Lompat ke isi utama
Difabel sedang berbagi takjil puasa kepada masyarakat

Menikmati Difabilitas Sebagai Kesyukuran

Solider.id, Semarang- Pertengahan Ramadan menggugah semangat anggota keluarga besar Komunitas Sahabat Difabel (KSD) untuk berbagi kebahagiaan. Mereka menggelar acara buka bersama, bersama masyarakat sekitar dan organisasi difabel lain yang ada di Semarang.

Kegiatan di adakan di halaman Roemah Difabel (RD) di jalan MT. Haryono 266 Semarang, yang dalam keseharian menjadi sekertariat anggota Komunitas. Mengangkat tema Ramadan Tingkatkan  Momen Silaturahmi nan berbagi ini, dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah serta staf jajaran, beberapa perwakilan dinas seperti Dinas Pekerjaan Umum kota Semarang dan jajaran lainnya.

Di acara tersebut hadir pula beberapa perwakilan organisasi kemasyarakatan dan organisasi difabel lain, di antaranya KNPI Peduli, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Semarang, Media Informasi Kota Semarang (MIK-Semar), Gerkatin, Efata- Rumah Pintar Anak Gangguan Pendengaran, Pertuni, Gerkatin, HWDI, Forum Komunikasi Keluarga Anak Dengan Kebutuhan khusus, Himpunan Masyarakat Pijat kota semarang, PPDI kota Semarang, Kelompok Difabel Karunia Illahi, kelompok Difabel Ar-Ridho serta Kelompok Difabel kuncup Mekar.

Mengawali buka bersama pukul dua siang, Djoko Susilo, kartunis Suara Merdeka, mengisi dengan Ngartun Burit bagi peserta buka bersama untuk belajar tehnik menggambar karikatur. Beberapa anggota dijadikan subjek oleh para peserta yang sudah belajar teknik gambar bersama.

Setelah dua jam Ngartun Burit, Komunitas Sahabat Difabel melanjutkan kegiatan dengan berbagi alat bantu difabilitas bagi warga yang membutuhkan. Alat bantu yang diserahkan berupa sebuah walker, tiga buah kursi roda standart, lima buah tongkat putih, dan empat buah kruk dewasa.

Tak berhenti di pembagian alat bantu, sahabat difabel juga berbagi takjil untuk para pengendara motor/mobil sepanjang jalan Mt. Haryono.

Selain tenaga sukarelawan, beberapa jasa tenaga parkir yang sudah tak asing dengan kegiatan sahabat difabel ikut turun ke jalan. Seolah dikomando, mereka memilih tugas sesuai kemampuan. Secara urut dan berderetan, ada yang menghentikan lalu lalang kendaraan. Kemudian para relawan mendorong difabel pengguna kursi roda mendekat, agar mudah menyerahkan bingkisan pada pengendara mobil, bis, motor ataupun truk yang lewat.

Beberapa nampak pula para relawan menuntun mereka yang kesulitan berjalan karena menggunakan kruk dan alat bantu lain untuk berjalan. Beberapa pengemudi becak ikut membantu karena semula hanya melihat para pengguna kursi roda berniat hendak menyeberang.

Sejumlah 200 bingkisan ta’jil dibagikan langsung oleh para difabel yang datang dan bergabung dalam kegiatan. Tak nampak lelah atau kepanasan dengan udara Semarang, peserta buka bersama kembali ke Roemah Difabel untuk melanjutkan kegiatan dengan tauziah dan renungan.

Tauziah disampaikan oleh Zaenal, difabel netra yang mengangkat tema Nikmat Di balik Penderitaan. Mengutip Qur’an surat Al- Insyirah yang menyatakan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, Ustadz Zaenal menjelaskan setiap kesulitan selalu satu paket dengan kemudahan.

Menurut Zainal, Al-Quran mengajarkan jangan pernah memandang kesulitan sebagai fokus yang kita rasakan, karena semakin kita bersyukur maka Allah swt akan menambah nikmat yang kita dapatkan. Di antara satu kesulitan pasti akan ada banyak kemudahan.

Berkisah tentang pengalaman yang ia dapatkan saat awal menjadi difabel netra, Zaenal menerangkan arti tiga hal tersebut. Dicabut raut muka atau kekuatannya mengartikan bahwa kita tidak akan menemukan orang yang kuat dan gembira saat mereka mendapat sakit atau ujian. Dicabut nikmatnya artinya kita tidak akan bisa menikmati rasa nikmat itu sendiri saat kita sedang diuji. Dan yang terakhir adalah pasti bahwa setiap dosa kita akan dihapuskan bila kita ikhlas menjalani ujian.

“Jadi kita harus ikhlas menjalani ujian hidup sebagai difabel karena dengan itu dosa-dosa kita dihapuskan. Sama-sama susah kita harus ikhlas menerima yang sudah terjadi, yang belum terjadi kita usahakan sekuat tenaga untuk tetap tawakal,” lanjutnya, menutup acara buka bersama dengan tauziahnya yang penuh makna, Ustadz Zaenal mengakhiri dengan doa (5/19).

Lega karena acara bisa lancar terselenggara, Reza, difabel cerebral palsy yang menjadi pembawa acara merasa terkesan karan juga terlibat di dalam kepanitiaan. Baginya acara ini sangat bagus karena menjadi bagian dari edukasi, bahwa difabel tidak harus dikasihani. “Kita hanya perlu diberi kesempatan agar  bisa mengaktualisasikan diri, sama dengan mereka yang non difabel,” ujar Reza tentang kegiatan yang diadakan.

Nun jauh di sana sayub-sayub adzan magrib telah bergema. Bersilaturhami dan berbagi dalam bulan Ramadhan telah membuahkan kebahagiaan untuk para difabel Semarang.

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

 

The subscriber's email address.