Lompat ke isi utama
Jaka balung dan anak-anak siswa PAUD

Jaka Balung, dari Seniman Hingga Upaya Dirikan PAUD di Desa

Solider.id, Surakarta -Penampilannya tidak berubah, terkesan santai, baik dalam berpakaian, maupun saat bercakap-cakap. Sudah setahun ini saya tidak berjumpa dengannya, laki-laki difabel fisik yang saya temui di sebuah acara belum lama ini. Meski beberapa kali diundang dalam sebuah event bersama menteri atau kantor kementerian, namun Jaka Balung tetap rendah hati. Koleksi lukisannya tentang potret diri pemesan juga dikoleksi oleh beberapa orang ternama, dari pejabat publik sampai seniman internasional,dan dari orang biasa sampai teman-teman selingkungannya.

Jaka Balung, dikenal sebagai seniman serba bisa, dari melukis berbasis Ms Word, lukisan kaligrafi, serta olah vokal. Tak hanya itu, bersama komunitasnya, Kelompok Lakon Ngesot Budaya , Jaka Balung tak pelit untuk berbagi ilmu melukis kepada anak-anak panti asuhan yang tak jauh dari tempatnya saat tinggal di Solo.

Melihat fenomena yang kontras, antara kehidupan kota dan desa. Kota yang memiliki sejuta fasilitas pendidikan yang bagus untuk anak-anak, akses pendidikan yang mudah, sedangkan desa yang masih berkutat pada ketiadaan biaya sekolah, jauhnya lokasi sekolah dari tempat tinggal, lalu timbul pertanyaan dalam benak Jaka Balung, mengapa ia tidak berusaha mengadopsi pendidikan kota dengan kearifan lokal sesuai budaya yang dipunyai?

Lalu timbul tekad laki-laki yang bernama asli Joko Murtanto ini untuk mengembalikan fitrah anak-anak Indonesia yang berbudi. “Saya ingin mengembalikan jiwa anak-anak yang berbudi luhur, sesuai tempat saya tinggal, yakni ke-Jawa-an, karena semakin ke sini, nilai itu semakin tergerus oleh gerakan islamisasi radikal dan intoleran,”ungkap bapak dua anak ini.

Awal tahun ini Jaka Balung dan tiga temannya merintis berdirinya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di desanya, Gunung Sono RT 20, Gilirejo, Kecamatan Miri Kabupaten Sragen di bawah Yayasan Pengelola Pendidikan “Yasmine”. Lokasi sekolah yang dibangunnya berada di rumah sang kakak. Saat mendirikan PAUD, banyak yang mendukung langkah Jaka Balung. Tiga orang guru tak hanya mengajar PAUD, tetapi juga memberdayakan pemuda desa. Tiga guru itu juga diberi honor. Menurut Jaka Balung, dia belajar untuk menghargai kemampuan orang yang sama-sama berjuang. Sedangkan anak-anak yang bersekolah membayar disesuaikan kemampuan para orangtuanya. “Biar punya kemuliaan,”terang Jaka Balung.

Jaka Balung mengatakan bahwa dengan keadaan fisiknya yang berbeda, dan ketidakmampuan secara ekonomi, apalagi dia mengakui bahwa selama ini banyak melakukan aktivitas di kota Solo daripada di desa, lalu tiba-tiba datang ke Kepala Desa, tanpa action dan tindakan terlebih dahulu, maka ia yakin usahanya sia-sia. Maka dia bertekad dengan memperjuangkan pendidikan di desanya terlebih dahulu hingga pihak desa benar-benar percaya akan gerakan dan cita-citanya. 

Meski belum mendapat respon baik dari pihak desa, namun langkah promotif dan advokasi telah dilakukannya bersama teman-teman guru. “Kami sudah melobi pihak desa dan sudah ada janji dari mereka akan membantu pendanaan setiap anak sebesar 10 ribu rupiah setiap bulan. “Meski masih tergolong kecil, namun jika terlaksana, akan membahagiakan kami karena untuk support snack setiap hari, seorang siswa membutuhkan 2000 rupiah,” imbuh Jaka Balung. Sedangkan Alat Peraga Pendidikan (APE) yang sudah ada, sebagian besar mendapat bantuan dari pihak luar, pemerhati.

Jaka Balung merasa bangga atas kedifabelan yang dialaminya. “Ketika ada difabel, asal desa, miskin, nggak punya jaringan yang luas, kemudian bisa mewujudkan cita-cita mendirikan sekolah, itulah saya merasakan nikmatnya berjuang. Orang lain tidak akan merasakan hal sama yang saya rasakan, itu kan sexy sekali,” pungkas laki-laki yang pada minggu-minggu ini membuka lagi kelas di rumahnya untuk Taman Kanak-Kanak (TK), menambah lokal belajar dan berharap semoga ke depan pendidikan bagi anak-anak desa akses di semua lini, termasuk di daerah pinggiran seperti wilayahnya.

 

Wartawan: Puji Astuti

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.