Lompat ke isi utama
seni difabel

Isu Difabel Dilirik di Indutri Seni, Kreatifitas Seniman Difabel Belum Terakomodasi

Solider.id, Bandung – Seni dan budaya merupakan milik setiap individu yang ada di dalamnya. Aktivitas yang tanpa batasan usia, serta menyatukan unsur keberagaman karakteristik, identitas, juga jati diri ini menjadikan bidang profesi yang akan terus ada, bahkan mungkin tidak akan pernah mati. Regenerasi dalam bidang seni banyak ditemui, umumnya mereka memiliki bakat secara alamiah yang bisa untuk terus digali dan dikembangkan, selain dapat dipelajari dan ditumbuhkan. Termasuk pada setiap individu difabel, dengan ragam kedifabelan yang dimilikinya.

Seperti yang kita ketahui bersama, lebelisasi yang sudah melekat terhadap para difabel Netra dengan kemerduan vokalnya. Potensi mereka untuk bidang tarik suara, penyanyi, vokalis sangat besar. Namun, sudah seberapa banyak peluang mereka untuk terjun ke ranah industri rekaman dan menjadi penyanyi atau vokalis secara profesional?

Pun demikian dengan para difabel lainnya yang menekuni seni peran dan memiliki potensi handal untuk masuk dunia akting sebagai akrtis atau aktor professional. Kesempatan mereka baru sebatas memainkan peran dalam  teater, panggung, atau konser pertenjukan seni peran tertentu. Nama dan potensi mereka belum mampu diakui sebagai seninam seni peran profesional layaknya seorang akrtis atau aktor dalam film, sinetron maupun layar lebar.

Padahal, dari sisi cerita skenario perfilman, sinetron maupun layar lebar, alur yang menceritakan sebagai tokoh-tokoh difabel sudah mulai dimunculkan. Misal saja, tokoh sebagai Netra, sebagai pengguna kursi roda, kruk, bahkan peran sebagai tokoh Tuli serta difabel Mental pun kerap diangkat sebagai topik atau tokoh utama. Melalui kehadiran tokoh difabel tersebut, sebuah tayangan film yang dibuat dapat menarik perhatian dari penonton.

Hal yang masih disayangkan adalah tokoh difabel tersebut masih fiktif, dan masih diperankan oleh akrtis dan aktor nondifabel. Tak jarang untuk dapat mendalami dan menghayati perannya sang artis maupun aktor tersebut melihat keseharian atau belajar langsung dari sosok difabel yang akan diperankannya. Dengan susah payah mereka menduplikatkan diri sebagai individu difabel demi kesuksesan sebuah peran yang hendak dilakoninya.

Beberapa film produksi dalam negeri yang mengangkat penokohan difabel antara lain, ‘Ayah, Mengapa Aku Berbeda (2011),’ yang diperankan oleh Dinda Hauw sebagai Angel yang berperan menjadi difabel Tuli. ‘Jingga (2016)’ yang diperankan oleh Hifzane Bob sebagai Jingga yang berperan menjadi difabel Netra. ‘The Gift (2018), yang diperankan oleh Reza Rahadian sebagai Harun yang berperan menjadi difabel Netra.

Dengan memunculkan skenario tokoh difabel dalam pembuatan sebuah seni peran baik film, sinetron maupun layar lebar, itu artinya telah mengangkat sisi lain tentang difabel sesuai alur pencitraan yang dibuat. Atau biasa disebut sebagai karakter tokoh yang diperankan dalam alur tersebut. Selain mengangkat penokohan sosok difabel, alangkah bijaknya untuk melibatkan difabel yang sesungguhnya dalam karya yang dibuat.

Lalu, mengapa para filmmeker atau kreator seni belum membuka kesempatan luas untuk melibatkan difabel secara langsung sebagai artis dan aktor di dalamnya?

Memberikan peluang kepada masyarakat difabel atau melibatkan mereka untuk dapat berperan aktif dalam pembuatan film atau karya seni tersebut, dapat memberi pengaruh besar terhadap pengembangan potensi seni difabel di Indonesia. Dengan demikian, mereka para seniman difabel akan mendapatkan kesempatan untuk eksis dalam bidang seni.

Merujuk pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Disabilitas, bagian kedua belas Hak kebudayaan dan Pariwisata. Pasal 16 menyatakan, ‘Hak kebudayaan dan Pariwisata untuk Penyandan Disabilitas meliputi hak: (a) Memperoleh kesamaan dan kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan seni dan budaya.’

Lebih dipertegas lagi dalam Pasal 87, ‘(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mengembangkan potensi dan kemampuan seni budaya Penyandang Disabilitas. (2) Pengembangan potensi dan kemampuan seni budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: (a) Memfasilitasi dan menyertakan Penyandang Disabilitas dalam kegiatan seni budaya. (b) Mengembangkan kegiatan seni budaya khusus Penyandang Disabilitas. (c) Memberikan penghargaan kepada seniman Penyandang Disabilitas atas karya seni terbaik.’

Bila melihat pada perundangan yang telah dibuat, seniman difabel bukan sebatas diberikan kesempatan untuk ikut aktif dalam bidang seni. Mereka juga berhak mendapatkan penghargaan atas karya terbaiknya. Ajang pemberian Awards atau pemberian penghargaan pun menjadi hak yang layak didapatkan oleh seniman difabel.

Namun, diakui pelaku seni difabel dalam negeri, seperti penuturan Ogest Yogaswara untuk seni budaya di Indonesia masih sangat kurang apresiasinya, dikarenakan belum mendapatkan kesamaan kesempatan dari perintah dan pihak penyelenggara seperti Event Organizer (EO), serta belum adanya sanggar seni budaya di bawah pemerintah daerah maupun pusat yang mengembangkan potensi seni difabel.

Yana Roesli, pemilik sanggar dan pengembang bakat seni difabel, menambahkan, di Indonesia memang apresiasi dan kesempatan untuk masyarakat difabel bekerja atau berkreasi di bidang seni masih kurang mendapatkan perhatian. Berbeda sekali dengan yang terjadi di dunia industri hiburan luar negeri seperti Amerika. Dalam lima tahun terakhir Amerika sudah membuka kesempatan lebar untuk masyarakat difabel terlibat dalam industri hiburan.

Pengakuan musisi dalam negeri terkait peluang dan kesempatan serta apresiasi seniman difabel tanah air yang masih sangat minim tersebut mungkin sulit untuk dipungkiri. Ini dapat menjadi catatan khusus semua pihak yang berkecimpung di ranah industri hiburan juga pihak pemerintahan agar kemampuan seni yang dimiliki masyarakat difabel dapat terus hidup dan berkembang.

Seperti belum lama ini, ramai pemberitaan dari Amerika Serikat dalam penganugerahan Tony Award ke-73, aktris Ali Stroker (31) difabel pengguna kursi roda mencatat sejarah baru dalam seni peran merupakan difabel pertama yang dinominasikan sekaligus memenangi penghargaan kategori ‘Best Performance by an Actress in a Featured Role in a Musical’ untuk perannya sebagao Ado Annie dalam ‘Rodgers & Hammerstein’s Oklahoma.’ (Dilansir dari H.U Pikiran Rakyat 14 Juni 2019)

Melalui keberhasilan Ali Stroker, difabel pengguna kursi roda ini telah mampu menunjukan kepada masyarakat dunia ternyata seni peran dapat dijalaninya tanpa merasakan hambatan sedikit pun. Ia mampu bersaing dan menyandingkan diri bersama aktris dan aktor lainnya yang nondifabel. Bahkan sukses dan layak untuk menerima penghargaan dari karyanya.

Kepercayaan memainkan sebuah peran, dukungan semua pihak untuk terus memajukan potensi seniman difabel, serta banyaknya kesempatan yang diberikan, telah membuktikan sebagai individu difabel pengguna kursi roda pun mampu meraih prestasi luar biasa dalam karya seni.  

Kelebihan lain yang telah dimiliki industri film tanah air adalah dengan semakin banyaknya cerita skenario yang mengangkat tokoh difabel di dalamnya. Tentu sangatlah mudah jika kemudian memberikan peluang dan kesempatan kepada difabel itu sendiri untuk turut serta menjadi bagian penting dalam karya tersebut, baik di atas layar sebagai akrtis dan aktornya maupun dibalik layar sebagai pihak yang dilibatkan dalam produksi karya tersebut.

Semoga melalui keberhasilan Ali Stroker mampu menumbuhkan kepercayaan, kesadaran serta membuka peluang untuk mewujudkan inklusifitas dalam ranah industri pelaku seni bagi masyarakat difabel di Indonesia. Membuka keberanian para produsen filmmeker untuk melibatkan langsung sosok difabel dalam penokohannya secara natural sebagai aktris dan aktor, khususnya yang berperan sebagai tokoh difabel. Hidupkan potensi seni difabel dengan perluas kesempatan mereka untuk ikut berperan aktif dalam setiap karya.  

 

Wartawan: Srikandi Syamsi

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.