Lompat ke isi utama
Surani bersama Anisa, putrinya

Belajar Dri Anisa, Difabel Dapat Terjadi pada Siapa Saja

Solider.id, Yogyakarta. Anisa Saltsa Agustina, sebelumnya gadis kecil itu ceria sebagai mana remaja belia seusianya. Bocah perempuan yang baru naik kelas enam SD Wirokerten Bantul  itu biasa bermain bersama teman-temannya. Dia juga lincah dan aktif. Namun sejak 17 Agustus 2018, semua berubah. Ketika itu, Anisa mengikuti upacara bendera peringatan kemerdekaan Indonesia. Dia mengeluh matanya kabur, pusing, dan mual. Bocah kelahiran 21 Agustus 2007 itu harus dilarikan ke rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Hasil observasi dan diagnosa dokter, Anisa terserang penyakit Hidrosefalus, dan harus dilakukan operasi.

Tindakan operasi bedah saraf dilakukan, yang dilanjutkan dengan perawatan guna pemulihan kesehatan paska operasi selama kurang lebih tiga bulan. Namun demikian, tetap saja mata Anisa tidak bisa melihat apa pun. Anisa hanya dapat menangkap cahaya, namun sama sekali tidak bisa melihat bentuk. Cahaya siang hari, ditangkap Anisa menjadi warna biru terang. Adapun ketika berada dalam ruangan, Anisa hanya mampu menangkap semua serba hitam. Pada usianya jelang 11 tahun, yang hanya kurang empat hari, Anisa telah kehilangan  penglihatannya. Dia menjadi buta karena penyakit hidrosefalus.

“Sebelumnya dia tidak pernah mengeluhkan sakit apa pun. Hanya saja Anisa punya kebiasaan bermain handphone (HP). Hampir sepenuh hari selain jam sekolah dan belajar, waktunya hanya digunakan untuk bermain HP. Bahkan dibawanya sambil tiduran, dekat dengan mata. Adapun keluhan pusing, mual dan mata kabur tiba-tiba terjadi saat dia mengikuti upacara bendera 17 Agustus, tahun lalu. Hingga akhirnya muntah terus menerus, dan dibawa ke rumah sakit PKU Muhammadiyah. Diagnosa dokter, anak saya terserang penyakit hodrosefalus dan harus dioeprasi,” cerita Surani orang tua Anisa pada Solider, Rabu (19/6/2109).

Labil dan sensitif

Dituturkan Surani bahwa pasca sakit dan operasi, Anisa rentan dengan penyakit fisik lainnya. Sehingga pertumbuhan fisiknya menjadi bermasalah. Dia sering kali sakit-sakitan, tubuhnya kurus. Jika terlalu capai, Anisa merasakan tulangnya seperti beku. Keadaan tersebut membuat Anisa tidak bisa bangun. Tidak hanya itu, kini Anisa kehilangan kepercayaan diri. Dia labil, sensitif, mudah sedih, cengeng, cemas akan masa depannya, juga rendah diri. Dia merasa diabaikan, merasa tidak diperhatikan ketika ibunya beraktivitas atau berkomunikasi dengan yang lain.

Surani mengaku tidak menyerah untuk dapat mengembalikan penglihatan putri kedunya. Namun dia tidak melanjutkan pengobatan ke dokter. Dia memilih melakukan pengobatan alternatif dan pengobatan herbal untuk mendapatkan kesembuhan. “Saya juga akan mengusahakan pengobatan, terapi untuk kesembuhan mata Anisa. Meski pun jauh, saya akan lalui demi kepulihan penglihatan Anisa,” ujarnya pada Solider.

Anisa kini telah lulus SD Wirokerten. Meski harus banyak izin dari sekolah karena kondisi kesehatannya, Anisa tetap dapat melalui seluruh ujian. Dengan perolehan hasil nilai ujian nasional cukup, yaitu rata-rata 6,5. Dan, dia tetap ingin melanjutkan sekolah di SMP Umum. Namun disarankan oleh guru sekolah dasarnya agar melanjutkan SMP di Sekolah Luar Biasa (SLB). Hal tersebut menjadikan kecemasan Anisa.

“Bu, mengapa aku harus sekolah di SLB? Apa aku tidak bisa sekolah di sekolah umum?” Surani menirukan pertanyaan cemas Anisa yang saat itu memilih menunggu di luar ruang.

Awal perjalanan

Menangkap kecemasan sang anak, Surani pun turut cemas. Ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaan si anak, Surani mendatangi Unit Layanan Difabel (ULD) dan Resource Center Kota Yogyakarta yang berada di Komplek SD Pujokusuman Yogyakarta. Diceritakannya kondisi sang putri, dan meminta saran terkait sekolah yang tepat bagi putrinya. Berikut harapan dan kecemasannya.

Aris Widodo, M.Pd., Kepala ULD dan Resoruce Center menyarankan akan lebih baik Anisa melanjutkan di MTs Yaketunis. Dengan harapan Anisa dapat beradaptasi sebelum masuk ke sekolah reguler, mengingat Anisa yang belum lama kehilangan penglihatan. “MTs Yaketunis, untuk sementara dapat menjadi sekolah yang tepat. Di sana akan diajarkan huruf braille, juga program komputer bicara atau Job Access With Speech (JAWS),” sarannya.

Aris juga mengungkapkan bahwa menjadi buta bukan akhir segalanya. Ini awal sebuah perjalanan. Anisa masih bisa besekolah di manapun, bahkan bisa menjadi apa yang diinginkan. Yang paling penting, ujar dia, Anisa tetap harus semangat dan percaya diri. Modalnya itu, pungkas Aris.

Sedang Anisa, tak sepatah katapun yang keluar dari muludnya saat dihampiri Solider, Rabu (12/6). Cemas dan rendah diri nyata terjadi pada diri Anisa. Bersyukur Anisa memiliki ibu yang mensuportnya penuh.  

Apa yang terjadi pada Anisa hanyalah sebuah contoh bahwa difabel dapat terjadi pada siapapun, kapanpun dan dimanapun. Jumlah difabel bisa saja bertambah karena adanya berbagai faktor.  Anisa tentu masih punya harapan untuk dapat berpartisipasi di masyarakat dan dapat bermanfaat bagi orang banyak. Selain peran orang tua yang amat penting untuk memperkuat mental Anisa sebagai difabel baru, peran pemerintah mutlak diperlukan untuk dapat memastikan seluruh anak bangsa tanpa kecuali dapat meraih cita-cita yang mereka harapkan. Usaha untuk mewujudkan kesamaan hak bagi remaja difabel mutlak diperlukan dan membutuhkan keterlibatan orang banyak.

 

Wartawan: harta nining wijaya

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.