Lompat ke isi utama
ilustrasi smart city

Smart City Seiring dengan Prinsip Kota Inklusif

Solider.id, Yogyakarta – Seiring majunya teknologi, peluang untuk menjadikan kota di Indonesia untuk menjadi kota pintar atau smart city menjadi semakin besar. Smart city diartikan sebagai pengintegrasian teknologi informasi dan komunikasi dalam tata kelola kota sehari-hari. Hal ini memertajam efisiensi, memperbaiki pelayanan publik dan meningkatkan kesejahteraan warga. Smart city disokong oleh keberadaan jaringan perangkat elektronik yang saling terhubung dan mampu mengirim data ataupun melakukan tindak lanjut dengan basis internet.

Di Indonesia, beberapa daerah sudah melakukan inisiasi program smart city, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Yogyakarta. Di Jakarta, visi smart city sudah diprogramkan sejak tahun 2014. Sementera Yogyakarta, peta jalan pemograman konsep smart city sudah dimulai dari tahun 2015. Saat itu, kajian awal dan studi teknologi terkait konsep smart city mulai dilakukan. Penyusunan konsep ini bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada. Pada website resmi UGM, Konsep smart city di Yogyakarta dikembangkan dengan memadukan unsur teknologi, masyarakat dan pemerintahan 6 pilar: Smart Environment, Smart Living, Smart People, Smart Economy dan Smart Governance.     

Sebagian besar kota di Indonesia yang mengembangkan konsep smart city memang masih memulai dan berfokus pada konsep smart governance dengan mengedepankan e-governance sehingga pelayanan publik bisa berjalan secara efektif dan efisien. Hal ini  terjadi di kota besar seperti Surabaya.

Penggunaan teknologi informasi yang menjadi tulang punggung konsep smart city di Indonesia lebih berperan sebagai piranti untuk mempermudah dan mempercepat solusi akan masalah yang ada di  daerah tertentu. Sebagai contoh, menggunakan isu difabel dalam proses kehidupan perkotaan, konsep smart city bisa digunakan sebagai piranti untuk mempermudah dan mempercepat solusi akan masalah transportasi di Indonesia.     

Sayangnya, smart transportation ini belum terlalu terlihat di kota-kota di Indonesia yang sudah mengembangkan konsep smart city. Kota yang mengedepankan smart transportation untuk mengakomodasi kebutuhan difabel bisa dilihat pada kota-kota besar di Amerika Serikat, salah satunya adalah New York.

Kota ini merilis sebuah laporan tahunan tentang pelayanan pemerintah kota terhadap difabel yang hidup di New York. Dalam laporan yang berjudul AccessibleNYC ini, pemerintah kota New York berkomitmen penuh untuk membuat New York menjadi smart city. Bagi pemerintah New York, smart city bisa diartikan sebagai kota yang aksesibel untuk difabel termasuk dengan menghadirkan inisiatif berbasis teknologi.

Dalam sektor smart transportation, pemerintah kota New York menerapkan sebuah sistem yang bernama Connected Vehicle (CV) Technology Pilot. Sistem ini akan membuat pengendara bisa berkomunikasi dengan pengendara yang lain, pejalan kaki dan pesepeda melalui gawai mereka dan jaringan Intelligent Transportation Systems (ITS). Aplikasi ini akan diujicobakan kepada 10.000 kendaraan yang ada di New York termasuk aplikasi yang bisa digunakan oleh pejalan kaki untuk memberi peringatan jika ada pengendara yang ugal-ugalan dan mengkomunikasikan  informasi kepada pejalan kaki difabel netra ataupun yang low vision.

Selain CV Technology Pilot, pemerintah kota New York juga mengenalkan taksi kuning dan hijau pada tahun 2014. Taksi ini menyediakan aksesibilitas untuk difabel netra dan Tuli. Akan ada sekitar 19.000 taksi kuning dan hijau yang dilengkapi dengan mode aksesibilitas yang terdapat fitur-fitur seperti informasi perjalanan otomatis, volume yang bisa dinaik turunkan, dan pengatur kecepatan suara rekaman untuk mengakomodasi penumpang taksi yang difabel netra maupun low vision

Apakah kota-kota di Indonesia bisa bertransformasi menjadi kota yang aksesibel melalui konsep smart city? Meski tidak mudah dan tidak akan terealisasi dalam jangka waktu dekat, kemudahan teknologi dalam mengatasi masalah melalui konsep smart city akan semakin mengakomodasi kepentingan difabel sekaligus hambatan mereka yang selama ini tereksklusi dari partisipasi sosial.  

 

Penulis : Yuhda

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.