dan Budi Utami, didaftar sebagai Tuli, mengeluhkan sakit perut. Mereka hendak berobat bersama. Pada saat mereka datang, petugas puskesmas langsung menghampiri mereka. Petugas CSO kemudian menanyai dan menyilakan para pasien difabel tersebut untuk mengantre.

Beberapa hari sebelumnya pihak puskesmas telah diberitahu bahwa Perkumpulan SEHATI akan melakukan audit sosial terkait layanan kesehatan inklusif di Puskesmas Sukoharjo. Terlepas dari rencana yang telah dibuat sebelumnya, ketiga pasien difabel dilayani seperti prosedur pasien pada umumnya.

“Pada waktu kita datang, petugas sudah gimana-gimana dulu,” ujar Sapto Widodo saat diskusi dan evaluasi, usai pemeriksaan dan menerima obat.

Sapto menceritakan pengalamannya ketika dia masuk puskesmas. Setelah pintu utama, terdapat tangga berundak dan handrail di sebelah kanan dan kiri.

Menurut Sapto, saat pendaftaran pasien dia merasa sudah akses, meski ada beberapa yang belum tepat dalam pelayanan. Seperti interaksi petugas ketika menggandeng tangannya. Meski begitu, ada beberapa layanan yang dapat mempermudahnya. Seperti audio panggilan nomor ketika mengantre dan saat pemeriksaan.

Sapto juga mengusulkan, terkait teknis menandai obat dengan staples untuk ukuran minum, resep setengah obat agar divertikalkan. “Oh ya, petugas pendaftaran ngomongnya terlalu cepat. Dan ketika menjelaskan, CSO masih membingungkan. Cara menjelaskan belum benar. Ada baiknya di nomor antrean langsung ada petunjuk ke ruang mana lalu ke mana gitu,” terang Sapto.

Solider juga mengamati di puskesmas tersebut sudah tersedia kursi prioritas, namun tidak tersebar di setiap ruangan. Belum ada tempat bagi mobilitas kursi roda di ruang tunggu. Terdapat kloset beserta handrail, namun belum tepat secara penggunaan, termasuk tempat gantungan baju yang tidak akses karena menempel di tempat yang tinggi.

Catatan tersebut menjadi bahan evaluasi pihak puskesmas dan menginginkan adanya evaluasi kembali oleh Sehati sekira enam bulan kedepan.

Edy Supriyanto kepada Solider menjelaskan bahwa monitoring dan evaluasi (monev) serta audit sosial layanan kesehatan yang inklusif yang dilakukan Perkumpulan SEHATI tidak hanya di Puskesmas Sukoharjo saja. Namun Puskesmas Polokarto, Kartasura dan Tawangsari. Tujuannya adalah bagaimana melihat proses layanan bisa memberikan layanan untuk semua orang, dari umum, lansia, anak-anak, ibu hamil dan difabel.

“Saya bisa melihat bagaimana layanan inklusif, bisa untuk semua orang hingga mewujudkan Sukoharjo inklusi,” terang Edy Supriyanto.

Selama ini Perkumpulan SEHATI bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo telah menyusun Standar Prosedur Operasional (SPO) pelayanan klinis bagi difabel. Mulai dari petugas pendaftaran, ruang pemeriksaan, ruang obat, ruang tunggu, maupun bagaimana cara petugas mendampingi difabel saat keluar puskesmas. SPO ini berlaku bagi berbagai ragam difabilitas, dari netra, Tuli, fisik berkursi roda, yang masing-masing memiliki kebutuhannya sendiri.

Langkah yang dilakukan Perkumpulan SEHATI setelah melakukan monitoring dan evaluasi yakni akan membuat surat rekomendasi resmi kepada dinas kesehatan. Surat tersebut berisi hasil diskusi diskusi yang dapat dijadikan dasar pijakan puskesmas. Monev juga membuahkan hasil dengan keluarnya pernyataan sikap bahwa puskesmas akan siap dievaluasi lagi dalam enam bulan kedepan.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.