Lompat ke isi utama
alat bantu dengar bagi Tuli

Inovasi Alat Bantu Dengar Berdasarkan Kemampuan Otak

Solider.id, Yogyakarta - Alat bantu dengar bagi Tuli yang dikontrol oleh pikiran telah berhasil diciptakan oleh para peneliti. Alat ini  membantu pemakainya untuk bisa fokus pada suara-suara tertentu yang diklaim bisa mempengaruhi kemampuan pendengaran Tuli saat berada di lingkungan yang bising. 

Alat ini meniru kemampuan alami otak dalam memisahkan dan memperkuat satu suara dengan latar belakang suara yang banyak. Sampai sekarang, alat bantu dengar yang paling canggih sekalipun masih mengonversi suara menjadi satu jenis suara yang dirasakan oleh pemakainya sebagai bunyi hiruk pikuk yang memekakkan telinga.

“Area otak yang memproses suara itu sangat sensitif dan kuat. Area ini bisa meningkatkan satu suara di atas suara yang lain. Sementara alat bantu sekarang belum bisa sampai pada level itu,” ujar Nima Mesgarani, peneliti yang memimpin proyek ini pada Columbia University, seperti dikutip dari Guardian.

Sistem alat bantu sekarang ini menghindarkan pemakainya untuk bisa masuk ke dalam obrolan orang-orang sehingga membuat interaksi sosial semakin terhalang.

Para peneliti telah bekerja bertahun-tahun untuk menyelesaikan masalah ini. Alat bantu dengar yang dikontrol oleh otak dianggap bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan mengguanakan kombinasi kecerdasan artifisial dan sensor yang didesain untuk melakukan monitor pada aktifitas otak pendengarnya.

Pertama-tama, alat bantu akan menggunakan algoritma untuk memisahkan suara ke dalam beberapa pembicara dengan otomatis. Lalu, alat ini akan membandingkan suara-suara yang sudah dipecahkan dengan aktifitas otak dari pendengarnya. Percobaan terakhir dari Mesgarani menemukan bahwa melakukan identifikasi atas orang mana yang sedang memperhatikan bisa dilakukan dengan alat ini.

Alat ini juga membandingkan suara dari masing-masing orang yang berbicara dengan gelombang otak dari Tuli yang menggunakan alat bantu dengar. Suara dengan pola yang paling sama dengan gelonbang otak Tuli pengguna alat ini akan dikuatkan dibandingkan dengan suara-suara yang lain. Hal ini akan membuat Tuli bisa fokus mendengarkan suara orang tersebut.

Para peneliti sudah mengembangkan sistem versi awalnya pada tahun 2017 meski pada saat itu masih terbatasi oleh beberapa hal sehingga harus dilakukan percobaan untuk mengenali suara dari orang yang berbicara. Untuk mengetes alat bantu ini, laboratorium yang membuatnya orang dengan epilepsy yang sudah ditanamkan elektroda pada otaknya untuk memonitor aktifitas otaknya.

Pasien tersebut diperdengarkan beberapa suara dari orang-orang yang berbeda secara bersama-sama sementara otak mereka dimonitor melalui elektroda yang sudah ditanamkan dalam otak mereka.

Algoritma melakukan tracking pada perhatian pasien ketika mereka sedang mendengarkan suara-suara yang berbeda yang belum pernah mereka dengarkan sebelumnya. Ketika pasien ini fokus pada satu suara, dengan otomatis sistem akan menguatkan suara tersebut dengan jeda hanya beberapa detik. Jika perhatian pasien tersebut bergeser pada suara yang lainnya, level volume suara juga akan berganti menyesuaikan dengan perubahan tersebut.

Versi alat bantu ini memang masih belum terlalu pas dengan manusia saat ini karena membutuhkan penanaman implan pada otak. Namun, tim pembuatnya percaya bahwa mereka bisa membuat versi dengan penyempurnaan pada tahun-tahun selanjutnya, dengan menggunakan elektroda yang tidak perlu ditanamkan pada otak, namun berada di dalam telinga atau di bawah kulit kepala.

Langkah selanjutnya adalah mencoba teknologi ini kepada Tuli. Satu pertanyaan yang muncul adalah apakah mudah bisa nyaman aktifitas otak dari Tuli dengan gelombang yang berasal dari suara. Menurut Jesal Vishnuram, manajer teknologi dari Hearing Loss, salah satu alasan mengapa orang merasa bahwa alat bantu dengar yang ada saat ini kadang membuat mereka tidak nyaman karena otak mereka tidak menyaring suara yang masuk.   

 

Penulis: Yuhda

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.