Lompat ke isi utama
Asna sedang berpose

Asna Hatima Hetty dan Mimpi untuk Teman Tuli

Solider.id, Semarang- Ia adalah sosok perempuan yang memiliki kemampuan mengubah barang bekas menjadi sesuatu yag memiliki nilai berkelas. Ia merupakan seorang guru yang mengajar bidang ketrampilan dan staff  tata usaha SLB B Swadaya, Semarang.

Ibu dua putra ini mendapat kemampuannya selepas menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB) pada 1981. Ia bernama Asna Hatima Hetty yang kini dipercaya Yayasan Swadaya untuk menjadi salah satu tenaga pengajarnya.

Ia menerima kehadiran Solider dan tak sungkan berbagi cerita. Ia merupakan Tuli sejak lahir. “Dulu waktu Ibu saya hamil saya, orangtua bilang ibu titik-titik kena campak. Ibu harus suntik 60 kali. Baru 40 kali suntik Ibu tidak kuat, Ibu Tuli, dan lalu lahir saya. Kata kakak, salahmu lahir waktu Ibu Tuli,” kisahnya tanpa kesulitan (13/4).

“Waktu kecil saya pernah tanya kenapa Tuli. Kata orangtua mereka tidak tahu karena itu Allah yang beri. Orangtua merasa itu seperti keturunan. Karena saudara juga disuntik, lalu Tuli,” lanjut Hetty. Sebentar, Hetty juga bercerita tentang dua adiknya yang juga Tuli.

Hetty tak pernah merasa jadi korban buli, ia merasa semua teman masa kecilnya bersikap baik terhadapnya. Jika ada yang membulinya ia tak segan untuk menghadapinya. Tapi setelah orangtua berusaha membawanya berobat kemana-mana, sampai dengan usaha ikut terapi tusuk jarum saya malah pingsan, akhirnya ia bisa menerima kondisinya.

Hetty lahir di Semarang, 2 Februari 1962. Ia adalah anak keenam dari sembilan bersaudara pasangan Sofia dan H. Risyad Mukhson. Di dalam keseharian, ia tinggal di jalan Kebon Agung Utara VII/ 6 Batursari, Pucanggading, Mranggen. Ia menikah dengan Agus Susanto (58) sesama Tuli yang juga mengajar di SLB B Swadaya. Ia pernah menjadi atlit kebangaan Gerkatin Kota Semarang.

Hetty juga mengisahkan masa-masa kejayaannya waktu menjadi atlet pada 1982, ketika awal mula bergabung di Gerkatin Semarang. Mulanya ia tidak ingin bergabung karena ia merasa normal atau awas. “Kalau harus gabung dengan orang Tuli saya takut pasangan saya nanti juga orang Tuli,” tuturnya, tertawa mengenang perjalanan hidupnya.

Ia ditunjuk oleh gurunya untuk mewakili Gerkatin mengikuti lomba di Pekan Olahraga Tuna Rungu Seluruh Indonesia (Portrin) untuk pertama kalinya. Ia mengabarkan hal tersebut kepada kedua orangtuanya yang juga mendukung penuh dirinya.

“Diantar dan ditemani Papi, Papi lari 10 kali saya lari 20 kali. Sejak itu kami mendapat pelatih dan rutin latihan,” kisah Hetty. Laga pertamanya di Portrin ke I, ia berhasil membawa nama Gerkatin kota Semarang melalui lomba lari 200 meter dengan perolehan medali emas.

Pada Portrin ke II di Surabaya, Hetty juga turut berpartisipasi kembali. Dari yang seharusnya bisa mendapat empat medali, ia hanya bisa membawa tiga medali di lompat tinggi, lari 400 meter dan lempar lembing. Pada lari 200 Meter ia sempat kalah gara-gara nabrak kaki orang. Sedang, di Portrin III di Bandung ia kembali membawa tiga medali emas.

Hetty berkata itu semua berkat jasa para guru yang selalu sabar membimbingnya. Waktu sekolah di SLB, gurunya di SD Pindrikan tetap mengajarnya di rumah. Dari gurunya, ia suka sekali dengan belajar untuk mendikte. Dari belajar dikte ia mengaku suka membaca dalam hati karena tidak enak membaca dengan suara keras. “Orang Tuli kalau membaca kan tidak ada suara,” imbuhnya.

Hetty mengalami dua kali tinggal kelas di SD Pindrikan sebelum akhirnya membuatnya dipindahkan dari sekolah umum ke SLB.

“Dari kelas dua, di SLB saya malah turun kelas jadi kelas satu. Kata guru saya tidak bisa mengikuti pelajaran, padahal waktu itu saya hanya paham bahasa Jawa dan tidak tahu bahasa Indonesia. Akhirnya karena tidak suka dipindah, saat dites dan ditanya saya diam saja tidak menjawab,” tutur Hetty menumpahkan kekesalannya waktu itu.

Selain di Persatuan Penyandang Difabel Indonesia kota Semarang, Hetty tercatat sebagai bendahara di Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia. Ia juga pernah menjadi ketua di Katun Ungu, wadah pembatik bagi difabel Tuli Semarang. Mengelola usaha simpan pinjam bagi anggota, ia juga bergiat di ALDA, ikatan alumni Swadaya, menggerakkan rekan-rekannya menjalankan satu bidang usaha melalui modal awal dari ALDA.

Menguasai beragam jenis ketrampilan, dari kristik, sulam, atau merangkai manik-manik, tak membuat Hetty sombong dalam pergaulan. Hetty tetap dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan menyenangkan. Ia merangkul semua teman dan selalu suka berkenalan dengan orang-orang baru. Dengan hobinya yang menekuni dunia olahraga, di masa muda ternyata pejudo yang juga suka mendaki gunung bersama teman-teman di Sekolah Teknik Menengah (STM). “Bergabung di klub mendaki gunung Rawa Rontek, teman-teman “normal” maklum dan tidak masalah saya Tuli karena saya suka punya banyak teman.”

“Anak-anak lebih manut sama bu Hetty. Bisa jadi karena mereka merasa memiliki kondisi yang sama membuat mereka lebih dekat dan saling percaya.” Etty Sumiyanah, Kepala Sekolah turut memberi penjelasan.

Menurut Etty, selain pinter, Hetty juga kreatif. Semangat dan rasa ingin tahunya sangat tinggi yang membuat Hetty selalu ingin belajar membuat bermacam jenis ketrampilan. Etty kembali menambahkan, sambil memperlihatkan beberapa hasil ketrampilan yang pernah Hetty ajarkan. Tempat air minum kemasan yang berbungkus manik-manik disodorkan. Di meja kantor, aneka hasil ketrampilan buatan Hetty masih dihamparkan berupa contoh aneka hantaran.

Belajar ketrampilan secara otodidak, Hetty mengaku banyak belajar dari figur guru yang ia jadikan panutan. Seorang guru Tuli yang pernah mengajarnya menekuni bidang ketrampilan. Dari menjahit hingga membuat pola.

Kini sebagai usaha sampingan Hetty masih menerima jasa jahit di rumah bersama Suami. Melayani pembuatan gaun-gaun pengantin dengan hiasan payet juga masih dilakukannya.

Hetty mengatakan, tinggal satu cita-cita yang belum dan masih ingin dia wujudkan. Ia ingin hasil karya batiknya jadi lebih maju dengan toko yang menjadi wadah untuk memasarkan batiknya, Katun Ungu. Dari sana, ia ingin mengajak teman-teman Tuli agar bisa bekerja dan mempunyai penghasilan. Karena selama ini, menurutnya, setiap kali bertemu dengan teman Tuli banyak dari mereka belum mempunyai pekerjaan.

“Itu yang menjadi alasan saya ingin mempunyai toko dan menampung karya teman-teman,” tambah Hetty.

Dalam dua hari Hetty bisa menghasilkan satu lembar kain batik tulis halus bila tak ada kerja sampingan. Dengan 75 ribu rupiah ia bisa dapat perlengkapan dan alat batik. Tinggal beli kain untuk disiapkan motif maka selembar batik siap dipasarkan. Harga selembar batik karya Katun Ungu berkisar antara 350 ribu rupiah ke atas.

Hetty sangat optimis menatap masa depan, lewat Katun Ungu, ia yakin bisa membantu teman-teman Tuli yang sampai saat ini masih belum bisa mendapat peluang pekerjaan.[]

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.