Lompat ke isi utama
Anak-anak SLB Swadaya sedang menari di hadapan peserta buka bersama

SLB B Swadaya, Berbagi Potensi Bersama UPGRIS

Solider.id, Semarang- (17/05) Sore tanpa hujan, Semarang tetap dengan hawa yang garang. Halaman SLB B Swadaya di Jalan Seteran Utara II/2 nampak para siswa hilir mudik berdatangan. Sekira 34 orang mahasiswa Universitas PGRI Semarang, prodi Bimbingan dan Konseling mata kuliah Anak Berkebutuhan Khusus, tengah mengadakan kunjungan.

Menyertai kunjungan tersebut, mereka mengadakan sebuah kegiatan lewat acara buka bersama. Dihadiri 37 siswa SLB B Swadaya dan para guru, mereka menunggu  waktu berbuka dengan menyalurkan kegiatan pentas bakat dan kemampuan.

Diawali dengan pantomim, pembacaan puisi dalam bahasa isyarat dan pertunjukkan tari Gambang Semarang, siswa-siswi SLB B Swadaya memperlihatkan ketrampilan.

Sebagai salah satu tugas dalam menempuh ujian akhir semester, Prayoga, mahasiswa semester IV yang ditunjuk menjadi ketua penyelenggara kegiatan menjelaskan acara ini diadakan demi menunjukkan pada masyarakat, bahwa anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki potensi.

“Sewaktu kami melakukan observasi para guru mengatakan bahwa banyak anak-anak yang berpotensi di SLB B swadaya. Karenanya dengan mengangkat tema “Menumbuhkan Kreatifitas Bakat Siswa”, kami ingin kegiatan ini menjadi ajang untuk menunjukkan potensi dan kreatifitas anak-anak berkebutuhan khusus sehingga kita dan masyarakat umum tahu anak berkebutuhan khusus punya bakat dan kelebihan,” tutur Prayoga (17/5).

Sumiyati Rochatun, Wali kelas 8 yang turut hadir dalam kegiatan dan menyaksikan anak didiknya tampil dalam sajian tari Gambang Semarang dengan bangga mengatakan. “Pada dasarnya saya sangat senang melihat anak didik memiliki bakat dan kemampuan yang sangat bagus. Mereka tidak hanya mampu secara akademik, tapi dalam kegiatan yang menuntut kreatifitas mereka juga mampu menguasainya,” ujarnya.

Sumiyati berharap setelah mereka lulus, mereka bisa mandiri dengan ketrampilan yang mereka miliki. Mandiri dalam arti mampu rawat diri, bisa berkeluarga, bisa bekerja sesuai dengan ketrampilan mereka.

Wulan, salah satu mahasiswi yang bertanggung jawab pada acara hiburan, menceritakan tentang kesan yang ia dapatkan selama ia bergaul dengan siswa-siswi SLB B Sawadaya Semarang.

“Menyenangkan bisa bersama mereka. Walaupun saya sempat merasa kebingungan cara berkomunikasi dengan mereka, tapi pada dasarnya mereka menerima kami dengan baik.” Mengaku ini pertama kalinya berinteraksi dengan difabel, Wulan berkata beberapa kendala bisa ia atasi dengan bekal dasar mata kuliahnya.

“Karena kami juga belajar bahasa isyarat meskipun hanya huruf-huruf dasar. Selama ini mata kuliah ABK juga belajar bahasa isyarat untuk memudahkan komunikasi. Jadi kami sama-sama saling belajar dalam hal ini. Melalui kegiatan ini kami berharap agar lain waktu bila bertemu dengan teman difabel kami bisa lebih saling menghargai dan menghormati. Bisa saling mengerti dan memahami dengan kondisi masing-masing.” Kegiatan diakhiri dengan doa bersama sesaat jelang berbuka.[]

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.