Lompat ke isi utama

SHG Kabupaten Sukoharjo Masif Bentuk Kelompok Difabel di Tingkat Desa

Solider.id, Sukoharjo - Self Help Group (SHG) kecamatan yang memiliki usaha pemberdayaan ekonomi dengan membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Sebanyak 12 SHG kecamatan. Pada tahun 2014, mereka mendapat hibah bantuan modal sejumlah 20-30 juta dari bupati untuk pemberdayaan ekonomi dan sampai sekarang modal tersebut masih bergulir.

Seperti SHG di Kecamatan Nguter, menurut Suratmin, Kadus Kedungwinong, modal usaha tersebut untuk membangun warung sembako di desanya. Pengelolaan warung tersebut diserahkan pada difabel setempat. Sampai sekarang warung tetap berjalan. Namun ada kendala ketika ada perbaikan jalan lintas provinsi yang melalui desa, tinggi jalan yang tidak akses untuk kursi roda membuat pengelola warung mengalami hambatan. “Desa akan membantu membenahi jalan depan warung biar akses nanti dengan biaya Dana Desa (DD), sedangkan penambahan modal warung melalui Anggaran Dana Desa (ADD),” terang Suratmin.

Suratmin menambahkan bahwa pengembangan warung nanti akan berbentuk sentra jajanan, atau foodcourt desa yang akan dianggarkan di tahun 2019 dan 2020. Sedangkan di Desa Kedungwinong sendiri terlah terebntuk SHG desa dari tahun 2018 yang sudah diberi anggaran Dana Desa sejumlah 5 juta dan tahun 2019 ini mendapat anggaran 10 juta. SHG Desa Kedungwinong sudah pula melakukan advokasi untuk aksesibilitas balai desa dan masjid di lingkungan desa. Untuk saat ini yang aksesibel adalah masjid, karena SHG menyurati kantor Pembinaan dan Pelayanan Agama (P2A) setempat.

Listri, dari SHG Kecamatan Polokarto mengatakan bahwa saat ini SHG kecamatannya telah masif membentuk SHG desa, termasuk di desanya, Jatisobo. Keberpihakan desa atas SHG dibuktikan dengan penganggaran yang berpihak kepada kelompoknya. Tahun ini SHG Desa Jatisobo mendapat  seekor sapi untuk pemberdayaan ekonomi difabel. Selain itu desa menganggarkan setiap bulan uang 300 ribu untuk biaya pertemuan rutin SHG.

Tidak berbeda cerita dari Winarto, yang membentuk SHG Desa Tempel Kecamatan Gatak. Meski tergolong lahir belum lama, namun SHG desanya telah memiliki inisiatif-inisiatif dan kemandirian. Sejak dibentuk. SHG yang belum memiliki anggaran dari desa tersebut anggotanya telah berkomitmen bahwa pertemuan rutin tetap dilaksanakan dengan pembiayaan mandiri masing-masing anggota. Soal konsumsi dan lain sebagainya akan ditanggung kelompok. Winarno menekankan pentingnya pertemuan rutin SHG agar terjadi transfer pengetahuan dan mengikuti perkembangan zaman. Saat ini SHG telah dianggarkan oleh desa pada tahun anggaran 2019 sebesar 11 juta.

Sehati Fasilitasi SHG Desa untuk Kemandirian

Sejak awal pembentukan SHG Kecamatan di tahun 2014, Sehati turut mendampingi  difabel desa dalam pembentukan SHG. Dan lebih dari dua tahun ini pendampingan didukung oleh program dari Disability Right Advocacy Fund (DRAF). Selain Sehati, juga ada Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) yang terdiri dari berbagai unsur yakni camat dan ketua PKK. Namun, di tingkat desa, yakni RBM desa, pemahaman tentang difabilitas masih sangat kurang, terbukti di beberapa desa masih dibutuhkan advokasi yang lebih gencar. Misalnya di Desa Dalangan Tawangsari dan Desa Baki Kecamatan Grogol, masih ditemui aparat desa yang belum memahami pentingnya organisasi difabel berdiri di desa. Seperti yang dituturkan oleh Warsini dan Sunarti. “Bahkan puskesmas di desa kami belum paham, bahwa isu difabel, advokasi kesehatan, puskesmas juga harus menyentuh aksesibilitas dan keberpihakan kepada difabel,” tutur Warsini.

Sehati dalam hal ini telah memberi arahan bahwa ke depan, difabel desa berkolaborasi dengan pendamping desa dari kementerian desa (dinas permades) sehingga hambatan-hambatan di lapangan bisa teratasi. Selain itu, Sehati berharap dinas sosial, juga turut berperan serta. Salah satu yang bisa dilakukan oleh dinsos yakni dengan melakukan sosialisasi perda difabel. “Karena jangan hanya Sehati saja yang melakukan tetapi dinas sosial sebagai leading sector harus melakukan sosialisasi sampai ke desa-desa. Cara tersebut dilakukan untuk memberi pamahaman kepada pihak desa dalam pengarusutamaan difabel,” pungkas Edy Supriyanto.

Untuk saat sekarang yang dilakukan oleh Sehati adalah memfasilitasi forum SHG Kecamatan dalam diskusi-diskusi terfokus dan membuat kelompok group di media sosial sehingga saling terjalin komunikasi. Menurut catatan, saat ini sebagian besar, lebih dari 70% balai desa-balai desa di Kabupaten Sukoharjo telah aksesibel. Dan lebih dari 40 SHG difabel terbentuk secara masif.

 

Wartawan: Puji Astuti

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.