Lompat ke isi utama
pertemuan dengan kaprodi S2 UNY

Jalan Panjang Universitas Negeri Yogyakarta jadi Kampus Inklusi

Solider.id, Yogyakarta - Sebagai  salah satu perguruan tinggi milik pemerintah, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), terus mengembangkan diri demi pemenuhan kebutuhan beragam bagi mahasiswa difabel. Saat ini terdapat 13 mahasiswa difabel yang tersebar di berbagai fakultas.

Para mahasiswa tersebut antara lain difabel intelektual (slow learner) di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK).  Kemudian mahasiswa tuli di Fakultas Teknis Tata Rias, ada pula di jurusan akuntansi. Difabel netra pada jurusan pendidikan luar biasa (PLB),  seni musik, seni rupa, kriya, dan sejumlah mahasiswa dengan kursi roda pada beberapa jurusan. Ada pula mahasiswa gifted S1 Prodi Pendidikan Bahasa Jerman yang segera lulus.

Bagaimana mahasiswa blind total  membaca partitur? Bagaimana proses inklusivitas dibangun? Bagaimana pula kesempatan yang terbuka bagi mahasiswa dengan beragam difabilitas di UNY? Tentu saja proses inklusivitas membutuhkan beragam penanganan, sesuai kebutuhan. Solider diberi kesempatan Profesor Doktor Marsigit, MA, Direktur Pasca Sarjana (PSs) UNY, untuk menggali lebih dalam ihwal inklusivitas di sana, dalam sebuah perbincangan.

Bertempat di Ruang Sidang Pimpinan Gedung Program Pasca Sarjana UNY, Kamis (13/6/2019) Profesor Marsigit mengajak serta Ketua Prodi S-3 Pendidikan Dasar PPs, Ketua Prodi S-2 Pendidikan Luar Biasa (PLB) PPs, Ketua Jurusan S-1 PLB, Kepala Pusat Studi Layanan Disabilitas LPPM, mahasiswa S2 dan S1 UNY.

Menurut Profesor Marsigit pendekatan yang digunakan ialah pendekatan formal dan substansial. “Mungkin kalau dapat saya sampaikan pendekatannya antara pendekatan substansi dan formal. Untuk formal ada pendidikan jenjang S1, S2, PSLD dan, S3. Adapun secara substansi, wujud atmosfir kepedulian, pemberian fasilitas langsung maupun tidak langsung dilakukan UNY. Misalnya, bagaimana membuat tempat parkir yang memang mengakomodasi teman-teman di pendidikan inklusi, trotoar dengan guiding block,  tempat belajar, itu atmosfir inklusif yang dibangun,” jelasnya.

Sejak 1964

Kampus UNY, yang sebelum 1999  bernama Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri itu, sejak 1964, sedari awal sudah menerima mahasiswa berkebutuhan khusus atau difabel. Dengan berbagai kemampuan yang dimiliki, lembaga pendidikan itu sudah mengupayakan inklusivitas dalam proses studi.

Bahkan menurut Kepala Program Studi (Kaprodi) S2 PLB, Dr. Ishartiwi, pernah dulu setiap ruang di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dipasangi huruf braille penunjuk ruang. Hal itu untuk menggerakkan bahwa ada difabel, ada proses inklusivitas yang berlangsung di sana.  “Sejak berdirinya, IKIP Negeri Yogyakarta pertama kali 1964, kita sudah menerima calon mahasiswa berkebutuhan khusus. Pada saat seleksi penerimaan mahasiswa baru kala itu, sudah ada layanan khusus bagi calon mahasiswa berkebutuhan khusus,” jelas Ishartiwi. Kala mahasiswa baru saat itu mendaftar harus antri, IKIP Yogyakarta sudah punya panitia khusus untuk layanan calon mahasiswa difabel netra. Saat tes bagi difabel netra didampingi, dibacakan, dan dibantu menjawab di kertas jawab. “Kami seperti disumpah bahwa tidak boleh macam-macam. Bahkan untuk mahasiswa yang low vision mejanya harus dikeluarkan di tengah lapangan. Agar terang dan dengan pendampingan secara khusus, mereka mengerjakan soal.  Itu proses penerimaan mahasiswa dengan model soal lama,” tutur Ishartiwi.

Berbasis komputer

Mulai 2017 UNY sudah meluncurkan sistem perkuliahan dan ujian berbasis komputer bagi mahasiswa difabel netra. Pendampingan tetap dilakukan mengingat para mahasiswa sejak di SMA inklusif belum dikenalkan pada program komputer bicara (program JAWS).  

Diakui bahwa inklusivitas terus dalam proses perbaikan dan penyesuaian dengan kebutuhan mahasiswa. Penerimaan mahasiswa difabel masih terbatas pada prodi tertentu, mengingat adanya persyaratan khusus pada beberapa bidang keilmuan. Beberapa prodi memang tidak memungkinkan ditempuh oleh mahasiswa difabel. Misalnya, difabel netra tidak bisa mengambil jurusan teknik, elektro, fisika. Demikian pula siapa pun yang buta warna tidak bisa menempuh prodi psikologi .

Di bagian lain, menurut Kaprodi S-1, Dr. Mumpuniarti, semua lulusan S-1 PLB UNY dapat mengakomodasi pembelajaran anak berkebutuhan khusus jenis apapun. Tidak ada spesifikasi. Mengingat kebutuhan dan penugasan di lapangan yang tidak bisa diprediksi, maka setiap mahasiswa harus siap semua jenis program berkebutuhan khusus.

Lebih lanjut diungkapkan, guna memenuhi kebutuhan di lapangan kurikulum berubah, dari kurikulum 2014 menjadi kurikulum 2019. “Di lapangan kebutuhannya begitu. Apalagi jika sebagai Guru Pendamping Khusus (GPK) di sekolah inklusi. Murid beragam (netra, tuli, autis, ADHD), GPK tidak bisa memilih apalagi menolak. Artinya mahasiswa S-1 PLB harus menguasai kebutuhan dasar minimal pendidikan luar biasa,” jelasnya.

Lahir PSLD

Sedangkan menurut Nur Azizah PhD, selaku Kepala Pusat Studi Layanan Difabel (PSLD) LPPM UNY, proses inklusivitas terus dilakukan. Dengan adanya UU No.8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, maka tiap-tiap organisasi harus memiliki Unit Layanan Difabel (ULD). Sehingga dibentuk PSLD LPPM UNY, yang berbeda dengan yang lain. PSLD ini selain menjalankan fungsi penelitian dan pengabdian masyarakat, juga memberikan pelayananan terhadap mahasiswa difabel.

Salah satu skema kerja PSLD, kata Nur Azizah adalah dengan  membentuk grup Whats App sebagai upaya mengumpulkan sekaligus berbagi informasi kepada dan dari mahasiswa difabel. Selanjutnya, pertemuan secara off line (jumpa darat) dilakukan tiga bulan sekali. Pendekatan dari hati dilakukan. Keluhan mahasiswa, curhat, pun ditanggapi. Kemudian disampaikan ke direktur untuk ditindak-lanjuti. Sementara pendekatan dari pribadi ke pribadi, baik mahasiswa maupun dosen pun menjadi konsentrasi PSLD.

Namun tidak semua skema atau cara itu bisa berjalan sebagaimana harapan. Tidak semua dosen paham bagaimana memberikan layanan terhadap mahasiswa difabel. Dengan istilah lain, membangun kepedulian (awareness) dan budaya (culture) inklusif, diakuinya tidak mudah.

Seiring dengan waktu, mahasiswa difabel tidak hanya di jenjang strata satu (S-1), melainkan juga pada jenjang S-2 yang mulai dibuka pada 2014. Bahkan salah seorang lulusan S-2 pertama pada 2016 ialah mahasiswa difabel netra dari Prodi PLB, kini sudah bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

Adapun pada jenjang S3, menurut penjelasan DR. Muhammad Nur Wahid, Kaprodi S3 pendidikan dasar (Diksas),  belum ada mahasiswa difabel yang menempuh studi di sana.  Namun demikian ada mata kuliah Student Diversity. Meski tidak secara khusus karena muatannya banyak sekali, salah satunya membahas tentang ABK. Dari beberapa mahasiswa S3, salah seorang di antaranya  akan segera melaksanakan ujian disertasi tertutup.

Aksesibilitas Gifted

Sejauh ini, terdapat catatatan bahwa mahasiswa gifted belum mendapatkan aksesibilitas sebagaimana kebutuhan. Gifted dengan cara belajar yang lebih cepat dibanding dengan mahasiswa lain, belum terakomodir kebutuhannya. Sehingga mahasiswa gifted tetap harus menempuh mata kuliah secara berjenjang. Belum ada sistem percepatan atau akselerasi bagi mahasiswa dengan kecerdasan dan kemampuan di atas rata-rata.

Adapun pendampingan terhadap mahasiswa tuli masih dilakukan dengan cara konvensional. Yakni dengan menulis, bukan dengan menggunakan bahasa isyarat. Berbagai progres perkembangan tentu saja harus dipertahankan atau ditingkatkan. Yang belum terfasilitasi akan menjadi perhatian pada masa yang akan datang. Dengan demikian inkluisvitas benar berjalan. Bukan sekadar karena ada mahasiswa tuli, melainkan pada tumbuhnya kepedulian semua pihak, dan terbukanya berbagai kesempatan.

Seoang alumni S2 PLB, Fendi Dwi, yang akan diwisuda Juni 2019 ini, menambahkan, perkuliahan dilaluinya sesuai proses pada umumnya. Dia katakan, pihaknya memahami inklusi sendiri, bukan karena fasilitas yang diberikan. “Bukan fasilitas yang pada akhirnya memanjakan. Sebab jika hanya menunggu diberi fasilitas, difabel tidak dapat terjun di masyarakat. Bukan lingkungan yang menyesuaikan saya, tapi saya yang harus beradaptasi dengan lingkungan,” ujarnya.

Fendi Dwi sepakat, bahwa UNY yang tidak melabelkan diri sebagai kampus inklusi, melainkan terbentuk secara kultur.

 

Wartawan: harta nining wijaya

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.